Another CINDERELLA

Another CINDERELLA
GENCATAN SENJATA SEMENTARA WAKTU


__ADS_3

“Ap… apa maksud Duke Evan? Aku tidak sedang memikirkan apa yang baru saja Duke Evan katakan…” Dengan suara pelan, Alaya langsung menyanggah kata-kata Evan yang menanggapinya dengan senyuman, seperti biasanya.


"Kalau begitu, sebaiknya kita segera kembali ke ruang makan istana, sebelum yang mulia Alvero sendiri menyusul kita kemari." Dengan sikap tenang setelah berhasil membuat Alaya gelagapan, tidak berkutik dan salah tingkah, Evan berkata sambil menggerakkan tubuhnya, untuk kemudian berjalan ke arah pintu keluar dari kantor pribadi Alvero.


Begitu pintu dibuka oleh Evan dari dalam, tampak Erich yang masih dengan setia berdiri dengan sikap tegap dan diam seperti patung di depan pintu, menunggu kedua orang itu keluar dari ruang kerja Alvero.


Pengawal pribadi Alvero yang begitu jarang tersenyum itu langsung menganggukkan kepalanya dengan sikap hormat kepada Evan, begitu melihat sosok Evan yang keluar dari ruang kerja Alvero.


Sedang dari arah lain, tepat seperti dugaan Evan, tampak Ernest yang berjalan ke arah ruang kerja Alvero menyusul mereka. Dan pastinya kedatangan Ernest atas perintah Alvero untuk memastikan semuanya baik-baik saja, karena Evan dan Alaya tidak segera kembali ke ruang makan istana, dimana mereka yang ada dengan wajah penasaran mereka sedang menunggu kabar selanjutnya tentang rencana pertunangan dari Evan dan Alaya.


Alaya yang wajahnya masih terlihat tegang setelah pembicaraannya dengan Evan yang tidak membuahkan hasil, kali ini memilih mengambil sikap seperti gadis penurut dengan berjalan tepat di belakang Evan tanpa menunjukkan sikap protes lagi.


Lebih baik aku mengibarkan bendera genjatan senjata dulu sebelum aku bisa menemukan cara yang tepat untuk membuat duke Evan menyerah tentang aku. Laki-laki ini harus dilawan dengan cara yang cerdik, tidak bisa dengan cara sembarangan seperti yang sudah aku lakukan dua hari ini.


Alaya berkata dalam hati, sambil melirik ke arah Evan dengan tatapan tidak percaya, melihat bagaimana tenangnya sikap Evan sebagai duke dengan label jenderal besar dalam menghadapinya selama 2 hari ini.


(Gencatan senjata adalah penghentian perang atau konflik bersenjata apa pun untuk sementara di mana kedua belah pihak yang terlibat setuju untuk menghentikan tindakan agresif masing-masing. Pengertian lain gencatan senjata adalah penangguhan permusuhan atau peperangan dalam jangka waktu tertentu. Masa penangguhan ini digunakan untuk menyelesaikan konflik antara kedua belah pihak. Gencatan senjata bisa dinyatakan sebagai bagian dari perjanjian formal, tetapi bisa juga sebagai bagian pemahaman informal antara kedua belah pihak. Tidak ada perjanjian yang ditandatangani, dan setelah beberapa hari peperangan kembali berlanjut).

__ADS_1


Bagi Alaya, jika itu Alvero, mungkin laki-laki itu pasti sudah menunjukkan sikap marah dan tersinggung jika ada seseorang yang berani menantangnya seperti yang sudah dia lakukan pada Evan.


Hanya saja, Alaya tidak tahu dengan jelas semua peristiwa yang pernah terjadi antara Alvero dan Deanda sebelum mereka berdua menikah, sehingga dia tidak tahu bagaimana seorang Alvero telah melakukan banyak hal yang terlihat mustahil dan kadang konyol, sudah dilakukan oleh seorang penguasa seperti Alvero pada Deanda, karena begitu besarnya rasa cinta raja muda itu pada Deanda, sejak awal pertemuan mereka di dpean mall.


Pertemuan di hari yang sama dengan waktu Evan bertemu dengan Deanda untuk pertama kalinya dan juga tertarik pada gadis cantik itu.


Alaya memang belum pernah tahu, bagaimana seorang pria bisa bertindak di luar nalar dan kebiasaannya, jika itu menyangkut tentang wanita yang dicintainya.


