Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo

Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo
114 Cerita Pak Yanto


__ADS_3

Sedangkan di rumah sakit, setiap kali Nadia sadar ia tak berhenti berteriak sehingga Sinta kewalahan menghadapi Nadia, yang selalu bersikap tak wajar. Namun setiap kali dokter datang Nadia kembali tenang mungkin karena dokter memberikan obat penenang.


Adakalahnya kasihan juga dengan apa yang sudah menimpah Nadia tapi, biarlah itu menjadi suatu pembelajaran untuknya yang sudah menghancurkan kehidupan orang lain demi keinginan balas dendamnya, banyak orang yang disekitarnya menjadi korban keegoisannya.


Sinta hari ini memutuskan untuk tak masuk kerja, karena Nadia gak bisa di tinggal apalagi bu Ayu gak bisa diandalkan, semenjak kejadian pertengkaran bu Ayu dengan Sinta, bu Ayu gak perna kembali lagi ke rumah sakit, hanya saja, bu Ayu masih kasihan dengan Sinta jadi mengirimkan sinta pakian ganti.


Karena Sinta gak sempat pulang untuk ambil, jangankan pulang kerumah, pergi kekantin beli makan aja Sinta gak sempat, karana dikit-dikit Nadia teriak. Mungkin yang dibilang dokter benar adanya kalau Nadia depresi ringan. Sebenarnya Sinta agak sedikit gak suka juga dengan Nadia yang mengingatkan pada saat masih sehat, ia memperlakukannya seperti apa, tapi disatu sisi gadis cantik itu memiliki hati juga yang baik, kalau bukan dia yang menjaga terus siapa lagi.


Sedangkan mbak Eva juga sampai sekarang belum kunjung datang, padahal mbak Eva sudah bilang kalau mereka sudah di jalan. Mala sekarang Sinta sudah kelaparan.


Krukkk krukkk!!!


"Ya ampun mana lapar lagi, mbak Eva juga belum kunjung datang apa aku kekantin aja kali ya, sepertinya mbak Nadia juga lagi tenang biar aja aku titip aja sama pak polisi ."


Sinta bangun dan hendak bergegas keluar karena memang lapar sudah melanda perut juga sudah meronta-ronta kayak bunyi petir didalam perut. Setelah Sinta minta tolong sama polisi ia bergegas ke kantin melalui koridor rumah sakit namun, pas di koridor Sinta mendapati pak Yanto yang hendak mau kekantin juga untuk beli makan.


"Eh pak, bapak mau kekantin juga? gimana dengan kondisi istri bapak sudah membaik?" tanya Sinta rama


"Iya nak, bapak mau kekantin beli makan, dan istri bapak sudah sehat mungkin besok sudah bisa pulang. Terus gimana dengan kak ipar kamu nak sudah sehat."

__ADS_1


Sinta yang mendengar pertanyaan pak yanto ia tersenyum kecut." Sama sekali belum ada perubahan pak kalau siuman sih sudah dari kemarin tapi, itu dia kak ipar saya itu depresi ringan pak karena ia keguguran dan juga terpaksa rahimnya di angkat sama dokter, itu yang membuat kak ipar saya tak terimah dan setiap kali ia sadar pasti berteriak kencang sambil menjambak rambutnya."


"Ya Allah sabar kamu ya nak, oh ya bapak kok gak pernah lihat orang lain yang menjaga kak ipar kamu selain kamu dan ibu kamu? Memangnya orang tuanya kak ipar kamu kemana, dan suaminya juga kemana" entah kenapa pak Yanto sangat penasaran dengan kehidupan kak ipar Sinta.


"Maaf pak ceritanya panjang, tapi kalau keluarga kak ipar saya sampai sekarang gak tahu mereka dimana, bisa jadi orang tuannya sudah meninggal makanya sekarang lagi hidup sebatang kara kak ipar saya pak."


Deg deg deg...."


