Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MENGIKUTI KEPERGIAN ALAYA


__ADS_3

"Aku akan berusaha menjelaskan padanya dengan pelan-pelan. Sekarang aku harus pergi untuk memastikan kondisinya baik-baik saja." Evan berkata sambil dengan gerakan tibat-tiba mencium kedua pipi Danella secara bergantian.


"Aku pergi dulu. Secepatnya... aku akan berusaha untuk segera membawa pulang menantumu." Evan berbisik pelan di telinga Danella yang dengan cepat menggerakkan tangannya ke punggung Evan dan mendorongnya keluar dari pintu rumah.


"Kalau begitu, cepat bawa dia kembali ke rumah ini. Dan bilang padanya agar segera memberikan cucu-cucu untukku." Danella berkata dengan nada bercanda, dan candaan itu membuat Evan langsung meringis geli.


“Begitukah?”


“Iya Evan. Itu pasti. Sudah lama mama ingin mendengar suara tangisan bayi lagi. Kamu tahu sebenarnya mama ingin lebih dari satu anak, tapi kondisi mama tidak memungkinkan. Bisa memilikimu saja merupakan sebuah keberuntungan besar bagiku saat itu.” Pertanyaan singkat Evan langsung dijawab dengan sebuah senyuman bangga Danella saat menatap ke arah Evan, putra satu-satunya yang begitu dibanggakannya sejak dulu.


“Pokoknya kamu harus membuat menantu mama tidak salah paham, apalagi marah. Kamu harus bisa membuat Alaya menerima pernikahan kalian berdua dengan hati besar.” Danella berkata dengan nada penuh harap.


“Baik, sesuai permintaan Mama… aku akan berusaha keras untuk itu. Doakan saja semua urusanku dengan Alaya segera beresndan berakhir dengan baik…..”


“Pasti. Pernikahanmu adalah hal yang paling mama tunggu selama beberapa tahun ini, dan sekarang, cucu adalah hal yang paling mama inginkan dari kalian berdua.” Dengan santainya Danella memotong perkataan Evan yang tanpa sadar membuat Evan sedikit menelan ludah setiap Danella menyebutkan tentang cucu, sedang Alaya saja masih begitu marah padanya.


“Aku pergi dulu Ma.” Akhirnya Evan buru-buru berpamitan kepada Danella sebelum mamanya itu terus membicarakan tentang masalah cucu dengannya yang membuatnya justru merasa kikuk dan salah tingkah.


Hah, ternyata dimanapun seorang mama sama saja sikapnya. Awalnya ingin anaknya segera menikah, setelah itu pasti juga segera menginginkan cucu untuknya.


Evan berkata sambil berjalan dengan langkah lebar ke arah mobil yang biasa dikendarainya, setelah tangannya memberikan tanda kepada pengawal yang sedang berjaga di pintu masuk agar memanggilkan sopir lain untuknya, karena Sam sedang tidak ada di sana.

__ADS_1


Saat sudah berada di dalam mobilnya, Evan segera berusaha menghubungi Sam.


# # # # # #


“Taxi!” Begitu berhasil keluar dari area tempat kediaman Evan, Alaya segera mencegat taxi kosong yang kebetulan lewat di jalana depan tempat kediaman Carsten milik Evan.


Begitu taxi itu berhenti, Alaya segera membuka bagian belakang pintu taxi itu, tanpa menyadari di balik gerbang tempat kediaman Evan, Sam sudah siap dengan mobil yang dikendarainya untuk bisa mengikuti kemanapun Alaya pergi.


“TG 201 A.” Sam berkata lirih begitu melihat plat nomer taxi yang sedang ditumpangi oleh Alaya tersebut.


“Pak.... ke hotel Tavisha.” Alaya yang baru saja membuka pintu taxi dan duduk di dalam bangku penumpang langsung memberikan petunjuk arah kemana tujuannya pergi.


“Baik Nona…. Eh… apa Nona adalah Putri Alaya?” Pengendara taxi itu segera bertanya dengan mata membulat setelah menoleh dan melihat seperti apa wajah penumpangnya kali ini.


“Baik Putri… kemanapun Anda ingin pergi, sejauh apapun, saya akan dengan senang hati mengantar putri.” Dengan wajah terlihat bangga dan masih tidak percaya, sopir taxi itu segera berkata kembali kepada Alaya.


