Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
SULITNYA BERADA JAUH DARIMU


__ADS_3

"Kalau kamu mau membuat duke Evan tidak suka padamu, usahakan kamu bertingkah berkebalikan dengan tipe gadis yang dia suka." Alea tiba-tiba menyelutuk.


"Kalau begitu, aku mau kamu mencari info tentang tipe gadis yang disukai oleh duke Evan, dan aku akan menjadi kebalikan dari gadis itu." Alea hanya bisa mengangguk begitu mendengar perintah selanjutnya dari Alaya.


"Tunggu.... abaikan perintahku yang terakhir, karena aku sudah tahu tipe gadis seperti apa yang disukai oleh duke Evan...."


Kak Deanda.... wanita hebat seperti kak Deanda yang disukai oleh duke Evan, dan aku harus bersikap berkebalikan dengan sifat kak Deanda....


Lagi-lagi, Alaya melanjutkan kata-katanya dalam hati, membiarkan Alea yang tampak bingung dengan perkataan Alaya, karena meskipun pernah menebak-nebak bahwa Evan menyukai Deanda, karena tidak tahu pasti, Alea tidak berani berkomentar tentang hal itu.


"Lalu... apalagi yang bisa aku lakukan?"


"Mungkin Putri Alaya bisa membuat gara-gara dengan...."


Berbagai ide langsung diungkapkan oleh Alea kepada Alaya yang mencatat dalam hati, setiap hal yang baginya masuk akal, bisa membuat Evan membencinya, atau paling tidak merasa dia tidak pantas sebagai calon istri seorang jenderal besar sepertinya.


Alea sendiri, yang pada dasarnya dikenal sebagai ahli penyamaran di kelompoknya yang ada di Goldie Tavisha, dengan begitu lancarnya memberikan banyak ide dan pengarahan pada Alaya yang kali ini menjadi pendengar yang bai, berusaha mendengarkan semua ide-ide dan berpikir cepat bagaimana cara dia bisa segera mempraktekkannya.


# # # # # # #


"Ernest, apa semuanya sudah dipersiapkan dengan baik untuk besok?" Alvero yang sedang duduk di kursi kerjanya di kantornya yang ada di gedung perkantoran Adalvino bertanya kepada Ernest yang baru saja datang bersama Erich.

__ADS_1


Sekilas Alvero melirik ke arah meja tempat Deanda yang biasa bekerja di ruangannya sebagai asistennya.


"Saya harap semuanya sudah siap sesuai dngan rencana Yang Mulia." Ernest segera menjawab pertanyaan Alvero.


"Erich, ambil map berwarna hijau di atas meja permaisuri Deanda." Alvero berkata dengan telunjuk mengarah ke arah meja kerja Deanda.


Tanpa menunggu diperintah untuk kedua kalinya, Erich segera melakukan perintah dari Alvero.


Begitu menerima map dari Erich, Alvero segera membukanya di hadapan Erich dan Ernest.


"Ini daftar menu makanan yang akan kita sajikan di istana saat keluarga besar duke Evan besok datang untuk membicarakan tanggal pertunagannya dengan putri Alaya. Ada 3 kombinasi menu makanan, itu permaisuri sendiri yang sudah memilihnya, kalian bisa membicarakannya dengan nyonya Rose, mana yang ketersediaan bahannya di musim ini bisa didapatkan." Alvero berkata sambil melirik jam di dinding kantornya, yang menunjukkan sudah waktunya istirahat, meski masih baru lewat beberapa detik, tapi Deanda belum kembali ke kantornya untuk bisa menikmati makan siang bersamanya, dan itu sudah membuat Alvero merasa gelisah.


Sedang Erich yang terbiasa tanpa ekspresi dengan langkah cepat langsung keluar dari ruangan Alvero untuk segera mencari keberadaan Deanda, yang sebenarnya sedang berjalan ke arah kantor Alvero.


Hah, aku sudah terlambat beberapa detik karena membahas tentang persiapan acara besok dengan tuan Robert. Senang sekali aku bisa mendengar duchess Danella terlihat begitu bersemangat dengan rencana pernikahan Evan dan Alaya. Semoga yang mulia Alvero tidak membuat keributan karena aku terlambat kembali ke kantor untuk makan siang bersamanya.


Deanda berkata dalam hati sambil menyungingkan senyum di bibirnya.


Namun senyum di wajah Deanda tiba-tiba menghilang dan langsung digantikan dengan tindakan mengernyitkan dahinya begitu Deanda melihat sosok Erich yang sedang berlarian ke arahnya.


Dan dari apa yang sedang dilakukan Erich, Deanda sudah bisa menduga apa yang sedang terjadi, sehingga dia segera mempercepat langkah-langkahnya menuju kantor Alvero.

__ADS_1


"Permaisuri Deanda...."


"Aku tahu, aku akan segera kembali ke kantor menemui yang mulia Alvero." Dengan cepat Deanda langsung memotong perkataan dari Erich yang diucapkannya dengan wajah datarnya.


Mendengar jawaban dari Deanda, Erich akhirnya berjalan dengan langkah-langkah lebar tepat di belakang Deanda, setelah memberikan tanda kepada dua orang yang yang tampak berlarian juga dari arah belakang Deanda.


Kedua orang petugas keamanan itu merupakan orang yang mendapatkan perintah dari Ernest untuk melakukan pengecekan terhadap rekaman cctv dan diminta dengan segera menemukan posisi Deanda untuk memberitahukan pada permaisuri Gracetian itu agar segera kembali ke kantor suaminya yang sudah menunggunya.


Bagi Erich maupun Ernest, perintah-perintah aneh dari Alvero terkait sifat possesifnya terhadap Deanda sudah merupakan makanan sehari-hari, hanya saja orang lain selalu dibuat ikut kelabakan karena itu.


Berkali-kali Deanda meyakinkan bahwa dia bisa menjaga dirinya dengan baik, tapi pada akhirnya, Deanda menyerah dengan sikap keras kepala Alvero yang selalu ingin berada di dekatnya dan memastikan semuanya baik-baik saja.


Karena sudah begitu hafal dengan karakter suaminya, membuat Deanda memilih untuk sebisa mungkin tidak melawan dan selalu mengikuti apa yang dimaui Alvero, kalau Deanda tidak ingin melihat wajah-wajah bingung dan bersalah dari para pegawai lainnya, terutama Erich dan Ernest.


Dua orang pengawal pribadi Alvero itu adalah orang yang paling sering direpotkan Alvero dengan semua permintaan dan perintahnya.


Begitu Deanda memasuki ruang kerja Alvero, wajah kusut Alvero langsung digantikan wajah cerah dan senyum yang langsung mengembang, menghiasi bibirnya.


Dengan langkah lebar Alvero langsung berjalan ke arah Deanda, dan bagi Erich dan Ernest, mereka berdua sudah begitu mengerti dan bisa menebak dengan pasti, apa yang akan terjadi selanjutnya.


Tanpa Alvero memberikan kode atau perintah apapun kedua pengawal pribadinya itu langsung membalikkan tubuh mereka, membiarkan Alvero dengan bebas mengekspresikan rasa cintanya pada Deanda dengan bergerak cepat ke arah permaisurinya itu, dan mencium mesra bibir Deanda yang sebelumnya langsung dipeluknya dengan erat begitu Alvero bisa mencapai tubuh Deanda dalam jangkauan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2