Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo

Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo
227


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain setelah Sinta pulang dari lapas dia lebih murung dari biasanya, ia memikirkan sifat Surya yang tidak perna beruba. Padahal sudah di dalam peenjara juga bukannya intropeksi diri dan bertobat agar orang yang pernah di sakitinya memaafkannya.


"Aku heran sama mas Surya belum kapok juga, jadi nyesal aku datang kesana mengunjunginya. Tahu kayak gini aku gak datang cape-cape sampai disana hanya menelan rasa kecewa." gumam Sinta dalam hati


Sepanjang jalan Sinta pulang kontrakanya merutuki kebodohannya di dalam hati.


Tahu aku kayak gini mendingan tadi aku kerja aja dari pada buang waktu sia-sia. Ah inikah masih siang juga aku pergi jenguk ibu aja deh sudah lama semenjak ibu masuk ke rumah sakit aku belum perna datang padahal sudah pernah ditelpon oleh suster.


Akhirnya Sinta mengubah rute jalannya ia gak jadi pulang ke kontrakan tapi ia langsung ke rumah sakit, kebetulan cuti jadi sekalian kalau besok-besok pasti gak ada waktu lagi.


"Pak ganti jalur ya sekarang kita ke rumah sakit jiwa aja pak" ujar Sinta


"Baik neng bisa ubah di aplikasih aja neng" jawab pak sopir


Akhirnya Sinta memutuskan untuk pergi kerumah sakit untuk menjenguk sang ibu disana. Harapan Sinta semoga ibu Ayu cepat sembuh dan kembali pulang berkumpul dengannya.


Hampir satu jam lebih akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Sinta turun dari dalam mobil dan membayar ongkosnya, Sinta melangkah masuk kedalam rumah sakit ia melalui koridor rumah sakit dan menemui suster yang merawat ibu Ayu.


"Selamat siang sus" ujar Sinta.


"Ia selamat siang mbak ada yang bisa saya bantu?" tanya suster.


"Saya Sinta sus anak dari seorang pasien yang di rawat disini yang bernama ibu Ayu sus, boleh saya ketemu dengan ibu saya sus" ujar Sinta.


"Oh, ya. Ini sama mbak Sinta ya yang perna saya telpon"? ujar suster


"Iya benar sus, boleh saya ketemu dengan ibu saya sus, bagaimana perkembangannya sus" tanya Sinta.

__ADS_1


"Lebih baik mbak Sinta ketemu dulu dengan bu Ayu baru nanti saya jelaskan perkembangannya, yuk mari ikut saya mbak"


Sinta mengikuti kemana suster membawahnya pergi, sampailah di sebuah ruangan pintunya belum dibuka oleh suster takutnya bu Ayu tiba-tiba ngamuk, karena biasanya kalau pas waktu baiknya bu Ayu tenang tapi pas waktu tidak baik bu Ayu justru ngamuk.


Sinta dan suster masih berdiri di depan pintu sedangkan bu Ayu ada didalan kamar, karena bu Ayu lagi duduk membelakangi ke pintu jadi dia tidak melihat kedatangan Sinta.


Sinta memandang sang ibu dengan rasa iba karena bu ayu agak sedikit kurus walaupun bersih bisa dibilang terawat tapi kurus mungkin karena pengaruh sakitnya.


Tidak terasa bulir bening lolos begitu saja membasahi pipi Sinta. Dasar kamu ya mas, seharusnya kamu sadar diri dan bisa beruba agar kamu melihat ibu seperti ini aku tahu memang ibu salah dulu menjodokan kamu dengan perempuan ****** itu tapi tidak sampai mbak Cessie melaporkan kalian ke polisi.


Kamu masuk kesitu mas karena perbuatan serakah kamu korupsi, itu bukan salah ibu karena selama ini ibu tidak perna menyuruhmu korupsi. Kamu tunggu aja mas memang awalnya aku sudah janji tidak datang lagi kesana tapi setelah aku melihat kondisi ibu, aku berpikir mungkin aku harus kembali datang ke lapas untuk memberikan kamu peringatan biar kamu lihat seperti apa kondisi ibu disini.


