Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
TIDAK PERNAH BERJANJI


__ADS_3

Eh… kenapa dia bisa bersikap begitu tenang? Dia benar-benar seorang duke yang bisa membuat lawan bicaranya tidak berkutik dengan sikap tenangnya. Sikap tenangnya justru bisa mengintimidasi musuhnya dengan baik. Tidak heran dia menyandang status sebagai jenderal besar Gracetian. Sungguh hebat. Aku harus benar-benar hati-hati dalam menghadapi duke yang satu ini. Kenapa nasibku buruk sekali, harus berurusan dengan duke Evan dalam hidupku? Sungguh merepotkan....


Alaya kembali berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang, mulai merasa putus asa karena sepertinya tindakannya yang sembarangan dan luapan kemarahan yang dia tunjukkan pada Evan, tidak membuat Evan bergeming sama sekali, tetap bertahan dengan sikap tenangnya.


Padahal Alaya berharap dengan sikapnya yang masih jauh dari kata pantas sebagai seorang putri Gracetian, Evan akan mundur secara teratur dari rencana perjodohan itu.


Bagaimanapun, sebagai seorang duke dengan posisi tinggi sepertinya, dalam pemikiran Alaya, Evan pasti akan sangat berhati-hati dalam menentukan siapa calon istrinya, yang pastinya akan menyandang nama Carsten di belakangnya yang diharapkan disandang oleh seorang wanita yang tidak akan mempermalukan nama besar keluarga Carsten.


“Duke Evan sudah berjanji padaku untuk menolak rencana perjodohan kita yang diinginkan oleh yang mulia Alvero. Tapi kenapa justru pada akhirnya yang muncul di depan keluaraga kerajaan adalah pengumuman tentang rencana pertunangan kita? Yang artinya Duke Evan sudah menerima rencana perjodohan itu? Apa saya salah jika saya menganggap Duke Evan bersalah kepada saya dan sudah mengingkari janji Duke Evan pada saya?” Dengan suara sedikit rendah Alaya berkata, karena baginya percuma dia berkata dengan nada tinggi untuk menunjukkan emosinya, sedang Evan terlihat begitu tenang, dan tidak terintimidasi sedikitpun dengan sikap dan kata-kata pedasnya.


“Ooo… maksud Putri Alaya tentang pembicaraan yang kita lakukan kemarin di markas besar militer Gracetian?” Evan bertanya balik kepada Alaya yang hanya bisa terdiam tanpa menjawab pertanyaan balik dari Evan, karena tidak ingin emosinya kembali terpancing karena itu.


“Sepertinya ada salah faham diantara kita Putri Alaya. Salah faham yang perlu segera kita luruskan Putri. Dalam pertemuan kemarin, tidak sekalipun aku mengatakan persetujuanku untuk menolak rencana perjodohan kita. Kemarin aku hanya mengatakan bahwa... aku akan mempertimbangkannya. Apa Putri Alaya lupa dengan kata-kataku itu?” Evan mencoba mengingatkan kembali apa yang dibicarakan mereka berdua di kantor Evan kemarin.

__ADS_1


"Kalau Putri lupa dengan kejadian itu, aku bisa membantu Putri Alaya untuk mengingat hal itu. Mungkin malam ini aku bisa memberikan rekaman cctv yang ada di kantorku, dan Putri Alaya bisa mengecek sendiri apa yang sudah kita bicarakan kemarin. Aku merasa, aku tidak pernah mengucapkan janji untuk menolak rencana perjodohan itu." Evan kembali melanjutkan kata-katanya tanpa perduli dengan wajah Alaya yang memerah dengan mata terlihat terbeliak kaget, tidak menyangka dengan kata-kata Evan, yang memang 100 persen benar.


Akh….! Bagaimana bisa dia berkata seperti itu….


Rasanya saat ini Alaya begitu ingin berteriak sekeras-kerasnya dengan suara histeris, begitu mendengar kata-kata pembelaan dari Evan barusan yang bahkan diucapkannya dengan senyum manis tersungging di wajahnya, sedangkan emosi Alaya sudah di ubun-ubun rasanya.


