
"Ah... apa Evan memiliki seorang kekasih di luar negeri waktu itu? Lalu apa yang terjadi dengan mereka berdua sekarang? Apa mereka berpisah karena tidak tahan dengan tekanan terhadap Long Distance Relationship?” Deanda langsung berkomentar begitu matanya melihat ke arah gambar yang sedang ditunjukkan oleh Alvero padanya.
(Long Distance Relationship atau Relasi jarak jauh merupakan hubungan intim antara pasangan yang secara geografis terpisah satu sama lain. Mitra di LDR menghadapi pemisahan geografis dan kurangnya kontak tatap muka. LDR sangat lazim dikalangan mahasiswa, yang merupakan 25% sampai 50% dari semua hubungan.
Satu survei terhadap 1.000 peserta menemukan hubungan jarak jauh hanya memiliki tingkat keberhasilan 58%. Jadi jika seseorang ingin hubungan LDR berkembang, masing-masing pasangan harus bekerja keras.
Hubungan LDR ini akan tetap langgeng dan bahagia apabila seseorang dan juga pasangan mengetahui cara untuk menyiasatinya. Selain itu, sebuah studi menjelaskan bahwa komitmen, komunikasi, dan keintiman dalam sebuah hubungan jarak jauh ini justru lebih positif).
“Mungkin saja seperti itu. LDR butuh komitmen yang sangat kuat dan tidak semua orang mampu mengambil komitmen itu. Atau mungkin ada hal lain yang terjdi diantara mereka berdua, hanya mereka berdua yang tahu. Dan kalau itu hanya sekedar masa lalu Evan, sepertinya kita tidak perlu mempermasalahkan itu, asal masa lalu itu sudah dibereskan dengan baik, karena kalau tidak, itu akan menjadi duri dalam daging bagi kehidupan penikahan Evan dan Alaya di masa depan.” Alvero langsung menjawab pertanyaan Deanda.
“Benar, jangan sampai hal seperti itu terjadi. Padahal seingatku Evan mengatakan kalau dia belum pernah menjadi kekasih gadis manapapun." Kata-kata Deanda membuat Alvero langsung menoleh ke arah istrinya itu dengan cepat.
"Hal sepribadi itu Evan menceritakannya padamu?" Alvero langsung berkata dengan nada protesnya kepada Deanda yang langsung meringis melihat bagaimana Alvero yang sedang menatapnya dengan penuh selidik sekarang ini.
“Aduh my Al… sudah berapa kali aku bilang aku dan Evan, tidak pernah lebih dekat dari sekedar teman mengobrol. Dan aku menganggap dia sebagai kakak laki-lakiku. Lagipula… satu-satunya pria yang membuatku tahu apa itu jatuh cinta hanya kamu….” Kata-kata Deanda yang diakhiri dengan sebuah kecupan lembut di bahu Deanda, secara otomatis membuat wajah Alvero memerah dengan gerakan tubuh yang menjadi kaku karena salah tingkah.
__ADS_1
Alvero Adalvino yang dikenal begitu tegas dan keras seperti seorang singa yang tangguh dalam memimpin dan melindungi kelompoknya, hanya seorang Deanda Federer yang mampu membuatnya bisa berubah menjadi seekor anak kucing yang lembut dan menggemaskan.
“Ehem….” Alvero langsung menutupi kegugupan dan rasa bangga yang membuatnya justru menjadi salah tingkah karena ucapan dan tindakan Deanda padanya, dengan sebuah deheman kecil, dan mata hazelnya langsung kembali fokus pada layar laptop di depannya.
Ah… yang mulia… kenapa sikap malu-malumu justru membuatmu terlihat semakin mempesona?
Deanda berkata dalam hati sambil tersenyum geli melihat Alvero yang selalu saja tidak berkutik jika Deanda sudah mulai mengeluarkan kata-kata manis yang berisi pujian untuk suaminya itu
“Sweety….” Cara Alvero yang memanggilnya dengan sikap serius, membuat Deanda ikut fokus mengamati kembali gambar-gambar yang ada di layar monitor laptop di pangkuan Alvero itu.
“Tung… tunggu my Al….” Deanda berkata kepada Alvero dengan suara terdengar ragu dan terputus-putus.
Deanda merasa begitu penasaran dengan salah satu gambar itu, karena sosok Evan dan gadis itu terasa begitu familiar saat tadi dilihatnya sekilas.
“My Al….” Deanda yang sedang mengamat gambar di depannya yang sudah diperbesar hingga 200 persen dari aslinya oleh Alvero, memanggil nama Alvero dengan suara terdengar ragu.
__ADS_1
“Kenapa sweety? Apa kamu melihat ada sesuatu yang aneh dari gambar ini?” Alvero langsung bertanya pada Deanda sambil mata hazelnya ikut mengamati gambar itu.
“Itu… jika diperhatikan lebih lama, kenapa aku merasa tidak asing ya dengan sosok gadis yang ada di samping Evan itu?” Kata-kata Deanda membuat mata Alvero lebih mengamati gambar gadis yang sedang bergelayut mesra di lengan Evan, sambil mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Evan yang menoleh ke arahnya sambil menundukkan kepalanya, karena saat masih remaja, tubuh Alaya jauh lebih pendek dibandingkan dengan Evan.
Dari cara gadis itu menatap kea rah Evan, meskipun gambar itu tidak menunjukkan dengan jelas mata gadis itu, baik Alvero maupun Deanda bisa menangkap pesan dari gambar itu, yang menunjukkan bahwa gadis itu telrihat begitu mencintai dan mengagumi Evan.
Begitu juga dengan Evan yang sedang membalas tatapan gadis itu sambil terenyum, menunjukkan bagaimana bahagianya Evan bisa berada di samping gadis itu.
“Eh….” Alvero bergumam pelan begitu dia melihat gadis itu dengan lebih cermat.
“Sweety… gadis ini…. Kenapa begitu mirip dengan…”
“Alaya….”
“Alaya….”
__ADS_1
Baik Alvero maupun Deanda secara bersamaan tanpa sengaja menyebutkan nama Alaya, sambil saling berpandangan dengan wajah kaget dan tidak percaya mereka terhadap apa yang sedang mereka pikirkan saat ini.
“Ternyata kamu juga berpikir seperti itu my Al? Apa mungkin kekasih Evan di masa lalu mirip dengan Alaya, sehingga dia tanpa beban dan dengan mudahnya saat itu menerima rencana perjodohannya dengan Alaya?” Deanda langsung mengeluarkan pertanyaannya kepada Alvero dengan dahi mengernyit, mencoba menerka-nerka apa yang sudah terjadi pada Evan di masa lalu, dan siapa gadis yang ada bersama Evan itu.