Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
MALL TAVISHA


__ADS_3

"Memang kenapa dengan kecelakaan itu? Aku tahu Evan memang pernah mengalami kecelakaan yang cukup parah waktu itu, tapi sampai sekarang, aku tidak melihat ada yang aneh pada Evan. Apa kamu sedang berpikir dia mengalami amnesia? Tapi saat kami berbincang, bahkan tentang masa lalu, tentang banyak hal yang terjadi sebelum dia mengalami kecelakaan itu, dia bisa mengingatnya dengan baik kok." Alvero berkata sambil menggerakkan kembali tangannya, menyingkirkan laptop dan foto-foto itu ke atas nakas.


“Aneh sekali ya my Al. Bagaimana bisa seseorang melupakan orang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, sedangkan tidak dengan hal lain. Dan sikap Evan yang tidak mengenali Alaya ketika pertama kali bertemu Alaya waktu itu terlihat jelas kalau itu tidak dibuat-buat oleh Evan.” Kata-kata Deanda membuat Alvero menarik nafas panjang sambil merengkuh bahu Deanda dalam pelukannya.


“Aku akan meminta Ercih dan Ernest untuk membantu menyelidiki kasus ini. Memang hal itu terlihat aneh sekali. Seperti katamu tadi, meski pernah ada luka yang disebabkan oleh sebuah perpisahan, tetap saja jika orang itu pernah menjadi bagian dari hidup kita, pasti kita akan mengingatnya.” Alvero berkata sambil teringat tentang Larena maupun Eliana.


Bagaimanapun dia tidak pernah melupakan dua wanita yang pernah ada di kehidupannya itu meeskipun satu diantaranya memberikan kenangan yang menyakitkan dan buruk dalam hidupnya.


"Ah... dulu Evan pernah mengatakan padaku, kadang dia masih merasakan sakit di kepalanya saat berusaha mengingat beberapa kejadian sebelum dia mengalami kecelakaan itu." Deanda langsung menjawab pertanyaan Alvero.


"Isttt, ternyata Evan memang hobi sekali menceritakan masalah pribadinya padamu. Benar-benar mencari perhatianmu saja, dia itu...." Lagi-lagi, meskipun apa yang dikatakan oleh Deanda tidak menunjukkan adanya perasaan khusus antara Deanda kepada Evan, tetap saja hal sekecil itu membuat Alvero merasa hatinya panas.


"Jangan marah my Al, kan sudah aku bilang kalau.... mmphh...." Perkataan Deanda langsung terhenti begitu Alvero membungkam bibirnya, bahkan langsung bergerak cepat melumm... mat bibir Deanda dengan penuh gairah seperti biasanya.


"Aku tahu... tapi rasanya masih kesal setiap mengingat dulu Evan pernah menyukaimu dan bahkan pernah ingin meminta ijin padaku untuk bisa menikahimu." Deanda hanya bisa meringis mendengar keluhan dari Alvero yang baginya justru terdengar menggelikan.


“Sudah… jangan diingat-ingat lagi my Al. Kan sudah berlalu….”


“Tapi….”

__ADS_1


“Hustt…” Deanda langsung mencegah Alvero untuk meneruskan kata-katanya.


“Sekarang Evan dan Alaya sudah menikah. Yang penting, sekarang kita harus mengetahui apa yang terjadi pada mereka berdua di masa lalu. Karena aku sungguh berharap, pernikahan mereka bisa seindah dan sebahagia pernikahan kita, seperti sekarang ini.” Deanda mengakhiri kata-katanya dengan sedikit mendongakkan kepalanya, hingga dia bisa mengecup leher Alvero yang sedang duduk berselonjor tepat di sampingnya, dengan posisi tangan melingkar di bahu Deanda.


Tindakan mesra Deanda itu, tentu saja seperti membangunkan singa tidur, membuat tanpa menaggapi kata-kata Deanda, Alvero langsung membalas apa yang dilakukan Deanda padanya, bahkan lebih intens dan bergairah, membuat Deanda tersenyum lebar melihat bagaimana mudahnya memancing hasrat laki-laki tercintanya itu.


# # # # # # #


“Sungguh membosankan. Kenapa duke Evan tidak juga menemuiku? Padahal aku sudah menyiapkan rencana yang matang untuknya dan menunggunya untuk memberikan dompet dan hanpdhoneku, yang pasti ada di tanganya sekarang.” Alaya berkata dalam hati sambil melihat ke arah pakaian yang dikenakannya dengan wajah puas.


Pakaian yang dikenakan Alaya sekarang adalah pakaian yang justru terkesan santai, berupa t shirt dan celana jeans tiga perempat, dengan panjang di bawah lutut, karena sebagian besar pakaiannya sudah dipindahkan ke rumah Evan, dan kebetulan pakaian-pakaian yang dipindahkan itu adalah pakaian-pakaian yang disukai oleh Alaya, termasuk jenis pakaian yang biasa dikenakannya sehari-hari bukan untuk acara resmi.


