
"Selamat siang Tuan Red." Red yang baru saja menyesaikan makan siangnya sambil berbincang serius dengan Rock, langsung menoleh begitu mendengar sapaan dari orang yang beberapa lama ini sering bertemu dengannya di Renhill ketika melakukan pelatihan khusus untuk melawan kelompok Eliana bersama dengan pasukan milik Ornado Xanderson.
"Ah, selamat siang Duke Evan." Red bergegas bangkit dari duduknya, dan memberikan salam penghormatannya kepada Evan yang langsung berjalan dengan langkah lebar ke arah Red.
"Apa kabar Tuan Red?" Tanpa menerima salam penghormatan dari Red, Evan justru langsung memeluk tubuh Red yang sedikit tersentak, namun sebentar kemudian laki-laki yang usianya pantas menjadi ayah Evan itu membalas pelukan Evan, dan bahkan dengan sikap berani menepuk-nepuk punggung Evan sambil tersenyum.
Rock yang memang sudah tahu dekatnya kedua orang itu sejak mereka bersama-sama melatih pasukan khusus di Renhill hanya mengamati apa yang mereka lakukan sambil diam di tempatnya.
Sedang Sam, masih dengan setianya terus mengikuti langkah-langkah Evan, dan langsung berdiri diam di belakang Evan yang sedang memeluk Red dengan sikap hangat.
"Sudah aku katakan, saat di Goldie Tavisha, tidak perlu memperlakukanku seperti seorang bangsawan, karena, di sini Tuan Redlah penguasanya." Evan berkata sambil melepaskan pelukannya kepada Red yang langsung tertawa kecil.
"Mana bisa seperti itu. Rasanya sangat canggung melakukan hal seperti itu di depan orang hebat sepertimu Duke Evan." Red berkata sambil mengurangi sikap formalnya, dengan memanggi Evan dengan kata "kamu", bukan Anda sebagaimana seharusnya.
Evan langsung tertawa lebar mendengar perkataan Red, salah satu orang yang membuat Evan cukup kagum dengan dedikasinya terhadap keluarga Adalvino.
"Ah, masih jam segini, tapi Duke Evan sudah datang. Apa ada sesuatu yang mendesak? Tuan Alexis belum datang, karena dia sedang sibuk mengurus perceraiannya dengan nyonya Lilian." Perkataan Red membuat Evan sedikit menaikkan alisnya.
"Mereka akan bercerai?" Tanpa sadar Evan langsung bertanya.
"Menurutku lebih baik begitu. Karena memang mereka sebenarnya tidak saling mencintai, dan merekapun hanya menikah di atas kertas, karena awalnya Alexis hanya ingin nona Deanda ada yang merawat. Tapi pada kenyataannya dia justru menyiksa nona Deanda, seperti yang mungkin Duke Evan pernah dengar dari teman-teman nona Deanda. Kalau nona Deanda sendiri, mana pernah nona menceritakan tentang kehidupannya yang buruk. Dia selalu diam dan menerima semuanya dengan tetap tersenyum." Red berkata sambil menghela nafasnya.
Karena jujur saja, Red juga baru belakangan ini tahu bagaimana kasarnya sikap Lilian terhadap Deanda, karena selama ini Deanda tidak pernah mengeluh tentang hal itu sedikitpun.
__ADS_1
"Permaisuri memang orang yang sangat baik, dia memang pantas menjadi ibu bagi seluruh rakyat Gracetian, mendampingi yang mulia Alvero." Evan menanggapi perkataan Red sambil tersenyum.
Kali ini Evan dengan tulus memuji sosok Deanda dengan rasa kagum, bukan lagi dengan perasaan cinta seperti waktu itu.
Entah kenapa, sejak kehadiran Alaya saat menerobos masuk ke markas besar militer waktu itu, bayangan tentamg Deanda di otak Evan menghilang begitu saja entah sejak kapan dan kenapa.
"Benar Duke Evan. Nona Deanda pantas sekali menjadi permaisuri dengan sifatnya yang selalu berusaha menolong dan melindungi orang lain seperti itu." Red berkata sambil mengernyitkan dahinya, karena sedang mengingat sesuatu.
"Eh, Duke Evan... kamu datang ke tempat ini untuk bertemu dengan tuan Alexis kan?"
"Ya, tentu saja, kita bertiga kan yang akan membahas tentang permintaan yang mulia untuk kita tetap mempertahankan pelatihan pasukan khusus yang pernah kita bentuk waktu itu. Bukankah memang itu rencana pertemuan kita hari ini kan Tuan Red?" Evan langsung balik bertanya karena melihat wajah Red yang terlihat seperti orang yang sedang berpikir.
