
Mau tidak mau, senyum manis yang diperlihatkan Evan kepadanya saat ini, membuat Alaya sedikit tertegun sekaligus terpaku di tempatnya.
Alaya sadar betul, bahkan sampai saat ini, tidak pernah sekalipun Alaya pernah melupakan senyum manis dan hangat dari Evan, yang selalu tersungging saat mereka berdua bertemu.
Entah sekarang, entah di masa lalu, bagi Alaya, senyum itu masih saja sama, selalu membuatnya terpesona dan seperti terhipnotis, membuatnya sulit untuk tidak terus menatap ke arah wajah laki-laki tampan itu.
Alaya! Jangan tergoda dengan senyum manisnya, sebaiknya aku segera menyingkir dari tempat ini dan membuat teh istimewa untuknya.
Alaya segera mengingatkan dirinya sendiri begitu mata dan hatinya mulai tergoda kembali oleh sosok Evan, yang sampai detik ini masih menjadi satu-satunya pria pemilik hatinya.
# # # # # # #
“Putri Alaya… apa daun tehnya tidak terlalu banyak? Jenis teh earl grey sudah menjadi teh yang dibenci duke Evan tanpa Putri Alaya harus menambahkan komposisi dauh teh yang diseduh.” Alea yang meihat Alaya mencampurkan daun teh jauh lebih banyak dari takaran yang seharusnya, mencoba untuk mengingatkan Alaya.
Karena bagaimanapun, bagi Alea, tindakan Alaya yang berniat membalas Evan dengan memberikan jenis teh yang dibenci oleh Evan sebenarnya sudah sangat beresiko, apalagi jika Alaya justru menambah-nambahkan seperti itu.
“Tenang saja Alea, biar dia bisa merasakan kemarahanku melalui teh ini.” Tanpa perduli dengan apa yang dikatakan oleh Alea, Alaya tetap pada pendiriannya untuk membuat takaran daun teh yang diseduh menjadi dua kali lipat dari biasanya.
__ADS_1
Dan gerakan terakhir dari Alaya yang menambahkan sedikit garam pada teh itu, membuat mata Alea benar-benar terbeliak kaget dengan wajah tidak percayanya.
“Putri… apa perlu sampai seperti itu?” Alea langsung menyatakan ketidaksetujuannya, tidak perduli lagi meskipun mungkin tindakannya dianggap tidak sopan oleh orang lain, bahkan Alaya sendiri.
Hah! Kenapa sih Alea heboh sekali? Padahal aku masih berbaik hati, hanya menambahkan sedikit sekali garamnya, padahal seharusnya aku menambahkan satu sendok teh sekalian.
Alaya berkata dalam hati sambil menarik nafas panjang.
Awalnya memang Alaya berencana menambahkan cukup banyak garam pada teh buatannya, tapi hatinya, yang sampai detik ini masih begitu mencintai Evan, pada akhirnya tetap saja tidak tega jika dia terlalu mengerjai Evan, sehingga pada akhirnya hanya sedikit saja garam yang ditambahkan oleh Alaya ke dalam air seduhan teh earl grey yang dibuatnya.
Meskipun rasa sakit yang dirasakan oleh Alaya karena ingkar janji Evan padanya, tapi cintanya pada Evan tetap membuatnya tidak bisa seratus persen bertindak tidak perduli, apalagi bersikap kejam terhadap Evan.
“Aku sudah siap, Cepat panggilkan pelayan untuk membantuku membawa air seduhan teh eatrk grey ini.” Alaya berkata sambil melirik ke arah air seduhan teh dalam teko yang cukup membuatnya puas, dan beraharap itu akan membuat Evan marah dan kesal padanya.
"Biar saya saja yang membawanya untuk Putri." Alea segera menawarkan diri agar yang lain tidak disalahkan jika terjadi apa-apa.
"Terserah kamu saja kalau begitu." Alaya berkata sambil melirik ke arah teh yang sudah diseduhnya tadi.
__ADS_1
Kita lihat saja, seberapa buruk wajah duke Evan setelah dia menikmati teh spesial dariku ini. Aku harap dia benar-benar marah dan langsung membatalkan rencana pertunangan kami berdua.
Alaya kembali berkata dalam hati sambil melirik ke arah Alea yang masih berdiam diri di tempatnya sambil tertegun dengan wajah bingungnya, tidak menyangka kalau Alaya akan berbuat senekat itu pada Evan, yang jelas-jelas memiliki status dan kedudukan jauh lebih tinggi dari Alaya, meskipun raja Gracetian saat ini adalah kakak kandungnya.
“Ayo pergi sekarang Alea. Jangan biarkan mereka menunggu kita terlalu lama. Aku juga berharap ini segera berakhir dan kehidupanku bisa kembali damai seperti sebelum munculnya si Krisis dan duke Evan yang merusak semua hal tentang masa depanku.” Alaya berkata dengan nada sinis, membuat Alea hanya bisa terdiam tanpa berani membantahnya kembali.
Aku benar-benar tidak berani membayangkan bagaimana reaksi duke Evan, apalagi membayangkan murkanya yang mulia Alvero kalau tahu tentang apa yang sedang direncanakan oleh putri Alaya, karena tindakan Putri Alaya ini bisa dianggap sebagai bentuk pemberontakan yang bisa mempermalukan keluarga Adalvino. Semoga semua baik-baik saja. Ya Tuhan… kira-kira apakah ada cara supaya putri Alaya tidak meneruskan aksinya? Benar-benar mengerikan….
Alea hanya bisa berdoa dalam hati, berharap semuanya baik-baik saja.
Belum lagi… aku yang membawa teh ini, bisa saja menjadi sasaran kemarahan duke Evan dan yang mulia Alvero karena dianggap ikut bekerjasama dengan putri Alaya untuk mengerjai duke Evan. Aduh…. Nasibku… harusnya aku meminta pada Deanda agar bisa terus menjadi pengawal pribadinya saja sampai Tuan Ernest sembuh, dan menyatakan keberatanku untuk membantu putri Alaya.
Alea kembali berkata dalam hati dengan sikap khawatirnya.
“Alea, perhatikan jalanmu dengan baik.” Alaya langsung menegur Alea yang karena melamun dengan pikiran galau hampir saja terpeleset dan menyebabkan teh dalam teko yang dipegangnya tergelincir dari atas nampan yang sedang dipegangnya.
“Ah… maaf Putri Alaya.” Dengan suara terdengar ragu, Alea segera meminta maaf.
__ADS_1
Akhirnya sepanjang perjalanan kembali ke ruang tamu istana, Alea memilih untuk diam sambil terus berdoa dalam hati agar dia tidak menjadi sasaran kemarahan Evan maupun Alvero jika mereka tahu tentang apa yang dilakukan oleh Alaya terhadap teh yang seharusnya untuk menunjukkan rasa hormat Alaya pada Evan sebagai calon suaminya.