Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
BERSIAP UNTUK PERTEMUAN DUA KELUARGA BESAR


__ADS_3

Ketika Alaya memasuki ruang tamu istana, meskipun belum semua orang dari pihak keluarga Carsten dan Adalvino hadir disana karena memang masih ada waktu sebelum waktu yang disepakati untuk pertemuan itu....


Namun sosok Evan yang sedang berdiri memandang ke arah pintu masuk ruang tamu sudah ada di sana sejak beberapa waktu lalu.


Entah kenapa, Evan pun tidak bisa mengartikan apa yang sedang terjadi padanya saat ini.


Akan tetapi, sejak semalam Evan merasakan semua posisi tidurnya tidak nyaman saat dia mengingat tentang pertemuan hari ini, sehingga hampir semalaman Evan kesulitan untuk tidur, seperti seorang anak kecil yang bersiap melakukan perjalanan berlibur diajak oleh orangtuanya dengan hati berdebar dan tidak sadar.


Evan juga merasakan bagaimana tidak sabarnya dia menantikan waktu pertemuannya hari ini, bagaimana berdebarnya hatinya saat menunggu waktu itu tiba, bahkan lebih mendebarkan dari saat dia dinobatkan sebagai jenderal besar waktu itu.


Dan pagi-pagi sekali, meskipun waktu pertemuan masih sangat lama dari waktu yang sudah ditentukan, Evan memilih untuk segera bangkit dari tidurnya dan mandi, menyiapkan dirinya dengan baik hari ini.


Meskipun kemarin sore dia sudah membersihkan dan merapikan wajahnya, Evan kembali melakukan aktifitas itu pagi ini, seolah dia merasa kurang puas jika tidak tampil sebaik mungkin hari ini.


Selesai bersiap, berkali-kali Evan memandang ke arah jam di pergelangan tangannya, yang baginya seolah berjalan sangat lambat hari ini, tidak seperti biasanya.


Andai saja bisa, rasanya Evan ingin sekali memutar jatum jam itu, agar segera bergerak ke angka yang diinginkannya.


Rasanya Evan begitu tidak sabar untuk menghadiri pertemuan kedua keluarga besarnya dan keluarga Adalvino.


Dan yang membuat Evan semakin tidak sabar, dia ingin segera tahu tanggal  berapa dia dan Alaya akan bertunangan, dan kemudian tanggal berapa dia akan bisa menikah dengan gadis yang beberapa malam ini, bayangannya selalu menemani lamunannya sebelum dia tidur.


Gila! Aku benar-benar seperti orang gila sejak bertemu dengan my princess di markas besarku beberapa waktu lalu. Baru kali ini aku menjadi seperti orang gila karena kehadiran seorang gadis dalam hidupku. Hah! Aku bahkan merasa jadi seperti orang aneh karena rasa ketertarikanku yang begitu besar pada my princess. Apa sebaiknya aku menyetujui ide dari yang mulia Alvero, agar tidak perlu terlalu lama untuk menetapkan tanggal pernikahanku dengan Alaya?

__ADS_1


Evan berkata dalam hati, dengan mulai mempertimbangakan waktu yang terbaik untuk dia dan Alaya agar bisa segera menikah, tanpa perlu menunda-nunda waktu terlalu lama.


Meskipun Evan sadar dia baru saja bertemu dengan Alaya dan belum terlalu mengenal dengan baik gadis itu, kecuali dari info yang dia kumpulkan dari orang-orang di sekitar Alaya, tapi Evan sadar sepenuhnya, kalau pikirannya sudah tidak pernah bisa lagi lepas dari bayangan Alaya.


Karena itu, begitu dia sudah bersiap diri, setelah berusaha menunggu dalam waktu yang cukup lama, akhirnya Evan tidak sabar dan langsung berencana datang ke istana.


Dan untuk itu, Evan sengaja ingin berpamitan dengan mamanya, sehingga tidak perlu merepotkan mamanya untuk ikut dengannya datang ke istana jauh lebih awal.


Akan tetapi, seperti yang terjadi pada Evan, semalam Danella juga tidak bisa tidur karena menunggu datangnya hari ini.


Hari dimana Danella mendengar Evan menerima rencana perjodohannya dengan Alaya, di hari itu juga Danella selalu menunggu pertemuan keluarga secara resmi untuk membahas kapan dia akan segera memiliki seorang menantu yang sudah lama diidam-idamkannya.


