Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
CIUMAN KEDUA


__ADS_3

Untuk sesaat pikiran Alaya menjadi tumpul dengan tiba-tiba karena ciuman yang diterimanya dari Evan, sebuah ciuman kedua yang pernah dia rasakan pada waktu dan situasi yang berbeda, meskipun yang melakukannya adalah pria yang sama, dan hingga saat ini, ciuman itu masih saja membuat dadanya bergetar hebat, dan membuat semua otot-otot di tubuhnya terasa lemas.


Tanpa terasa mata Alaya langsung terasa memanas, begitu dia mendapatkan ciuman dan Evan yang tidak disangka-sangka olehnya, yang membuat hatinya terasa begitu bergejolak, antara rasa rindu yang sudah begitu menumpuk di hatinya, juga rasa sakit yang ditorehkan Evan pada hati Alaya yang merasa sudah dikhianati oleh Evan.


Ciuman Evan membuat Alaya mengingat setiap kejadian indah yang dulu pernah dialaminya bersama Evan bertahun-tahun yang lalu, yang membuat Alaya begitu bahagia bisa mencintai dan mendapatkan cinta dari Evan, meskipun saat itu, pertemuan mereka dan hari-hari penuh cinta yang sempat mereka jalani hanya berjalan singkat, tidak lebih dari sebulan.


Tapi Alaya juga merasakan bagaimana sakitnya saat mengetahui Evan yang dianggapnya tidak memenuhi janjinya, dan menghilang begitu saja dari hidupnya tanpa pesan apapun.


Ciuman pertama yang pernah didapatkan Alaya dulu, adalah saat dia dan Evan harus berpisah.


Saat itu Evan harus kembali ke Gracetian, dan memberikan ciuman perpisahan sekaligus ciuman pertama bagi keduanya yang bagi Alaya menjadi kenangan yang sangat manis, yang terus dia ingat, sampai dia menghadapi kenyataan kalau Evan sudah tidak lagi mengingatnya sedikitpun ketika mereka bertemu lagi di Gracetian.


Bahkan saat Alaya mendengar dari beberapa orang bagaimana Evan yang sempat begitu mencintai Deanda, yang merupakan kakak ipar yagn begitu dikagumi dan disayanginya, membuat Alaya merasa Evan ingkar janji, karena sebelumnya Evan sudah berjanji untuk tidak memandang gadis lain selain dirinya.


Dan sekarang, ciuman kedua dari laki-laki yang sama, masih terasa lembut, manis dan memabukkan seperti yang diingat oleh Alaya, tapi rasa sakit karena ingatan tentang ingkar janji Evan kepadanya, membuat ciuman itu terasa begitu pahit dan menyesakkan dada Alaya, rasanya begitu menyakitkan untuk Alaya.

__ADS_1


"Mmmphhh...." Dengan gerakan sekuat tenaga yang dia miliki, Alaya segera melepaskan bibirnya dari bibir Evan, dan mendorong tubuh Evan dengan kedua telapak tangannya yang dengan sengaja menahan dirinya agar Alaya bisa melepaskan diri darinya.


Setelah itu dengan gerakan terburu-buru, Alaya langsung bergerak dengan cepat meninggalkan Evan sambil menghapus air mata yang sempat menggenang di sudut matanya, meskipun bvelum sampai terjatuh membasahi pipinya.


Evan sendiri langsung diam termenung seperti patung di tempatnya begitu dia merasa ada sesuatu yagn aneh yang terjadi saat mencium Alaya tadi.


Awalnya Evan hanya ingin menggoda Alaya, sedikit memberikan pelajaran pada Alaya yang sudah berani mengerjainya dengan memberikan teh jenis earl grey yang sangat dibencinya, disempurnakan dengan bubuhan garam di dalamnya, yang membuat rasanya semakin berantakan dan tidak enak sama sekali bagi Evan.


Sebenarnya Evan hanya ingin menggoda Alaya dengan pura-pura berniat mencium bibir gadis itu, tapi entah kenapa, dalam waktu yang sangat singkat, tiba-tiba saja ada sesuatu dorongan yang begitu kuat, yang begitu mendesak di dada Evan, membuat Evan benar-benar mencium Alaya tanpa berpikir panjang, tanpa bisa mengendalikan dirinya, seolah dia sudah sangat lama merindukan bibir itu.


