
Bu intan lantas segera mengirimkan video tersebut ke hp putrynya, setelah selesai semuanya mereka masuk ke kamar masing-masing kalau Faya tetap tidur dengan Cessie, karena baik Faya maupun Cessie mereka gak pengen tidur pisah, biasa sahabat baik selalu lengket kayak prangko.
Setelah sampai di kamar Cessie duduk termenung di pinggir tempat tidur, ia masih memikirkan ucapan hinaan yang di lontarkan oleh mantan suaminya terhadap dirinya dan anak yang dikandung, yang lebih sakit lagi pas didepan orang tuanya lagi, kok bisa ya laki-laki sebejat mantan suaminya itu kenapa dulu ia bisa mencintainya, ada sebuah penyesalan timbul dari dalam hati Cessie.
Bukan hanya penyesalan tapi ada juga timbul rasa benci terhadap mantan suaminya itu," saya akan pengangg kata-kata kamu Surya, ingatlah anak yang ada dalam kandungan saya ini bukan anak kamu melainkan anak saya sendiri. Jangan pernah berpikir kalau saya akan mempertemukan kamu dengan anak saya, itu gak akan perna terjadi."
Bukan hanya hati Cessie yang di lukai oleh Surya tapi juga hati anaknya kalau nanti anaknya lahir dan tumbuh menjadi besar, terus tahu kalau ayahnya gak pernah mengakuinya, sebagai anak pasti itu akan menjadi luka besar dalam hati anak tersebut, jadi gak heran kalau Cessie jadi menyesal dan ada timbul rasa benci dihatinya.
Faya melihat Cessie termenung bahkan air mata Cessie mengalir begitu saja tanpa ada suara, orang yang menangis dalam diam itu akan menyimpan luka dan kebencian sangat dalam. Faya duduk disamping Cessie dan menghampus air matanya dan merangkul Cessie"
"Cess gue tahu seperti apa yang lo rasakan saat ini gue bukan di posisi lo aja timbul rasa benci terhadap mantan suami lo, tapi lo harus ingat satu hal, ini" Faya menunjuk perut Cessie" ini yang harus lo jaga cessie dia sudah di tolak sama ayahnya... Eh bukan dia gak pantas di sebut ayah, dia sudah di tolak bahkan ada perkataan hinaan dari mulut bajingan itu, jadi gue mau lo harus kuat dan jadi ibu yang baik buat dia kelak dia lahir berikan kasih sayang yang penuh agar dia gak merasakan sakit karena pernah di tolak."
"Gue mas Aris, om dan tante bahkan Dokter Julio sangat menyayangi lo, saat ini lo gak sendiria gue selalu ada buat lo. Jadi mulai sekarang jaga kandungan lo dengan baik, tunjukan ke bajingan itu kalau lo bisa rawat anak lo tanpa dia. Jagan lo lemah begini Cessie yang gue kenal yang tegas dan tegar itu mana tunjukin ke gue."
Cessie memandang Faya dengan senyum sembari berkata" makasih ya Fay lo bukan hanya sahabat gue tapi lo sudah jadi saudara gue maafin gue karena buat kalian kuatir, gue hanya gak terimah aja anak gue di gituin Fay. Memang sih belum lahir tapi pasti ia juga merasakan keresahan hati ibunya." Cessie membalas pelukan Faya.
__ADS_1
"Yuk kita istirahat nanti kalau lo sakit gue dimarahin lagi sama pak dokter" ujar Faya pura-pura cemberut
"Ha kenapa lo di marahin, maksudnya marahain pak Dokter siapa"? Tanya Cessie
"Yaelah pak dokter siapa lagi Cess, kalau bukan dokter bucin Julio, dia itu selalu ngingatin gue untuk menjaga lo, katanya kalau nanti lo kenapa-kenapa gue yang tanggung jawab kan lucu."
"Hahha kapan di bilang gitu terus lo mau juga gitu ngikutin perkataannya."
"Ya gue ikutinlah bambang, secarakan gue juga emang pengen jangain lo, tanpa diminta pun gue memang kuatir ama lo. Gue gak lo kenapa-napa Cessie.
"Makasih banyak Fay...makasih karena lo udah baik banget ama gue Faya selama ini, semoga lo berjodoh dengan kak Aris biar kita tinggal sama." ujar Cessie cengegesan padahal tadi nangis.
"Hahaha doa lo itu Cess, tapi semoga aja ya gue gak berharap lebih soalnya mas Aris kaku banget."
"Yaudah yuk kita tidur, sudah jam sembilan nih," ujar Faya.
__ADS_1
"Tunggu dulu gih, gue bersihkan lagi wajah ini soalnya tadi nangis hahaha" ujar Cessie langsung gegas pergi ke kamar mandi, sedangkan Faya sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil main hp.
Tak lama Cessie keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar dan fres, ka dudul di depan meja rias dan mengoleskan sedikit cream di wajahnya, setelah selesai Cessie langsung baringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan tak lama terlelap mereka berdua.
Sedangkan di rumah sakit setelah perdebatan panjang dan baik Sinta, mbak Eva maupun mas bram yang mengetahui semua kedok Nadia, gak ada satupun yang mau menjaganya padahal Nadia belum sepenuhnya pulih, jadi sekarang Nadia di tinggal seorang diri di rumah sakit bahkan uang administrasi juga belum di lusani sama Sinta.
Membuat Nadia menyesal karena terlalu buru-buru menyampaikan hal itu, coba seandainya ia menaham diri sampai sembuh baru luapkam semua kekesalan dan rasa bencinya, nah sekarang semua pada pergi jadi gak ada yang mau menjaganya bahkan uang rumah sakit juga gak mau di bayar sama Sinta dan mbak Eva.
"Argh....bod**h banget sih, kenapa harus buru-buru jadi gak ada lagi kan yang mau jagain aku, hmmm sial banget sih hidup ku mala semua kartu bank ku di bekap lagi, apes banget hidup ini, bagaimana ya caranya aku bisa lolos dari sini tanpa bayar uang rumah sakit dan gak di kenali sama polisi yang ada di luar."
Tiba-tiba terlintas ide di pikiran Nadia agar ia secepatnya bisa keluar dari rumah sakit, dan kabur supaya ia gak di penjara ia akan pergi ke luar negeri untuk menemui Iksan disana.
padahal Nadia gak tahu kalau keluarga Iksan ada di satu negara bersamanya bahkan satu kota mala. Sekarang Nadia sudah siap dengan segala resiko memang sih perutnya masih sakit kalau banyak bergerak agak nyerih, tapi demi biar bisa bebas dari kejaran polisi dan bayar rumah sakit. Nadia nekat melakukannya.
Nadia masuk kedalam kamar mandi karena mau buang air, ia berusaha sendiri, karena biasanya yang membantu itu Sinta namun sekarang Sinta sudah gak peduli lagi dengannya bahkan Sinta berani berlaku kasar sama Nadia karena sudah jahat.
__ADS_1
Memang dia lakukan itu karena balas dendam kematian kaknya tapi kan bukan begitu juga sampai menghancurkan rumah tanggah orang padahal yang melakukan orang lain tapi imbasnya ke anaknya.