Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo

Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo
157


__ADS_3

Mbak Eva mengantungkan perkataannya, ia menghela nafas dan menghembuskannya. Mbak Eva terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat agar Surya gak marah karena mereka sudah berani membawah bu Ayu kerumah sakit jiwa.


"Mbak kenapa mala diam sih, sebentar lagi waktu kunjungan habis loh." ujar Surya, namun perkataan Surya benar adanya kalau lama-lama sebentar lagi waktu habis.


" Sebenarnya....." mas Bram yang melihat keraguan istrinya mengelus bahunya.


"Katakan aja sayang gak usa takut." ujar mas Bram.


"Sebenarnya....mama sudah kami bawah ke rumah sakit jiwa" ujar mbak Eva.


"Apa.....mbak, mama, kalian masukan ke rumah sakit jiwa? keterlaluan kalian mbak, Sinta kalian tega membuang mama ke tempat itu. Dimana hati nurani kalian ha.." bentak Surya.


"Surya kamu dengarkan dulu penjelasan mbak kamu, jangan kamu asal marah aja tapi kamu gak tahu apa yang terjadi sama mama, setelah pulang dari persidangan kamu, seharusnya kamu berpikir kenapa mama bisa mengalami hal seperti itu, semua terjadi karena kelakuan kamu, jadi jangan kamu bentar istriku dan Sinta." ujar mas Bram kembali membentak Surya.


"Diam mas ini urusan aku, dengan mbak Eva dan Sinta bukan urusan mas." ujar Surya emosi.


"Ini jelas urusan mas, karena yang kamu bentak adalah istri mas, yang selama ini mas aja sebagai suami gak perna berlaku kasar padanya, ini sudah kesekian kalinya kamu memperlakukan istri mas begini ya Surya, selama ini mas sabar. Tapi kali ini gak. Karena kamu sudah marah biar mas aja yang jelaskan biar kamu tahu dan intropeksi diri."


"Semenjak kamu, di tangkap polisi dan Nadia gundik kamu itu masuk rumah sakit, disitu mama sudah mulai beruba, awalnya banyak diam, lama-lama mama bicara sendiri. Padahal gak ada orang bersama dia. Nama kamu yang selalu mama sebutkan sampai ia gak mau makan, namun kondisinya masih bisa diatasi kalau kita ajak bicara mama masih nyambung. Dan kalu di ajak makan ia masih mau, walaupun harus dengan bujuk rayu."


Namun mama makin parah setelah kemarin pulang dari persidangan kamu, di pengadilan semejak pulang dari sana biasanya hanya diam kali ini gak, mama ngamuk didalam kontrakan sampai para tetanga berdatangan karena mereka pikir kami ada bertengkar, sepanjang malam mama gak bisa tidur, kerjanya kalau gak nangis, tertawa. Kalau gak bicara sendiri. Setelah itu dia ngamuk lagi dan semua barang yang ada dalam kontrakan dia hancurkan".


"Mas berpikir kalau nanti mama di biarkan begitu terus bukannya makin lebih baik, tapi mala memperburuk kondisi mama, apalagi kamu sudah disini, Sinta sibuk kerja cari uang untuk biaya hidup, kalau Sinta gak kerja mau makan apa, bayar kontrakan pake apa, beli obat mama pake apa? Sedangkan kamu disini bisa apa, bisanya marah-marah terus salahin orang yang bukan kesalahan yang ia lakukan begikah maksud kamu."


"Kami mengambil keputusan itu bukan berarti gak sayang sama mama, justru karena sayang sama mama, sehingga dimasukan kesana supaya mendapatkan perawatan yang baik dan cepat sembuh agar pulang ke rumah. Lagian kasian Sinta ia pergi kerja terus siapa yang merawat mama dirumah, kamu bisa berpikir gak?"

__ADS_1


"Seharusnya kamu disini berterimah kasih sama Sinta dan mbak kamu masih mengurus mama. Kamu pikir mama gak makan biaya. Kalau Sinta gak kerja terus yang biayah mama siapa, mas palingan bantu sebagian. Jadi tolong kamu gak egois, buang ego kamu itu jauh-jauh, seharusnya kamu menyesal telah membuat mama depresi hingga masuk rumah sakit jiwa."


