
"Setelah saya pikir-pikir, seperti kata Duke Evan, saya harus banyak makan untuk memulihkan tenaga agar segera pulih." Alaya yang sudah dalam posisi duduk, saling berhadapan dengan Evan, dipisahkan oleh meja makanan dorong, berusaha mengucapkan sesuatu untuk menutupi rasa canggung dan malunya karena pada akhirnya, dia tidak bisa bertahan dari godaan makanan enak yang tersuguh di depannya saat ini.
Melihat Alaya yang sepertinya lebih memilih untuk menikmati makanan itu daripada terus berpura-pura sakit dan tidak memiliki nafsu makan, membuat Evan justru ingin menggoda gadis cantik itu.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar pentingnya asupan gizi untuk pemulihan tubuhmu." Evan berkata sambil tangannya terulur ke depan, dan mengambil untuk Alaya sepotong kecil puding yang ada, dan menyodorkannya kepada Alaya yang sedikit terbeliak kaget, karena Evan hanya memberinya sepotong kecil puding, padahal dia begitu ingin menikmati semua makanan yang terseji di depannya, terutama lobster bakar madu yang sedari tadi sudah membuat mulutnya penuh dengan air liur.
Kenapa... sedikit sekali? Bahkan tidak sampai ke lambungku makanan itu pasti sudah akan menguap dan tidak memberikan efek kenyang bagi perutku.
Alaya berkata dalam hati dengan matanya yang tidak bisa lepas dari lobster bakar yang ada di atas meja makanan dorong, tepat di depannya.
"Ehem...." Melihat ekspresi wajah Alaya, Evan kembali berdehem pelan, membuat Alaya dengan cepat berusaha membuat sikapnya normal kembali.
"Kamu sedang demam dan batuk, meskipun butuh asupan gizi, tidak boleh mengkonsumsi terlalu banyak makanan manis dan pedas, nanti batukmu akan bertambah parah." Kata-kata Evan membuat Alaya hampir saja melongo dengan wajah protesnya, tidak terima dengan kata-kata Evan.
Tidak bisa seperti ini! Aku mau mencicip semua makanan itu! Sekarang aku tidak mungking mundur lagi, mata dan lambungku sudah terlanjur melihat dan menginginkannya.
__ADS_1
Alaya berteriak dalam hati dengan mata menatap tanpa berkedip semua makanan itu.
"Saya sudah jauh lebih baik karena banyak beristirahat tadi. Duke Evan lihat sendiri kan kalau beberapa waktu ini saya sudah tidak batuk lagi." Mendengar kata-kata Alaya, rasanya Evan ingin tertawa terbahak-bahak, namun dia berusaha menahannya dengan memunculkan sebuah senyum lebar di bibirnya.
"Ah, syukurlah kalau begitu, itu artinya pertemuan besok pasti berjalan lancar karena kamu sudah membaik, sehingga kita bisa segera pikirkan tanggal dan waktu yang tepat untuk kita bertunangan dan memilih tanggal pernikahan kita...." Dengan sikap tenang Evan mengucapkan kata-katanya yang membuat Alaya langsung menyadari kesalahan besar yang sudah dia lakukan, yang mau tidak mau membuat semua rencananya berantakan.
Dan yang pasti, dengan itu Alaya tidak bisa lagi melanjutkan sandiwara tentang penyakitnya yang awalnya dia harapkan bisa membatalkan pertemuan besok.
Upst! Celaka dua belas! Kenapa di depan duke Evan aku malah mengatakan kalau kondisiku sudah membaik? Kalau begini aku tidak akan memiliki alasan lagi untuk membatalkan pertemuan besok.
Alaya berkata dalam hati dengan penuh penyesalan, tapi apa daya dia sudah terlanjur mengucapkan hal itu di depan Evan yang masih memandangnya dengan senyum hangat di wajahnya.
Sudah terlanjur basah, lebih baik setelah pertemuan besok aku memikirkan cara lain untuk membuat duke Evan membenciku. Apalagi yang harus aku pikirkan? Yang pasti sekarang aku bisa menikmati semua makanan ini sepuasnya.
"Kalau kamu yakin dengan kondisimu yang sudah jauh lebih baik, ada baiknya kamu makan banyak makanan yang bergizi sehingga kondisimu semakin prima." Alaya langsung menganggukkan kepalanya dengan asal begitu mendengar nasehat dari Evan.
__ADS_1
Tidak perlu diingatkan, memang itu yang mau aku lakukan sekarang. Makan sepuasnya, menikmati semua masakan istimewa yang terlihat lezat itu. Karena sudah terlanjur gagal rencanaku, lebih baik aku nikmati saja semuanya dengan baik.
Alaya berkata dalam hati sambil tangannya mulai bergerak, mengambil makanan-makanan itu, memindahkannya dari piring saji ke piringnya untuk makan.
Enak...! Enak sekali! Ternyata duke Evan tidak bebohong padaku. Semua masakan ini, pasti dimasak oleh para koki yang profesional dengan bahan-bahan terpilih. Lain kali aku harus menanyakan kepada duke Evan siapa saja koki yang sudah menyajikan masakan selezat ini.
Alaya yang mulai menikmati makanan itu, berkali-kali memuji kehebatan para koki yang menyiapkannya.
Akhirnya... kamu mau makan juga. Meskipun tadi sakitmu hanya sekedar pura-pura saja, tapi aku khawatir jika dibiarkan kelaparan, kamu justru akan menjadi benar-benar sakit. Untung saja akhirnya kamu benar-benar tertarik dengan semua masakan itu. Kalau begitu... aku harus segera kambali ke markas, dan mengamati pergerakan dari putra mahkota Christopher dan juga putra mahkota Hector.
Evan berkata dalam hati dengan sikap puas, sambil bangkit berdiri dari duduknya.
"Aku harus pergi sekarang. Nikmati saja semuanya hingga puas, agar tubuhmu semakin prima, siap untuk acara besok." Perkataan Evan mau tidak mau membuat Alaya menghentikan makannya, dan mendongakkan kepalanya untuk memandang ke arah Evan yang sudah berdiri tegak di depannya, bersiap untuk pergi.
Duke Evan mau pergi sekarang? Hah! Kenapa baru sekarang berniat pergi? Benar-benar merepotkan. Harusnya dia pergi dari tadi, sehingga aku bisa terus berpura-pura sakit dan mencari alasan untuk membatalkan acara besok. Kalau sudah begini kan jadi berantakan semua rencanaku.
__ADS_1
Alaya langsung mengomel dalam hati sambil memandang ke arah Evan, yang menunjukkan dengan jelas sikap yang mengatakan agar Evan memang sudah seharusnya pergi sedari tadi.
Setelah itu dengan sikap tidak perdulinya, Alaya kembali melanjutkan makannya, dan tidak perduli jika Evan tersenyum geli melihat bagaimana Alaya terlihat begitu menikmati semua menu makanan enak yang sengaja dipesan Evan untuk mengalahkan Alaya dari permainan drama yang diciptakannya.