Lagi-lagi pak Yanto merasakan jantungnya berdegup kencang, dan terasa nyerih dihatinya. Mendengar perkataan sinta kalau orang tua kak iparnya sudah meninggal. Pak Yanto menatap mata Sinta ada rasa kasian di hati pak Yanto melihat Sinta begitu baik dan tulus menjaga iparnya, terlintas di benak pak Yanto pengen tahu sebaik apa kak ipar Sinta sehingga Sinta begitu baik dan tulus menjaganya.


"Boleh banyak tanya sesuatu? tapi ini bersifat pribadi, tapi kalau kamu gak mau jawab juga gapapa nak, saya gak paksa."


"Sebaik apa kak ipar kamu itu nak sama kamu, sehingga kamu begitu baik dan tulus menyayanginya." tanya pak Yanto, namun Sinta hanya senyum pahit dan masih berpikir apakah ia menjawab pertanyaan pak Yanto atau gak.


"Sebenarnya gak ada kesan yang baik dari kak ipar saya yang sekarang pak, dibandingkan dengan kak ipar saya yang sebelumnya, yaitu istri pertama mas saya. Namun sayang mas saya dengan istri pertamanya bercerai karena hadirnya orang ketiga yang menghancurkan rumah tanggahnya, padahal istri pertama mas saya, perempuam yang baik, lembut dan sangat sopan kalau yang sekarang kasar dan suka keluarkan kata-kata yang gak pantas di dengar."


"Oh jadi yang sekarang ini istri kedua mas kamu, terus kenapa kamu mau menjaganya kalau memang dia bukan orang baik" pak Yanto terus memancing Sinta untuk bercerita ya namanya juga Sinta masih polos jadi ia ikut aja.


"Hahaha saya masih punya hati pak, biarpun kak ipar saya jahat, tapi saya kasian padanya saat seperti ini gak ada satu orang keluarganya yang datang mencarinya. Ya bisa jadi karena kelakuannya juga makanya keluarga atau orang tuanya malas mencarinya."

__ADS_1


Karena mereka sudah sampai dikantin jadi mereka pesan makanan sambil ngobrol, karena semakin Sinta bercerita pak Yanto juga semakin tertarik untuk memcari tahu soal kak iparnya. Mungkinan naluri seorang ayah walaupun anak selalu membuat kesalahan tapi tetap memiliki ikatan batin.


"Anak ini sangat polos dan baik hati, coba ini Nadia mungkin saya sangat menyayanginya. Tapi sayang sifat Nadia bedah jauh. Bahkan saya sebagai seorang ayah gak mengenal sifat anak saya sendiri, mungkin sekarang masih di kantor polisi. Biarkan ajalah disitu." gumam pak Yanto dalam hati.


Sinta yang melihat pak Yanto diam, jadi gak enak hati, ia sempat berpikir apakah ia salah bicara tadi makanya pak Yanto tiba-tiba diam saja.


"Pak maaf kalau tadi saya saya bicara"


"Hahha gapapa nak kamu tenang aja, saya hanya salut sama kamu. Kamu masih mudah tapi pikiran sudah sangat dewasa. Saya juga punya seorang putry dan seorang putra, tapi sayangnya putra saya kecelakan berapa tahu yang lalu, karena terlambat bawah ke rumah sakit, dan orang yang menabrak juga gak bertanggung jawab, ia lari meninggalkan anak saya tergeletak di tanah."


"Sekarang tinggal putry saya kalau seandainya dia masih hidup umurnya diatas kamu beda berapa tahun dari kamu. Tapi sampai sekarang saya dan istri saya tak tahu dia dimana, karena ia pergi tanpa kabar, saya sudah cari kemana-mana tapi gak ketemu juga sampai sekarang."


"Ya Allah bapak yang sabar ya, berdoa aja semoga putry bapak segera ditemukan, dan kembali lagi berkumpul bersama keluarga bapak."


"Makasih banyak ya nak, baru berapa hari kita ketemu disini tapi bapak merasa kamu seperti anak bapak sendiri, oh ya kalau boleh tahu, siapa nama kak ipar kamu nak."


"Oh nama kak ipar saya nad......."


"Neng ..pak ini makanannya" baru juga Sinta mau sebut nama Nadia tapi keburu datang si mbak.

__ADS_1


__ADS_2