Karena itu, selain Evan sendiri, Danella merupakan orang yang terus mengamati pergerakan jarum jam, dan menanti berjalannya waktu dengan tidak sabar.


Dan disinilah Evan sekarang, memandang lurus ke arah pintu masuk, dimana Alaya yang terlihat begitu cantik siang ini, mulai melangkah masuk ke ruang tamu istana.                                                                                                            Begitu melihat datangnya sosok cantik calon istrinya yang sudah begitu dinantikannya itu, membuat mata hijau milik Evan menatap lurus ke arah Alaya tanpa berkedip.


My princess…. Cantik… cantik sekali… 


Evan berkata dalam hati dengan mata menatap ke arah Alaya dengan tatapan hangat dan terpesona.


Tatapan mata Evan yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada Alaya, membuat dada Alaya berdesir, karena tatapan itu mengingatkannya pada bagaimana cara Evan menatapnya beberapa tahun yang lalu.


Bagaimanapun, meskipun dalam hatinya Alaya sudah bertekad untuk tidak lagi perduli pada Evan, dan berusaha untuk menjauhi laki-kali itu, namun tetap tidak bisa menghilangkan kenyataan, bahwa hingga detik ini, Evan adalah satu-satunya pria yang begitu dicintai oleh Alaya.

__ADS_1


Penampilan Evan dengan setelan jas resminya yang tampak rapi,membuat untuk kesekian kalinya Alaya terpesona oleh ketampanan dan pesona Evan yang selalu saja berhasil membuat dada Alaya bergejolak hebat.


Antara sedih dan bahagia, antara cinta dan benci, itu yang selalu dirasakan oleh Alaya saat memandang ke arah Evan yang tetap saja menjadi satu-satunya pria yang bisa membuat dunia Alaya seolah jungkir balik karenanya.


Dari arah pintu lain tampak beberapa keluarga Carsten dan Adalvino yang lain, satu persatu mulai masuk ke ruang tamu istana.


Untuk orang-orang dari keluarga Carsten yang melihat sosok Alaya, juga langsung menyatakan kekaguman mereka terhadap penampilan Alaya, dan tanpa perlu dipertanyakan, mereka semua memberikan persetujuan dalam hati bahwa Alaya memang sosok gadis yang paling tepat bagi Evan yang merupakan pimpinan tertinggi di keluarga Carsten, selain pimpinan tertinggi dalam bidang kemiliteran di Gracetian.


“Kamu sudah datang lebih awal ternyata.” Sapaan dari Alvero padanya, membuat Alaya memperlambat langkah-langkah kakinya dan menoleh ke samping.


Alvero tampak melangkah mendekat ke arahnya bersama dengan Deanda, juga Larena dan Vincent, disusul oleh Enzo yang terlihat langsung mengembangkan senyum ramahnya ke arah yang lain, termasuk Evan dan keluarganya.


Begitu Alvero memasuki area ruangan tamu istana, semua yang hadir langsung bangkit berdiri untuk memberikan salam penghormatan mereka kepada Alvero sebagai penguasa tertinggi di kerajaan Gracetian.


# # # # # # #


“Senang sekali melihat kehadiran dua keluarga besar Carsten dan Adalvino bisa berkumpul seperti siang hari ini.” Alvero yang sudah menempati posisinya, langsung menyapa semua tamu yang hadir dengan sikap tegas dan berwibawanya.


“Kalau begitu tanpa perlu menunda-nunda waktu, kita akan mulai pertemuan ini….” Alvero segera melanjutkan kata-kataya.


“Seperti kita tahu, kedua keluarga kita, merupakan keluarga bangsawan paling berpengaruh di negara ini. Dan aku secara pribadi sudah membuat persetujuan dengan duke Evan, untuk membentuk sebuah ikatan yang kuat antara keluarga Carsten dan keluarga Adalvino, dengan cara menjodohkan antara duke Evan dan putri Alaya. Ikatan pernikahan akan menjadi sebuah ikatan paling kuat diantara dua keluarga besar kita. Dan pertemuan kita hari ini, untuk membahas kapan akan dilaksanakannya hari pertunangan dan juga kapan pernikahan antara duke Evan dan putri Alaya bisa dilaksanakannya.” Kata-kata Alvero membuat sebuah senyum kecil tersungging di bibir Evan, yang dalam alam bawah sadarnya, juga begitu menantikan kapan dia bisa menikah dengan Alaya.


Sedang Alaya, langsung menahan nafasnya begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Alvero di depan banyak orang.

__ADS_1


__ADS_2