Dan sayangnya, apa yang dikatakan oleh Evan, tidak bisa disanggah sama sekali oleh Alaya.


Memang benar kemarin Evan hanya mengatakan bahwa dia akan mempertimbangkannya, tidak menjanjikan akan menolak rencana Alvero.


Kata-kata Evan sungguh membuat tubuh Alaya tersentak kaget, tidak menyangka kalau pria di depannya saat ini, sungguh sangat sulit untuk dihadapi.


Ternyata tanpa sadar aku sudah meremehkan kehebatan duke Evan. Bertemu dengan duke Evan benar-benar seperti mimpi buruk untukku....

__ADS_1


Alaya hanya bisa menggeram dalam hati tanpa berani membantah kata-kata Evan.


"Kalau begitu, tolong batalkan persetujuan Duke Evan dengan yang mulia Alvero sebelum semuanya terlambat." Evan langsung tersenyum mendengar permintaan yang diucapkan Alaya dengan nada suara yang sudah kembali normal, karena gadis cantik itu sudah tahu dengan kemarahan yang ditunjukkannya, tidak akan mempan pada Evan.


"Tidak mungkin aku melakukan itu, karena sudah terlambat untuk itu. Seperti yang Putri Alaya lihat tadi, yang mulia Alvero sudah mengumumkannya di depan semua orang di meja makan istana. Jika tidak ada alasan yang cukup kuat, tidak mungkin yang mulia membatalkan ucapannya sebagai raja Gracetian. Lagipula...." Evan menggantung kata-katanya sejenak.


"Aku tidak berencana untuk membatalkan perjodohan kita. Bahkan yang mulia Alveropun, tidak akan bisa membatalkannya jika bukan aku sendiri yang meminta pembatalan itu. Dan seperti kataku, aku tidak ada niat untuk itu. Jadi lebih baik, mulai sekarang Putri bersiap untuk belajar dengan baik, karena sebentar lagi, status Putri akan menjadi seorang duchess, duchess Carsten." Kata-kata Evan membuat wajah Alaya semakin memerah karena kesal, tapi sadar dia tidak bisa melampiaskan kekesalannya pada pria tampan yang sedang berdiri tegak di hadapannya dengan jarak beberapa langkah.


"Duke Evan pasti akan menyesal dengan keputusan yang sudah Anda buat, karena saya bukan gadis yang layak untuk menjadi seorang duchess Carsten. Saya bukan seperti putri Gracetian yang bisa bersikap anggun dan juga terampil dalam banyak hal, terutama tentang tata krama sebagai seorang putri. Saya memiliki pemikiran bebas tidak seperti seorang putri Gracetian yang terikat dengan begitu banyak aturan yang sangat ketat." Dengan gamblang Alaya menyebutkan kejelekannya sendiri, berusaha untuk membuat Evan memikirkan lagi tentang perjodohan mereka.


Dan jika saja memungkin, Alaya ingin membuat Evan menyesal sudah menyetujui perjodohan mereka.


"Masalah itu...." Evan berkata sambil berlajan mendekat ke arah Alaya yang kali ini membiarkan Evan mendekatinya, karena dia sendiri saat ini sedang sibuk, berpikir keras untuk memikirkan rencana selanjutnya yang bisa dia lakukan agar Evan sendiri yang membatalkan rencana perjodohan itu.

__ADS_1


"Aku sendiri yang akan memutuskan, siapa yang akan menjadi istriku, dan apakah dia layak atau tidak.... Dan saat aku sudah menetapkan seorang gadis sebagai calon duchess untukku, tidak ada seorangpun yang boleh menilainya tidak layak untukku." Evan berkata lirih, tepat di dekat telinga Alaya yang tubuhnya langsung tersentak kaget dengan tindakan Evan, tapi sudah terlambat baginya untuk menghindar, karena saat ini, Evan sudah berada begitu dekat dengannya.


Tubuh Evan yang terbilang cukup tinggi, hampir 2 meter, tampak sedikit merunduk dengan wajah menoleh ke arah Alaya, dan bibirnya yang berada tepat di dekat telinga Alaya yang langsung memerah karena terpaan udara hangat dari bibir Evan yang berbisik padanya.


__ADS_2