Sinta mengeluarkan hpnya dan mengambil foto ibunya ia simpan di hpnya untuk menunjukan ke Surya. Setelah itu Sinta kembali menghapus air matanya.


"Sus boleh saya masuk, sepertinya ibu saya tenang," tanya Sinta


"Boleh mbak tapi jangan keras-keras suara ya saya tetap menunggu disini takutnya tiba-tiba pasien ngamuk." ujar suster


Pintu langsung terbuka dan masuklah Sinta kedalam, dan memanggil bu Ayu.


"Bu.. Ini Sinta...Sinta datang menjenguk ibu, apakabar bu?" tanya Sinta


Bu Ayu menoleh dan memandang Sinta dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan tatapan tajam, membuat Sinta agak sedikit takut. Tapi ia berpikir tidak mungkin ibunya mau mencelakainya.


Namun yang membuat Sinta terkejut adalah tiba-tiba bu Ayu melangkah mendekati Santa dengan mata berkaca-kaca.


"Sinta...nak kamu datang menjenguk ibu, kamu kemana aja selama ini ibu nungguin kamu disini sama mas kamu, tapi mas kamu mana Sinta kenapa kamu datang tidak ajak mas kamu dengan istri dan anaknya cucu ibu pasti sudah besarkan nak" tany bu Ayu

__ADS_1


Sinta pikir ibunya sudah pulih ternyata belum, masih ada kurang-kurangnya. Tapi Sinta percaya ibunya cepat sembuh.


"Maaf bu, mas Surya lagi banyak kerjaan jadi dia tidak bisa jenguk ibu tapi ibu tenang aja nanti kalau mas Surya tidak sibuk lagi Sinta ajaknya kesini untuk jenguk ibu ya"


Hiksss....hikssss!


"Ibu maunya sekarang ibu tidak mau nunggu lama-lama, cepat pulang dan jemput mas kamu dengan istri dan cucu ibu, pokoknya kalau kamu kesini tidak dengan mereka tidak usa datang lagi pergi....pergi siapa kamu, kamu bukan anakku."


Hati siapa yang tidak sakit melihat ibunya sakit seperti itu, hati Sinta benar-benar sakit biarpun dia di usir sama ibunya tapi setidaknya tadi sudah sempat memeluk ibunya jadi hatinya sudah legah.


Karena bu Ayu teriak kencang pas mengusir Sinta membuat Sinta terkejut begitu juga dengan suster tapi Sinta maklumi dengan kondisi mental sang ibu. Ia keluar dari ruangan itu karena bu Ayu makin menjadi-jadi mengamuk di dalam ruangannya.


Datang seorang dokter dan menyuntikan bu Ayu obat penenang baru bu Ayu tenang dan dibiarkan bu Ayu istirahat oleh dokter dan pintunya kembali di kunci.


Sinta mendatangi dokter dan menanyakan perihal kondisi ibunya saat ini.


"Dokter boleh saya tahu perkembangan kondisi ibu saya"


"Baik mbak boleh ikut saya biar saya jelaskan di ruangan saya saja karena kalau disini bisa menganggu pasien lain."


"Baik dok"


Sinta mengikuti dokter keruangannya untuk mengetahui kondisi ibunya, tapi kalau Sinta lihat sudah ada perkembangan dalam kondisi bu Ayu, sudah banyak perubahan waktu awal-awalnya bu Ayu teriak dan menangis tapi sekarang lebih banyak tenang.


Saat sampai di ruangan Sinta di persilahkan duduk oleh dokter.


"Silakan duduk mbak, jadi begini kalau saya perhatikan sudah banyak perubahan dan perkembangan dalam kesembuhan bu Ayu seperti awal masuk mbak tahu sendiri bu Ayu ngamuk dan susah didiamkan, tapi sekarang hanya sekali-sekali saja."

__ADS_1


"Baik dokter makasih banyak atas kebaikan dokter yang sudah merawat ibu saya disini harapan saya semoga ibu saya cepat sembuh dan bisa kembali berkumpul bersama kami"


Harapan Sinta adalah harapa para suster dan dokter juga mereka juga mengharapkan pasien mereka cepat sembuh.


__ADS_2