Begitu Alaya menghubungi Alea, teman dekat Deanda yang  berasal dari Goldie Tavisha itu segera menawarkan untuk mengirimkan barang-barang pribadi Alaya, termasuk pakaian dan sepatunya, begitu Alaya menceritakan bagaimana dia langsung melarikan diri dari kediaman duke Evan tanpa berpikir bahwa saat itu dia hanya mengenakan pakaian dan sandal seadanya.


Selain barang-barang pribadi Alaya, atas perintah Deanda yang mengetahui kalau Alaya menghubungi Alea, Deanda meminta agar Alea membawakan sejumlah uang tunai untuk diberikan Alaya, agar dia bisa berjaga-jaga sampai dompet dan handphonenya kembali.


“Kak Deanda memang yang terbaik. Beruntung sekali kak Alvero bisa menikah dengannya. Coba kalau kak Alvero menikah dengan gadis lain seperti putri Desya, bisa celaka dua belas aku sebagai adik iparnya. Pasti kak Alvero akan bertambah keras kepala dan tidak mau perduli dengan orang lain.” Alaya bergumam pelan sambil memasukkan dompet berisi uang tunai yang diberikan Deanda padanya melalu Alea.


Sebelum benar-benar masuk ke kalangan istana, dan orang lain belum mengenalinya, Alaya memang sempat menggali banyak info tentnag kehidupan di dalam istana, sehingga mengethui kisah bagaimana terobsesinya Desya terhadap Alvero, dan Dion terhadap Deanda.

__ADS_1


“Sebaiknya aku keluar untuk mencari udara segar dan membeli beberapa pakaian lagi, daripada harus terus mendekam di hotel tanpa ada yang bisa aku lakukan. Tidak ada handphone di jaman sekarang ternyata memang benar-benar merepotkan.” Alaya kembali bergumam sambil berjalan menuju pintu keluar kamarnya.


# # # # # # #


Salah satu mall terbesar di kota Tavisha yang sekarang sedang dikunjungi oleh Alaya, bukan hanya sekedar mall, karena di area mall itu terdapat tempat wisata berupa museum yang di dalammnya terdapat ratusan patung lilin tentang sosok semua keturuan keluarga besar Adalvino, dan juga para bangsawan yang berjasa selama pemerintahan keluarga Adalvino di gracetian.


Di sana juga terdapat replica benda-benda bersejarah dalam sejarah Gracetian, mulai dari persenjataan, alat transportasi dan juga peralatan makan yang digunakan oleh raja-raja Gracetian sejak jaman dulu.


(Replika adalah sebuah salinan yang sama persis dengan bentuk dan fungsi dari alat, barang atau lainnya. Replika biasanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dalam bidang sejarah, dan biasanya disimpan di dalam museum, kadang kala alat atau benda aslinya tidak pernah dibuat).


Selain itu juga terdapat miniatur dari istana Gracetian yang dikenal begitu megah dan mewah, yang usianya sudah mencapai ratusan tahun, akan tetapi keindahan dan kemegahannya tetap terjaga dengan baik, sehingga dianggap sebagai salah satu bangunan istana yang paling indah, yang diakui oleh dunia international.


Ternyata sejarah kerajaan Gracetian memang keren, dan bisa membuat orang yang mengetahui tentang sejarah itu berdecak kagum.


Alaya  berkata dalam hati sambil tersenyum sambil membaca sejarah berdirinya kerajaan Gracetian, dan mengamati secara bergantian patung lilin yang berjajar di sana.


Alaya yang memang baru pertama kalinya mengunjungi museum itu berkata dalam hati sambil terlihat mengamati dengan serius, semua hal yang disajikan di tempat itu.


Cerita sejarah Gracetian yang selama ini belum sempat dipelajari semuanya oleh Alaya. bagi Alaya melihat dan mempelajarinya melalui gambar dan replika sejarah itu membuatnya lebih mudah untuk mencerna dan mengingatnya.

__ADS_1


"Eh, ternyata ada patung lilin replikaku juga." Alaya bergumam pelan sambil tersenyum geli melihat adanya patung lilin dirinya, padahal dia baru saja diakui sebagai putri Gracetian dalam kurun waktu yang belum lama ini.


"Tentu saja Anda harus ada dalam bagian sejarah kerajaan Gracetian. Putri secantik Anda, tidak sepatutnya keberadaannya terus disembunyikan." Suara sahutan dari arah belakangnya yang diucapkan dengan nada berbisik sontak membuat Alaya kaget dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2