
Sinta pergi mengikuti dokter, sesampainya di ruangan, dokter langsung menyampaikan kepada Sinta kalau Nadia harus segera ambil tindakkan operasi kalau gak bisa bahaya, Sinta yang binggung gak tahu mau berbuat apa terpaksa ia tanda tangan surat perjanjian itu agar Nadia bisa cepat mendapatkan penanganan, kalau tunggu lama-lama bisa fatal nanti.
Setelah selesai persetujuan dari Sinta Dokter langsung perintahkan suster dan dokter yang lain agar segerah melakukan tindakan opersai, Sinta yang melihat Nadia yang di bawa ke ruang operasi gak kuat menahan tagisnya.
"Ya Tuhan mas Surya dengan mama kemana sih, kok gak ada satu orangpun yang menjaga mbak Nadia disini. Eh aku lupa nanya kenapa polisi itu dari tadi ada disini ya. Biar aku telpon mama aja deh."
Sinta segerah mengambil hpnya dan hendak mau menelpon sang mama, satu kali gak di angkat sampai ketiga kalinya Sinta telpon baru bu Ayu angkat telpon Sinta. Tapi suara bu Ayu seperti lemah sekali, Sinta langsung bertanya Surya kemana kok gak bisa datang ke rumah sakit padahal Nadia sakit.
"Hallo mah, mama diman terus mas Surya dimana sih, Mbak Nadia lagi sakit mah di rumah sakit kenapa kalian gak ada satu orangpun yang datang menjaga mbak Nadia, tolong mah, bilang sama mas Surya datang ke rumah sakit."
"Iya Sinta nanti mama datang kesana kamu tunggu disana aja nanti baru mama jelaskan" ujar bu Ayu.
Sinta langsung matiin hpnya dan duduk di ruang tunggu karena Nadia sedang di tangani dokter untuk keluarkan anak yang ada dalam kandungannya, karena salah satu penyebab bayinya meninggal itu disebabkan kandungan Nadia masih dua bulan lebih jadi masih sangat rentan.
Dan juga karena Nadia sudah berulang kali benturkan di lantai, yang terakhir itu adalah dorongan kuat yang di lakukan oleh Aris sampai jatuh tersungkur ke lantai, dan sebelumnya perut Nadia tak sengaja bentur kena tempat duduk yang ada di ruang tunggu kantor polisi, karena dengan itulah yang membuat Nadia mengalami keguguran dan pendarahan Hebat, dokter juga sempai menyampaikan sesutu ke Sinta kalau bisa jadi, Nadia harus melalukan pengankatan rahim, membuat Sinta syok.
"Ya Tuhan apakah separah itu mbak Nadia alami, kalau memang benar seperti itu dan mbak Nadia gak akan hamil lagi, ini karma buat mbak Nadia dan Mas Surya karena sudah pernah menghina mbak Cessie mandul dan gak punya anak dan efek dari situlah mas Surya selingkuh dari mbak Cessie, ini juga kesalahan terbesar mama, biarlah mereka yang merasakan"
__ADS_1
"Semoga aku di ampunih oleh Allah karena dulu aku juga jahat sama mbak Cessie sekarang aku malu kalau ketemu sama mbak Cessie, maafin Sinta ya mbak kemarin waktu kita ketemu Sinta benar-benar ketakutan kirain mbak mau akan pecat Sinta namun ternyata gak, mbak mala kasih Sinta uang".
"Sinta jadi ingat dengan perkataan mbak Eva, bahwa kami akan menyesal telah memperlakukan mbak Cessie seperti itu, ternyata benar belum apa-apa aja sekarang sudah ada penyesalan dalam diri ini, saya yakin mbak Nadia pasti akan sangat syok dan terpukul pas tahu kenyataan pahitnya, bukan hanya kehilangan janin yang ada dalam kandungannya tapi juga, terpaksa rahimnya harus di angkat kalau gak itu sangat berbahaya."
Ya jadi waktu Sinta masuk ke ruang dokter, bukan hanya operasi keluarkan janin yang disampaikan oleh Dokter, tapi juga untuk kemungkian besar rahim Nadia juga harus dilakukan pengangkatan kalau tak mau membahayakan nyawanya.