Dan tanpa disadari oleh Alaya, inilah yang sedang terjadi antara dirinya dan Evan sekarang.


Sosok Evan yang tampan dan juga ramah, meskipun tampak selalu menyungingkan senyum manisnya bak seorang malaikat, dia tidak pernah mentolerir setiap kesalahan dan sikap kurang ajar seseorang padanya karena sikap tegas yang dimilikinya, yang sejak kecil memang hidup dan dibesarkan di lingkungan militer yang dikenal keras dan juga disiplin.


Bagi Evan, kehadiran Alaya dan semua tingkah lakunya beserta sikap ekspresifnya, justru membuat Evan merasa senang, gemas dan lucu bercampur jadi satu. Dan itu membuat Evan justru ingin selalu menggoda gadis itu.


# # # # # #


Setelah mereka berdua berjalan beriringan ke arah ruang makan istana tanpa saling berbicara satu sama lain, Alvero yang melihat kedatangan mereka segera memberikan tanda melalui matanya kepada Alaya agar segera duduk di tempatnya semula.

__ADS_1


Melihat tatapan tajam Alvero yang jelas-jelas masih tidak terima dan ingin menegur ketidaksopannya pada Evan, Alaya hanya bisa menghela nafasnya, dan dengan gerakan malas menuruti perintah dari Alvero, duduk di dekat Larena yang langsung mengelus pahanya dengan lembut, mencoba menenangkan Alaya.


“Maaf jika pembicaraan pribadi kami berdua membuat Anda sekalian menunggu kami terlalu lama.” Dengan sikap dan nada suara sopan, Evan berkata kepada yang lain, yang hanya bisa menanggapi perkataan Evan dengan sebuah senyuman dan anggukan kepala.


Posisi tinggi dari seorang duke seperti Evan, tentu saja mereka yang ada di tempat itu tidak akan berani mengatakan tidak pada Evan, kecuali Alvero yang justru terlihat dengan begitu jelas, mendukung Evan sepenuhnya.


“Tidak masalah, kami juga jadi memiliki banyak waktu santai setelah acara makan malam, dimana biasanya kami akan langsung kembali pada kegiatan kami masing-masing.” Alvero langsung menanggapi permintaan maaf Evan.


“Terimakasih Yang Mulia.” Ucapan terimakasih dari Evan, dibalas dengan sebuah anggukan kecil dari Alvero.


“Jadi bagaimana hasil dari pembicaraan kalian berdua? Kira-kira kapan kalian akan melangsungkan pertunangan kalian?” Pertanyaan Alvero membuat Alaya semakin terdiam seribu bahasa, dan kali ini dia benar-benar tidak berani melirik apalagi menatap ke arah Evan.


“Untuk masalah itu, lebih baik keluarga kita, para orangtua saling bertemu terlebih dahulu dan memutuskan bersama tentang tanggal dan waktu pertunangan itu.” Perkataan Evan yang membuat Alaya seolah mendapatkan kesempatan untuk memikirkan cara membatalkan perjodohan mereka, cukup membuat Alaya merasa sedikit lega dan bersorak dalam hati.


Baik Larena, Vincent maupun Danella terlihat senang mendengar perkataan Evan yang menunjukkan bagaimana dia tetap menghormati orangtua dan melibatkan mereka dalam keputusan besar itu, meskipun sebenarnya dengan posisinya dia berhak memutuskan langsung tentang hal itu.


“Kalau begitu, kira-kira kapan kita bisa melakukan pertemuan tersebut?” Alvero kembali bertanya kepada Evan.

__ADS_1


“3 hari lagi saya harus melakukan tugas di perbatasan Yang Mulia. Mungkin butuh 3 sampai 4 hari saya tinggal di sana. Setelah saya kembali, kita bisa jadwalkan pertemuan kedua keluarga kita.” Evan berkata sambil memandang lurus ke arah Alvero.


“Baik, kalau begitu mungkin 10 hari dari sekarang, kita akan melakukan pertemuan keluarga Adalvino dan keluarga Carsten. Untuk waktu, setelah duke Evan kembali ke kota Tavisha, kita akan bahas sebelum pertemuan berlangsung. Dan mungkin… setelah menetapkan tanggal pertunangan kalian, aku harus segera memberikan jawaban kepada pihak keluarga kerajaan Rodfeel.” Alvero langsung memberikan keputusan tentang tanggal pertemuan antar kedua keluarga mereka.


__ADS_2