“Tapi Putri, kenapa Putri mau ke hotel Tavisha? Dan tidak ada seorangpun yang mengantar Putri? Bukannya tadi sepertinya putri berada di kawasan kediaman Duke Evan Carsten, calon suami Putri?” Dengan nada penasarannya sopir taxi itu bertanya, sengaja untuk membuat dia bica menceritakan pengalamannya menjadi sopir taxi Alaya sebagai putri Gracetian dan mengobrol dengan putri cantik itu.


Aduh, jeli juga sopir taxi ini. Aku harus bisa menjawab dengan bijaksana agar tidak membuat masalah ke depannya.


Alaya berkata dalam hati sambil berpikir dengan cepat, jawaban tepat apa yang bisa dia berikan pada sopir itu.

__ADS_1


“Ah, bukannya hotel Tavisha adalah salah satu usaha milik Grup Adalvino, milik yang mulia Alvero? Yang mulia sedang memberikan perintah padaku untuk mengecek kinerja para karyawan hotel Tavisha.” Jawaban Alaya membuat sopir taxi itu tersenyum, karena dia baru sadar apa yang dikatakan oleh Alaya memang benar, dan lagi, Alaya juga diketahui oleh masyarakat umum, memang bekerja juga di perkatoran Adalvino, jadi masuk akal sekali Alvero memberikan perintah padanya seperti itu.


“Kalau masalah kediaman keluarga duke Carsten tadi memang aku tadi pergi di saat semua orang yang bertugas sopir sedang sibuk melakukan jobnya sendiri-sendiri, sedang aku harus segera ke hotel Tavisha sekarang.” Alaya melanjutkan alasannya pergi ke hotel tanpa diantar sopir dan dikawal oleh oleh siapapun sedangkan dia terlihat di kawasan kediaman Evan.


“Ooo, iya Putri. Tapi… Putri beruntung bertemu dengan saya, bukan dengan orang lain. Putri seperti Anda, sangat berbahaya keluar dari istana sendirian tanpa pengawalan.” Sopir itu berkata sambil menyunggingkan senyum bangga, seolah dia adalah penyelamat bagi Alaya.


“Tenang saja Pak, aku bisa menjaga diriku dengan baik. Dan aku percaya, orang baik, pasti akan dipertemukan dengan orang baik, seperti Bapak contohnya.” Pujian Alaya padanya membuat senyum bangga sopir taxi itu semakin lebar.


# # # # # # #


“Segera lakukan penyelidikan tentang taxi dengan plat nomer TG 201 A. Berikan semua info detail tentang pengendara taxi tersebut, beserta dengan info nomer handphone yang dia miliki.” Tanpa menunggu lama, di sisi lain Sam segera memberikan perintah kepada anak buahnya untuk menyelidiki tentang pengendara yang sedang mengantar Alaya pergi itu.


“Baik Earl Sam.” Orang yang mendapatkan tugas dari Sam itu segera menjawab perintah Sam.


Baru saja Sam memutuskan panggilan telepon dengan orang yang diberinya perintah, sebuah nada dering panggilan masuk terdengar di handphone Sam, dan orang yang sedang berusaha untuk menghubunginya itu ternyata adalah Evan.


“Selamat pagi Duke Evan.” Dengan suara terdengar tegas dan penuh rasa hormat, Sam segera menjawab panggilan telepon dari Evan.


“Apa semua baik-baik saja Sam? Apa yang sedang dilakukan putri Alaya sekarang ini?” Evan langsung bertanya pada Sam yang matanya terus mengamati Alaya, yang sedang berada dalam sebuah taxi di depannya.


“Putri Alaya sedang berada di dalam sebuah taxi, entah kemana Putri Alaya akan pergi, sepertinya sedang menuju ke tengah kota Tavisha. Saya sudah memberikan perintah kepada yang lain untuk menyelidiki siapa sopir taxi yang membawanya.” Sam segera memberikan laporannya kepada Evan.

__ADS_1


“Baik. Kalau begitu tetap awasi putri Alaya dengan baik, jangan sampai kehilangan jejaknya. Sebentar lagi aku akan sampai di posisi tempat kamu berada. Jika ada perkembangan lain sebelum aku menyusulmu, segera infokan kepadaku secepatnya.” Evan mengakhiri pangggilan teleponnya dengan Sam, sambil menepuk bahu sopirnya dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah mana dia ingin sopir itu membawanya ke tempat Sam.


__ADS_2