"Mas heras sama kamu, kok gak ada perubahan sedikitpun dalam diri kamu. Selalu menyalahkan orang lain atas perbuatan kamu, buang tuha keegoisan kamu"


Ini semua karena sih wanita gila itu, dia berani masukan aku kedalam sini. Tahu aku kayak gini dulu aku bunuh dia.


Prakkkkk...prakkkkkk!!


"Maksud kamu apa maki orang, seharusnya kamu bersukur Cessie dan keluarganya gak menuntut kamu lebih. Kamu masuk kesini karena kebodohan yang kamu lakukan, jadi jangan suka menyalahkan orang lain, semoga Cessie gak menjauhkan kamu dari anaknya. Kalau aku di posisis Cessie aku gak sudih membiarkan anakku bertemu dengan laki-laki bejat seperti kamu."


Mas Bram melayangkan du tamparan mendarat sempurna di pipi Surya.


Kali ini mas Bram benar-benar muak dengan tingkah Surya, yang merasa paling benar, memang selama ini, mas Bram gak perna berkata kasar sama adik iparnya itu. Tapi kali ini ia benaran muak melihat tingkah Surya.


"I iya..tapi sengaknya bilang dulu sebelum bawah mama kerumah sakit jiwa, siapa tahu ada solusi lain"


Belum selesai mereka bicara.. Datang petugas lapas.


"pak, bu. Maaf jam kunjungan sudah habis, mungkin bisa datang lagi besok"


Akhirnya Surya dibawah kembali masuk kedalam sel tahanan, sedangkan mbak Eva, Sinta dan mas Bram, keluar dari lapas dan menuju ke parkiran.


" Tumben mas marah sama Surya, selama ini mas gak perna bersuara keras begitu. Jadi takut" ujar mbak Eva disambut gelak tawa oleh Sinta dan mas Bram.


"Iya benar juga, Sinta gak perna lihat mas semarah tadi, baru kali ini Sinta lihat mas marah, ternyata menakutkan juga" kali ini mas Bram yang terkekeh.

__ADS_1


"Oh jadi kalian mau mas marah"?


"Eh...jangan mas" ujar Sinta dan mbak Eva kompak membuat mas Bram menaikan kedua alisnya sambil tersenyum. Lucu pikirnya sangking takut mereka mas Bram marah sampai segitu ekspresi mereka berdua.


"Haahha kalian berdua lucu, bisa juga kompak begitu ya, tapi mas gak berani marah sama kalian berdua, apalagi seorang wanita karena menurut mas wanita itu adalah sebuah makluk yang harus kita jaga dan kita sayangin bukan untuk dikasarin.


Mbak Eva yang mendengar itu yang peluk mesra suaminya. Dan sekali berikan ciuman di pipinya membuat Sinta melogo.


"Hey....jangan mengotori mataku..." ujar Sinta menutup matanya sedangkan kedua makluk itu mereka mala tertawa lepas tanpa dosa.


"Yuk kita pulang sekalian cari makan sudah kelaparan nih, dari tadi dilapas cacing sudah meminta makan."


"Astaga mbak bukannya tadi kita bari sarapan ya sebelum ke rumah sakit, masa sudah lapar, cacing apa itu sampai kelaparan begitu."


"Entahlah mbak juga binggung."


Mereka masuk kedalam mobil dan melaju keluar dari lapas.


Karena ini sudah siang juga mereka memilih untuk isi perut dulu sebelum pulang agar cacing yang ada dalam perut gak merontah-rontah. Seperti yang dikatakan mbak Eva. Tiga puluh menit mereka cari keliling tempat yang aman untuk makan akhirnya mereka mendapatkan, rumah makan, tempatnya kalau dilihat dari luar biasa aja, tapi kalau masul sampai didalam ternyata, bagus dan nyaman.


Mereka cari tempat yang nyaman setelah mendapatkan mereka duduk dan langsung pesan makanan. Mbak Eva dan yang lain pesan dengan selera masing-masing. Tak lama mereka pesan, akhirnya makanannya datang juga, mereka langsung melahap makanan itu sampai tak tersisah, apalagi waktu dari lapas sudah pada lapar semua, jadi apa yang sudah di pesan dihajar semua tanpa sisa.


******


Hay para pembaca setia...makasih sudah mendukung karya saya sejauh ini. Maaf masih banyak kesalah.

__ADS_1


Bisa mampir ke karya baru( Menantu Yang Dikira Miskin Ternyata Soerang Tuan Muda).


__ADS_2