
“Maaf Nona aku benar-benar tidak sengaja. Aku memang bersalah karena terlalu fokus pada kertas ini, sehingga tidak melihat sekelilingku dengan baik.” Kattie berkata dengan wajah terlihat begitu menyesal, membuat teman Alaya justru merasa tidak enak hati karena itu.
“Eh, tidak apa-apa, Anda kan tidak sengaja melakukannya. Untung ada Alaya yang menahanku.” Teman Alaya itu langsung menanggapi permintaan maaf Kattie.
Ternyata nama gadis itu adalah Alaya. Kira-kira apa hubungan gadis ini dengan duke Evanku?
Kattie langsung berkata dalam hati, dengan mata melirik ke arah Alaya yang sudah melepaskan kembali pegangan tangannya pada tubuh temannya, yang sudah kembali tegak dan seimbang.
“Aku benar-benar minta maaf Nona\, karena alamat yang tertulis ini benar-benar membuatku sakit kepala. Aku sudah berusaha menemukannya\, bahkan dengan bantuan go***le map\, tapi aku tetap tidak bisa menemukannya.” Kattie berkata dengan mempertahankan wajah bersalahnya\, membuat mereka semua terdiam dan fokus menatap ke arahnya.
“Coba aku lihat kertas itu.” Alaya berkata sambil mengulurkan tangannya, dan dengan cepat Kattie memberikan kertas itu pada Alaya.
“Mmmm….. darimana Nona mendapatkan alamat ini?” Alaya bertanya setelah melihat apa yang tertulis di kertas itu.
“Dari teman dekatku Nona. Kenapa? Apa ada msalah dengan alamat itu?” Dengan wajah berpura-pura sedikit kaget dan khawatir, Kattie balik bertanya kepada Alaya.
“Sepertinya alamat ini salah Nona. Di kota ini tidak ada nama jalan yang tertulis di kertas ini. Mungkin maksud teman Anda adalah jalan lain, atau jalan ini tapi di kota lain.” Alaya langsung menjelaskan tentang apa yang tertulis di kertas itu, sebuah tulisan yang memang sengaja dibuat asal-asalan dan agar salah oleh Kattie.
“Oo… begitukah?”
“Benar Nona. Coba Nona hubungi teman Nona untuk memastikan kebenaran alamat ini.” Alaya berkata sambil menyodorkan kembali kertas itu kepada Kattie.
__ADS_1
“Oke, Aku akan coba untuk menghubungi temanku.” Kattie berkata sambil melangkah menjauh beberapa langkah, dan pura-pura melakukan panggilan telepon.
Setelah beberapa saat melakukan itu, Kattie kembali mendekat ke arah Alaya.
“Bagaimana Nona? Apa teman Nona sudah menjelaskan tentang alamat itu?” Mendengar pertanyaan Alaya, Kattie langsung menggelengkan kepalanya dengan gaya lemas.
“Temanku tidak bisa dihubungi sama sekali. Padahal hanya dia yang tahu tentng alamat ini.” Kattie berkata dengan nada putus asa, membuat semua teman Alaya, temasuk Alaya sendiri memandangnya dengan tatapan berbelas kasihan.
“Aduh… lalu bagaimana Nona? Apa yang bisa kami bantu?” Salah satu teman Alaya segera menawarkan diri untuk membantu, meskipun dia tidak yakin kalau dia juga bisa membantu Kattie.
“Mmmm. Mungkin karena dia masih sibuk, temanku tidak bisa dihubungi. Aku akan menunggunya di sini.” Jawaban Kattie membuat Alaya sedikit tertegun.
“Kalau begitu… bolehkan aku ikut dengan kalian? Kemana kalian akan pergi?”
“Kami akan pergi ke café yang ada di dekat tempat ini. Kesana!” Salah seorang teman Alaya berkata sambil jari telunjuknya menunjuk ke sebuah café yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang berkumpul.
“Oke, aku akan ke café itu juga. Tenang… aku tidak akan mengganggu kalian. Kita berpisah setelah sampai di café itu.” Kattie berkata sambil tersenyum ke arah mereka semua.
“Oke, kita kesana sekarang sebelum hujan benar-benar turun.” Alaya segera berkata sambil bangkit dari duduknya, disusul oleh teman-temannya yang lain.
“Apa yang sedang kalian kerjakan sebenarnya?” Kattie sengaja memperlambat langkahnya, sehingga Alaya mau tidak mau ikut memperlambat langkahnya untuk bisa menemani Kattie.
__ADS_1
“Kami sedang mengerjakan tugas kuliah kami. Nona sendiri, sepertinya bukan orang dari negara ini. Apa benar perkiraanku?” Alaya mulai bertanya karena mendengar logat bicara Kattie yang memang berbeda dari dia dan teman-temannnya.
“O, iya, aku ada sedikit urusan di negara ini, karena itu aku berkunjung ke sini. Nona… apa aku bisa mentraktirmu makan siang sebagai tanda terimakasihku untuk bantuan Nona?” Alaya langsung menggeleng begitu mendengar penawaran dari Kattie.
“Maaf Nona, tidak perlu. Aku tidak banyak membantu Nona, hanya memberikan info sesuai dengan yang aku tahu. Lagipula, aku juga baru menyelesaikan makan siangku.” Alaya langsung menolak halus permintaan Kattie padanya.
“O, tapi aku sempat melihat tadi Nona datang hanya berdua dengan salah seorang teman Nona. Apa dia yang menemani Nona makan siang sebelumnya?” Kattie mulai berusaha mengorek informasi dari Alaya, tanpa gadis remaja itu sadar dengan niat Kattie.
“Tidak. Aku tadi makan siang dengan yang lain, setelah itu baru aku bertemu dengan temanku itu.” Alaya berkata sambil tersenyum, karena mengingat sosok Evan, yang tadi menghabiskan waktu makan siang bersamanya.
“Apa Nona tadi makan siang dengan kekasih Nona?” Pertanyaan Kattie yang tanpa basa basi itu membuat Alaya sedikkit tersentak kaget, tapi sebentar kemudian, sebuah senyum lebar terlihat di wajah Alaya.
“Benar Nona. Sepanjang makan siang ini aku bertemu dengan kekasihku. Apa terlihat begitu jelas dari wajahku?” Alaya berkata dengan wajah tersipu malu.
“Oo… apa kekasih Nona teman kuliah Nona?” Kattie mencoba bertanya dengan nada sebiasa mungkin, meskipun di dalam sana, hatinya sudah bergejolak dan terasa panas.
“Tidak, dia bahkan bukan orang dari negara ini. Dia berasal dari Gracetian. Dia ke tempat ini sedang ada urusan bisnis.” Dengan nada bangga Alaya mulai menceritakan siapa sosok kekasihnya, yang bagi Kattie semakin membuat jelas bahwa laki-laki yang menjadi kekasih Alaya memang benar adalah Evan.
“Begitu ya. Apa sudah lama Nona menjalin hubungan dengan kekasih Nona?”
“Belum. Baru beberapa hari berlalu. Sebenarnya dulu ketika aku masih kecil, aku pernah bertemu dengannya, dan kedua orangtua kami cukup dekat….” Alaya terus menceritakan tentang sosok Evan, meskipun dia tidak menceritakannya dengan detail, karena saat itu Alaya memang belum tahu dengan jelas siapa Evan sebenarnya, dan juga statusnya sebagai seorang duke dari Gracetian.
__ADS_1