Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
SEPAKAT


__ADS_3

Alvero dengan sikap percaya diri mengucapkan kata-kata seperti itu pada Evan, karena di masa lalu, dia sudah berhasil memaksa Deanda menikah dengannya kurang dari 3 bulan.


Dan bukan sekedar berhasil menikahi Deanda, tapi juga mendapatkan hati Deanda sepenuhnya.


Suatu hal yang bagi Alvero perlu dia tunjukkan dan banggakan di depan Evan yang tahu dengan pasti bagaimana Alvero memang sukses dalam kehidupan pernikahannya dengan Deanda sampai dengan saat ini, meskipun di awal pernikahan mereka, Deanda sempat meragukan perasaan cinta Alvero padanya.


Dan rasa tidak percaya diri dari Deanda itu sangat dimaklumi oleh Evan yang tahu bahwa latar belakang Deanda sebgai rakyat biasa bagaikan langit dan bumi dengan Alvero yang di hari pernikahannya, langsung dinobatkan sebagai Raja Gracetian, menggantikan Vincent.


Untung saja semua kesalahpahaman diantara mereka berdua segera terselesaikan dan akhirnya membuat mereka bisa saling terbuka terhadap satu dengan yang lain.


Bahkan kehidupan pernikahan Alvero dan Deanda yang selalu terlihat kompak dan harmonis, menjadi panutan bagi banyak warga Gracetian.


Apalagi kondisi Deanda yang sedang hamil saat ini, membuat rakyat ikut berbahagia dan selalu mendukung pasangan romantis itu.


Yang Mulia Alvero ini benar-benar orang yang tidak sabaran dan tidak mau keputusannya dipertanyakan. Apa boleh buat, toh dia yang menjadi raja dari negara ini, sekaligus kakak dari Alaya. Lagipula… aku yakin bisa mendapatkan hati my princess, lebih cepat dari yang bisa dipikirkan oleh Yang Mulia. Memangnya hanya dia saja yang bisa membuat hati wanita yang diinginkannya jatuh cinta padanya?


Evan berkata dalam hati dengan sebuah tekad untuk membuktikan pada Alvero dia pasti akan memenangkan hati Alaya untuknya.

__ADS_1


Meskipun sosok Evan adalah sosok pria tampan dengan sikap tenang, akan tetapi, bagaimanapun dia tetaplah seorang pria yang memiliki rasa ego yang cukup besar, apalagi statusnya adalah seorang duke Carsten, keluarga paling berpengaruh di posisi kedua setelah keluarga Adalvino.


Bahkan untuk mencapai posisi sebagai jenderal besar di Gracetian, Evan sudah bekerja dengan begitu keras, dan menunjukkan dalam sikap tenangnya, dia juga memiliki ambisi yang besar untuk menjadi yang terbaik.


Karena itu, kata-kata Alvero yang meragukan kemampuannya untuk dapat memenangkan hati Alaya dalam waktu singkat, cukup menggelitik hati dan egonya yang merasa tidak terima dengan pendapat Alvero itu, meskipun Evan tidak menunjukkannya dengan jelas dan terang-terangan di depan Alvero.


“Bukan karena itu Yang Mulia. Akan tetapi kalau memang itu yang diinginkan oleh Yang Mulia, saya akan menurutinya.” Alvero langsung tersenyum lebar begitu mendengar kesanggupan dari Evan.


Itu baru sikap yang benar! Duke Evan memang laki-laki yang pantas untuk bersanding dengan Alaya. Tegas, berwibawa, dan menghargai wanita.


Alvero berkata dalam hati dengan wajah terlihat puas mendengar persetujuan dari Evan atas usulnya.


Apa yang dibicarakannya dengan Evan malam ini, membuat Alvero bisa melupakan bagaimana sikap dan perilaku Christopher yang sepanjang hari ini sudah membuatnya emosi.


# # # # # # #


“Evan….” Setelah mengetuk pintu, dan membukanya meskipun Evan belum menjawab, Danella langsung memanggil nama Evan dengan lembut.

__ADS_1


Sebuah kebiasaan yang seringkali dilakukan oleh Danella, selalu mengetuk kamar Evan sebelum dia masuk ke kamar anak semata wayangnya itu, meskipun seringkali, Danella akan langsung membuka pintu kamar itu setelah ketukan ketiga, dan Evan tidak menanggapi ketukan itu.


Evan yang awalnya sedang berbaring dengan santai sambil membuka-buka pesan masuk untuknya di handphone, langsung menggerakkan tubuhnya, agar bisa dalam posisi duduk dan bersandar ke sandaran tempat tidur dengan kaki bersila.


“Sudah larut malam Ma, kenapa belum tidur?” Evan langsung bertanya kepada Danella yang sedang mengambil posisi duduk di pinggiran tempat tidur.


Dan begitu Danella duduk di pinggiran tempat tidurnya, Evan langsung memajukan tubuhnya, mendekat ke arah tubuh Danella, lalu memeluk tubuh wanita setengah baya itu dengan erat.


“Apa yang sedang mengganggu pikiranmu Ma? Kenapa beum tidur?” Dengan suara lembut dan sikap penuh kasih sayang, Evan kembali bertanya kepada Danella dan mencium lembut pipi mamanya itu.


Melihat dan merasakan bagaimana sikap Evan padanya yang penuh dengan kasih sayang, membuat Danella menghela nafas panjang sambil mengelus-elus lengan Evan yang sedang memeluknya.


“Kamu sendiri, selarut ini masih sibuk dengan ponselmu.” Danella tidak menjawab pertanyaan Evan, namun justru mengkritik balik Evan yang langsung tersenyum.


“Kamu pulang sangat larut hari ini. Apa ada masalah?” Pertanyaan Danella padanya membuat Evan terdiam sesaat.


Setelah pertemuannya dengan Alvero yang memakan waktu cukup lama, Evan sebenarnya ingin membahas pembicaraan yang dia lakukan bersama Alvero tadi dengan Danella.

__ADS_1


Akan tetapii, karena ketika dia pulang hari sudah terlalu larut baginya, Evan memutuskan untuk membicarakan hal itu besok pagi dan membiarkan Danella untuk beristirahat, tanpa sadar bahwa ternyata Danella sudah dengan setia menanti kehadirannya setelah Sam memberikan info kepadanya bahwa hari ini Evan kembali ke kota Tavisha, dan sedang berada di istana bersama dengan Alvero dan yang lain.


“Apa pembicaraanmu dengan yang mulia Alvero berjalan dengan baik malam tadi?” Pertanyaan dari Danella membuat Evan sedikit mengendorkan pelukannya pada tubuh Danella karena merasa kaget bagaimana Danella tahu tentang itu, sedangkan rencana kedatangannya hari ini ke kotan Tavisha, tepatnya ke istana, hana segelintir orang yang tahu tentang kegiatannya itu.


__ADS_2