"Oooo, karena Duke Evan datang lebih awal, aku pikir Duke Evan memang ada janji dengan putri Alaya di tempat ini sebelum tuan Alexis datang." Kening Evan langsung berkerut mendengar perkataan Red.
“Iya. Aku kira dia datang ke tempat ini dengan tiba-tiba karena ada janji denganmu. Bukannya begitu? Atau aku salah menebak?” Red langsung menyampaikan pemikirannya pada Evan dengan sikap santai, karena dia sudah mendengar berita tentang rencana pernikahan Evan dan Alaya, sehingga bagi Red, sangat tidak mengherankan jika kedatangan Alaya dan Evan di jam lebih awal dari perjanjian dikarenakan kedua calon pasangan itu ingin bertemu di Goldie Tavisha sebelum pertemuan antara Evan, Red dan Alexis dilakukan.
Goldie Tavisha, meskipun di beberapa kalangan yang memang mengenal Goldie Tavisha dianggap tempat berkumpulnya para penjahat atau orang-orang penyedia jasa untuk melakukan sesuatu yanga bersifat illegal, yang tidak bisa dilakukan oleh pejabat berwenang, tapi di mata masyarakat umum, Goldie Tavisha dianggap sebagai tempat berlibur dengan pemandangan indah dan romantisnya bagi pasangan kekasih yang ingin menikmati waktu berdua di Goldie Tavisha.
Membayangkan keberadaan Alaya di tempat yang sama dengannya saat ini, membuat dada Evan terasa berdetak dengan lebih kencang dari biasanya.
“Lalu… dimana putri Alaya sekarang?” Tanpa menjawab pertanyaan Red, Evan justru bertanya balik kepada Red, sambil matanya berkeliling ke setiap sudut ruangan itu, berharap kalau dia segera menemukan sosok Alaya di sana.
Namun sayangnya, sosok Alaya tidak berhasil ditemukan oleh Evan, karena gadis cantik itu sedang bermin di sungai bersama dengan Alea.
__ADS_1
“Putri Alaya sedang bermain di sungai bersama Alea.” Seolah mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan dan dicari oleh Evan, Red segera mengatakan tentang dimana keberadaan Alaya sekarang.
“Ooo, dimana itu?” Evan bertanya lagi kepada Red yang langsung tersenyum begitu melihat wajah penasaran sekaligus berharap dari Evan.
“Apa Duke Evan mau menemui putri Alaya terlebih dahulu sebelum tuan Alexis datang? Atau mungkin….”
“Itu ide yang bagus. Aku akan bertemu putri Alaya dahulu.” Evan segera memotong kata-kata Red dengan sikap begitu bersemangat yang tentu saja tidak lepas dari pengamatan Sam yang hanya bisa menyimpan senyum gelinya dalam hati melihat perubahan raut wajah Evan begitu mendengar Alaya ada di Goldie Tavisha saat ini.
“Rock!” Tiba-tiba Red langsung memanggil Rock yang masih duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Panggilan itu membuat Rock langsung bangun dari duduknya, dan berjalan ke arah Red.
“Tolong antar Duke Evan untuk pergi ke sungai menemui putri Alaya.” Begitu Rock ada di dekat Red, Red segera memberikan perintah kepada Rock, yang langsung menganggukkan kepalanya begitu mendengar perintah dari Red.
“Duke Evan, silahkan ikuti Rock. Dia sangat familiar dengan setiap sudut di wilayah Goldie Tavisha ini.” Red berkata sambil tangannya menunjuk ke arah Rock.
“Baik Tuan Red, karena janji kita untuk bertemu masih cukup lama, aku akan pergi menemui putri Alaya terlebih dahulu.” Evan berkata dengan senyum senang tersungging di wajahnya.
Aku benar-benar gila. Bahkan kemarin aku baru saja bertemu dengannya, tapi hanya mendengar namanya saja aku sudah begitu ingin bertemu lagi dengannya.
Evan berkata dalam hati dengan ingatannya yang kembali mengingat kejadian dimana karena teh kemarin dia sudah mencium Alaya.
“Tentu… silahkan Duke Evan.” Tanpa mengetahui apapun antara Alaya dan Evan, dengan santainya Red mempersilhakan Evan untuk menyusul Alaya ke sungai, dimana sebenarnya Alaya sendiri pergi ke sana untuk menenangkan dan menjernihkan pikirannya dari sosok Evan yang membuatnya tidak tenang dan tidak nyaman.
__ADS_1