Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
WAKTU YANG SINGKAT


__ADS_3

“Bagaimana dengan duke Evan sendiri? Pendapat mana yang menurut Duke Evan paling masuk akal dan tepat, yang akan dipakai oleh Duke Evan?” Mendengar berbagai pendapat dari yang hadir itu, akhirnya Alvero bertanya langsung kepada Evan, karena pada dasarnya, ini memang tentang Evan dan Alaya.


Sedangkan anggota keluarga yang lain hanya bisa mendukung mereka dan memberikan bantuan untuk menyiapkan pesta pertunangan dan pernikahan mereka berdua.


Selain itu, Evan yang merupakan pimpinan paling tinggi dan paling berpengaruh dari keluarga Carsten sendiri, saat dia mengucapkan sesuatu, bisa dipastikan tidak akan ada satupun diantara anggota keluarga Carsten yang lain yang akan berani mempertanyakan atau menentang jawaban dari Evan, yang posisinya di tengah-tengah keluarga Carsten seperti seorang raja bagi mereka.


Untuk keluarga Adalvino, jika Alvero sudah buka suara dan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Evan, anggota keluarga yang lain pasti akan ikut dengan keputusan Alvero tanpa ada pertanyaan untuk itu.


Andai saja memungkinkan.... Jika saja bisa, besok bertunangan denganmu, dan minggu depan kita bisa menikah, aku sama sekali tidak keberatan. Sayangnya, kedua keluarga besar kita pasti menentangnya jika aku mengatakan hal mustahil seperti itu. Mereka pasti ingin mempersiapkan semua yang terbaik untuk acara pertunangan dan pernikahan kita. Dan itu pasti akan butuh waktu tidak sebentar.


Setelah mendengar pertanyaan Alvero, Evan berkata dalam hati sambil memandang ke arah Alaya dengan tatapan hangat.


Evan tahu, jika pikirannya saat ini tentang keinginannya untuk segera menikah dengan Alaya, sungguh bertentangan dengan sifatnya yang tidak pernah terburu-buru dalam melakukan segala sesuatu.


Pemikiran untuk segera mendapatkan Alaya untuk dirinya, merupakan pemikiran yang aneh bagi diri Evan yang terbiasa hidup teratur dan terjadwal.

__ADS_1


Sebagai Evan yang biasanya, dia tidak akan mungkin mau terburu-buru dalam memutuskan segala sesuatu, apalagi sebuah pernikahan yang boleh dikata adalah keputusan yang sangat besar untuknya.


Tapi entah kenapa, Evan merasa beberapa waktu ini semakin ingin mengikat Alaya secepatnya, seolah dia tidak ingin kehilangan sosok gadis itu.


Ada suatu perasaan takut kehilangan Alaya yang kadang menelusup di hati Evan, seolah-olah, dia pernah kehilangan Alaya dalam perjalanan hidupnya di masa lalu, hanya saja, Evan selalu menepis perasaan aneh itu, karena dia merasa sebelumnya dia belum pernah mengenal Alaya.


Kadang Evan juga merasakan perasaan dekat dengan Alaya, seolah-olah mereka sudah lama saling mengenal, dan sudah lama memiliki perasaan saling mencintai satu sama lain.


Evan bisa merasakan bahwa sosok Alaya, merupakan sosok yang tidak asing baginya, meskipun hingga saat ini, Evan tidak bisa menjelaskan, bagaimana bisa dia memiliki kesan seperti itu terhadap Alaya yang baru dikenalnya kurang dari sebulan.


“Jika menurut Yang Mulia tepat, saya berharap bulan depan saya bisa bertunangan dengan putri Alaya. Dan maksimal 2 bulan lagi dari sekarang, saya ingin melangsungkan pernikahan kami.” Entah apa yang ada di pikiran Evan, tiba-tiba, dia meminta waktu pertunangan sekaligus pernikahan begitu dekat, membuat Alaya hampir saja memelototkan matanya kepada Evan di depan orang banyak.


Sebagian besar dari orang yang hadir di tempat itu juga menunjukkan rasa kaget mereka karena permintaan Evan, yang awalnya justru dipikir mereka akan meminta waktu lebih panjang dari yang dianjurkan oleh Alvero untuk menunda pertunangan  dan pernikahannya dengan Alaya.


Sebulan bertunangan dan dua bulan kemudian menikah dengan duke Evan? Itu benar-benar akan menjadi mimpi buruk untukku. Bisa-bisanya orang itu meminta waktu sedekat itu? Benar-benar membuat kesal! Awas saja nanti! Begitu ada kesempatan, aku akan membuat gara-gara dengannya!

__ADS_1


Alaya berteriak dalam hati dengan wajah kesal yang berusaha dia sembunyikan, meskipun Alvero bisa melihat itu dengan jelas.


Tidak seperti duke Evan yang aku tahu sebelumnya, sepertinya dia begitu tidak sabar untuk menikah dengan Alaya. Padahal biasanya duke Evan akan benar-benar berhati-hati dan bersikap sangat tenang saat memutuskan segela sesuatu, tidak pernah bersikap tidak sabaran seperti hari ini. Meskipun terasa sedikit aneh, tapi bagiku itu tidak akan jadi masalah. Justru itu akan membuat pria lain menghentikan niatnya untuk mendekati Alaya.


Alvero mencoba mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Evan dalam hati, karena sebagai seorang raja, dia sendiri harus bisa dengan bijak memutuskan segala sesuatu, jangan sampai keputusannya berdampak buruk terhadap sekitarnya, baik itu terhadap negara Gracetian, ataupun Alaya yang akan menjalani pernikahannya seumur hidup dengan Evan.


Meskipun Alvero tahu Evan adalah kandidat paling baik dan paling sempurna untuk calon suami bagi Alaya, tapi Alvero tahu dia juga harus mempertimbangkan kesiapan dan kebahagiaan Alaya juga sebagai adik kandungnya.


Untuk beberapa saat Alvero memandang ke arah Evan, bertepatan dengan Evan yang sedang melirik ke arah Alaya dengan diam-diam, sambil menahan senyum di bibirnya.


Dan dari apa yang dilihat Alvero pada Evan, Alvero bisa merasakan perasaan tulus Evan pada Alaya. Bahkan bukan hanya perasaan tertarik atau sekedar terpesona pada Alaya….


Akan tetapi Alvero bisa menangkap adanya aura melindungi dan rasa cinta yang kuat, yang terpancar dari tatapan Evan saat pria berambut emas itu saat mencuri pandang, melihat ke arah calon istrinya itu.


Hal itu membuat Alvero semakin yakin, untuk memenuhi permintaan Evan tanpa perlu ragu-ragu, tentang waktu yang begitu singkat untuk pertunangan dan pernikahan antara Evan dan Alaya, meskipun kesannya bagi orang luar mungkin itu terlihat terlalu terburu-buru bagi dua orang yang baru saling bertemu.

__ADS_1


__ADS_2