Sinta yang duduk termenung ruang tunggu rumah sakit, tiba-tiba bunyi perut.
Krukkkk krukkkk!!
ternyata ada seorang laki-laki paru baya duduk bersandar di kursi ruang tunggu dengan muka kelihatan banyak beban pikiran yang terlihat begitu berat ia pikul, namun pas ia mendengar bunyi perut Sinta sontak ia menoleh dan menegur Sinta." Nak kamu nungguin siapa disini, apa ada keluarga kamu yang sakit. Kamu itu lapar pergi makan dulu." ujar pria paru baya itu sedangkan Sinta hanya nyegir kuda.
Pria tua yang melihat Sinta seperti itu sontak ia mengelus kepala Sinta sembari berkata. Jagan kamu sedih serahkan aja semua sama Tuhan, saya disini juga lagi menjaga istri saya, yang sekarang lagi opersai pemasangan ring karena istri saya mengalami penyakit jantung kronis jadi harus cepat operasi."
"Memang kak ipar kamu kenapa nak? Terus suaminya mana kok gak ada?" entah kenapa pak tua itu juga gak berhenti bertanya, mungkin penasaran.
"Kak ipar saya mengalami keguguran dan dengan terpaksa rahimnya harus di angkat karena kata dokter ada benturan keras yang mengakibatkan rahim kak ipar bermasalah. Saya hanya kasian sama kak ipar saya pak gak tahu nantinya kalau dia sadar terus tahu anak dan harimnya sudah gak ada. Entah apa yang harus saya sampaikan kepadanya, dan Mas saya gak tahu kemana, saya telpon dari tadi tapi nomornya gak aktif, padahal tadi pagi semuanya masih baik-baik saja."
__ADS_1
"Memangnya apa yang membuat kak ipar kamu mengalami hal ini nak, kok bisa kak ipar kamu mengalami hal semacam ini"
"Justru itu pak saya juga gak tahu apa penyebabnya, saya juga tahu dari mantan kak ipar saya, ia masih baik hati menelpon saya untuk beritahu kalau kak ipar ada di rumah saki......."
Krukkkk krukkkk!!!
Astaga memang kurang ajar nin perut orang lagi asyik bercerita mala menganggu aja, bikin malu sinta aja, karena pak tua itu mendengar bunyi perut Sinta jadi senyum sembari berkata" Nak mendingan kamu pergi cari makan kamu sudah sangat laparkan, jangan sampai kamu sakit bahaya."
"Iya pak makasih, oh ya bapak sudah makan? Tanya Sinta lagi belum nak tapi saya belum lapar.
Akhirnya Sinta pergi menuju ke kantin rumah sakit untuk membeli makan, ternyata Sinta gak langsung makan di kantin ia membeli dua bungkus nasi padang dan dua botol air mineral dan kembali ke ruang tunggu. Ternyata ia masih mendapati orang tua itu disana duduk sendiri, Sinta memandang wajah orang tua itu sepertinya banyak sekali beban yang ia pikul.
Sinta duduk kembali disamping orang tua itu sembari berkata" pak yuk kita makan, bapak juga belum makankan? Kebetulan saya beli dua biar kita isi perut, bapak harusakan agar bisa kuat menjaga istri bapak, kalau bapak sakit siapa yang akan menjaga istri bapak yuk, kita makan, sinta menyodorkan satu nasi bungkus ke arah pria tua itu, awalnya ia menolak tapi karena Sinta berkata seperti itu akhirnya pak tua itu mau.
Orang tua itu memandang Sinta dengan tatapan sedih, sembari sembari tanya" nak memangnya mas kamu sudah perna menikah."?
"Iya pak, tapi Mas saya sudah dalam proses cerai dengan istri pertamannya"
__ADS_1
"Loh memang kenapa" tanya Pak Yanto tapi karena Sinta sudah lapar jadi ia mengalihkan pembicaraannya.
"Yuk pak kita makan dulu."