Dan jika saat ini Evan termenung setelah mencium bibir Alaya, bukan karena dia menyesal, tapi dia seperti disadarkan dari tidur panjangnya, bahwa rasa manis dan sesasi hangat dan membahagiakan saat dia mencium bibir Alaya tadi, terasa tidak asing bagi Evan.


Selain ingatan yang begitu kabur, hanya perasaan pernah merasakan kejadian seperti itu, saat ini justru hati Evan ikut merasa begitu sakit begitu melihat airmata yang tadi sempat menggenang di ujung mata Alaya, seolah rasa sakit Alaya, sudah menjadi bagian dari rasa sakitnya juga.


Apa aku begitu menyakiti perasaan my princess? Sebegitu bencikah Alaya padaku? Tapi kenapa? Apa salahku?

__ADS_1


Dengan menahan sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya, Evan bertanya-tanya dalam hati, karena wajah Alaya yang terlihat begitu menyedihkan tadi, baginya sangat membuatnya tidak tenang dan tidak rela.


Bagi Evan yang sadar kalau dia mulai jatuh cinta pada Alaya, lebih baik dia melihat wajah kesal ataupun marah dari Alaya, tapi tidak dengan wajah sedih Alaya, yang membuat hatinya ikut merasa sedih.


Apa yang terjadi denganku? Aku dan my princess... apa ada sesuatu yang pernah terjadi diantara kami dan terlupakan olehku? Tapi kenapa aku bisa melupakan kenangan sepenting itu dalam hidupku? Atau ini hanya sekedar khayalanku saja? Karena aku begitu menikmati lembutnya bibir my princess sehingga pikiranku jadi kacau? Bahkan aku sempat mengira kalau aku pernah mencium my princess sebelumnya? Padahal dalam ingatanku jelas terpatri, aku belum pernah mencium gadis manapun seumur hidupku.


Berbagai pertanyaan muncul dalam hati Evan yang berusaha keras untuk mengingatnya, sambil memegang dadanya yang berdegup dengan kencang karena apa yang terjadi barusan.


Meskipun akhirnya Evan harus menyerah, karena seberapun keras usahanya untuk mengingat, dia tidak bisa mengingat dengan jelas, hanya begitu samar, dan tidak meyakinkan baginya, apa benar itu sebuah ingatan, atau hanya angan-angannya dan khayalannya.


Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus segera membereskan semua ini, dan mencari tahu apa yang sudah terjadi sebenarnya. Dan aku, tidak akan membiarkan my princess lepas dariku, atau aku akan menyesal seumur hidupku. Aku tidak akan membiarkan dia menjauh dari hidupku. Tidak perduli apa yang sudah terjadi padaku di masa lalu, aku yakin, aku harus secepatnya membawa my princess ke sampingku atau dia akan menghilang dengan beribu macam cara yang sudah dia siapkan untuk itu.


Tanpa sadar Evan berkata dalam hati dengan sikap khawatir, kalau-kalau Alaya akan memilih pergi menjauh darinya.


*Aku rasa... aku bukan saja sekedar menyukai dan tertarik pada my princess. Sepertinya, aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya, bahkan mungkin... aku sudah benar-benat tergila-gila padanya, dan rela melakukan apa sa*ja asal dia bisa menjadi milikku selamanya.

__ADS_1


Evan berkata sambil mengusap pelan bibirnya yang tadi sudah mencium bibir Alaya, dimana rasa lembut, manis, menggairahkan dan juga membuat pikirannya melayang tidak juga bisa dia lupakan, meskipun ciuman itu hanya berlangsung beberapa detik, sebelum Alaya memberontak dan melepaskan diri darinya dengan tatapan sedihnya.


Setelah berpikir sejenak untuk apa yang bisa dia lakukan agar bisa menghalanginya Alaya untuk pergi darinya, Evan segera bergegas menyusul yang lain ke tempat dimana mereka sedang menikmati jamuan makan siang bersama dengan Alvero dan keluarga Adalvino yang lainnya.


__ADS_2