
Surya dan Jo makan dengan lahap begitu juga dengan semua teman-temannya namun dalam pikiran Surya hanya tertuju kepada Sinta, Surya merasa bersalah karena tidak mendengarkan permintaan Sinta, Jo yang melihat teman satu selnya itu makan sambil melamun mengelengkan kepala.
Jo heran dengan pemikiran Surya saat keluarganya tidak ada yang datang menjenguknya Surya merasa tidak ada yang peduli dengannya, tapi giliran ada yang datang menjenguknya justu ia menunjukan sikap egoisnya sehingga keluarganya tidak suka melihatnya.
Pukkk.....Jo menepuk pundak Surya membuat surya terperajat karena kanget lagian makan sambil melamun ane aja orangnya. Di berikan perhatian justru makin menjadi serakah dan giliran gak di perhatikan bilangnya sudah gak perhatian.
"Bro kamu kenapa dari tadi kamu melamun terus, makanya jadi laki-laki jangan egois bro, kalau sikap kamu masih seperti ini aku jamin keluarga kamu gak bakal datang lagi kesini untuk menjenguk kamu, maaf..maaf nih ya seharusnya kamu bersyukur kalau keluarga kamu masih berikan perhatian sama kamu"
"Ah kamu ya Jo jangan bicara begitu aku yakin adik aku itu pasti datang tapi gak tahu kapan, biarpun aku marahin dia itu hanya sesaat nanti juga bakal datang lagi. Jadi kamu tenang saja setelah selesai makan aku mau istirahat akukayak gak enak badan"
Pede sekali sih Surya percaya kalau Sinta pasti datang lagi untuk menjenguknya iya sih rencana Sinta datang untuk menunjukan foto dan video sang ibu kepada Surya yang egois itu, biar sadar diri dia jangan hanya mementingkan dirinya saja tapi juga memikirkan kondisi sang ibu.
Padahal Surya belum masuk satu tahu juga kondisinya sudah memprihatingkan, janggutnya dan kumisnya makin panjang perut makin buncit dan rambutnya juga makin gondrong. Surya kayak gak terurus setelah mendekam di penjara. Ya siapa lagi yang mau mengurus laki-laki egois itu yang hanya memikirkan dirinya sendiri tapi tidak memikirkan orang lain.
"Haha terserah kamu aja deh bro, makasih ya makanannya enak aku sudah kenyang habiskan semua itu jangan sampai terbuang, sayang loh adik kamu sudah beli" ujar Tejo beranjak pergi Tejo sudah malas berikan saran kepada Surya yang menurut Tejo sangat keras kepala.
Tejo beranjak dari duduknya dan pergi mengambil air minum karena tadi mereka berdua belum minum jadi Tejo ambil minum untuknya dan sekalian juga di ambil untuk Surya.
"Nih bro minumnya habiskan jangan buang-buang air nanti kita gak ada air minum" ujar Tejo menyodorkan air secangkir ke Surya
Setelah selesai Jo beranjak dari duduknya dan bergeser ke kasur dan membaringkan tubuhnya disitu.
Sedangkan Surya juga sudah selesai makan dan mengambil air yang di berikan oleh Tejo dan meminum sampai habis.
__ADS_1
"hummm kenyang banget hari ini makan yang enak setelah ini istirahat"
****
Sedangkan di tempat lain Faya sudah sampai di kampung pamannya karena naik pesawat hanya memakan satu jam dua puluh menit sedangkan dari bandara ke tempat pamannya hanya memakan waktu setegah jam. Dan saat sampai di bandara ternyata bukan paman Bagas yang datang jemput tapi seorang pria yang agak sedikit Tuan kata paman Faya sih itu anaknya teman tapi kok sudah tua.
Paman Faya mengabari Faya kalau dia tidak bisa jemput Faya karena ada pekerjaan yang mendesak jadi pamannya minta tolong anak temannya yang masih lajang itu untuk menjemput Faya.
Faya kanget karena seorang laki-laki yang agak tua berjalan mendekatinya sambil tersenyum padanya. Membuat Faya agak merasa giamana gitu.
"Maaf ini dengan adik Faya ya" tanya laki-laki itu memanggil Faya dengan sebutan adik membuat Faya merasa risi, aduh...sudah tua juga masih panggil adik sama Faya seharusnya cocok di panggil anak bukan adik.
Faya menatap pria itu dan bertanya" maaf pak anda siapa ya kok bisa tahu nama saya."
"Maaf ya pak boleh gak tidak perlu manggil aku dengan sebutan adik kita ini bukan abang adik, jadi tolong apalagi nyuruh aku memangil anda dengan sebutan mas, memangnya bapak siapa dan berapa umur bapak?" tanya Faya.
"Umur saya dik memangnya penting ya umur aku, namanya kalau cinta itu tidak memandang umur dik" ujar pria itu makin membuat Faya emosi.
Aduh orang ini bikin Faya darah tinggi bisa-bisanya bilang cinta, memang siapa yang mau mencintainya.
"Umur itu sangat penting biar anda tidak asal memanggil saya karena jujur saya risi dengan panggilan itu"
"I, iya jangan marah umur saya sudah empat puluh tahun"
__ADS_1
"Hahaah empat puluh tahun kok bisa-bisanya anda memanggil saya dengan sebutan adik saya ini cocok di panggil anak bukan adik umur kita aja bedah jauh."
Faya kesal sekali dengan orang yang ada didepannya ini, Faya mengerutu dalam hati kenapa bukan pamannya yang datang jemput melainkan orang gila ini yang di suruh datang menjemputnya.
"Tidak apa-apa toh dik biar jika kita menikah kelihatan romantis karena punya istri cantik dan masih muda bukankah saya juga ganteng dik walaupun umur saya sudah empat puluh tahun."
"Hay...siapa yang mau menikah denganmu ada-ada aja saya ini sudah punya calon suami, gila deh orang ini ngaur aja kalau bicara, malas kali kesini jadi nyesal aku tidak mendengarkan perkataan Cessie dan mas Aris."
"Hahaha saya tahu kalau adik Faya sudah punya calon, karena calon adik Faya kan saya. Siapa lagi yang mau dengan adik Faya kalau bukan saya"
"Deg....maksud orang ini apa ya kenapa bilang aku calon istrinya gila benaran deh orang ini" gumam Faya dalam hati
""Hello pak jangan mimpih di siang bolong siapa yang mau nikah dengan anda kenal aja gak kok bisa-bisanya ngaku kalau aku calon istri ada-ada aja deh. Sekarang mau jalan gak kalau gak mau aku pesan taksi malas meladeni manusia seperti ini"
Karena laki-laki itu sudah panik takutnya kalau Faya tidak mau satu mobil dengannya akhirnya dia diam dan membawah Faya ke parkiran mobil awalnya laki-laki itu membuka pintu mobil depan untuk Faya tapi Faya menolak dan duduk di belakang.
Mungkin Faya sudah risi dengan tingkah pria itu yang menurutnya tidak punya urat malu, mengakui dirinya adalah calon suami Faya.
Bodohnya Faya kalau laki-laki itu sudah bicara begitu seharusnya jangan emosi dan tanyakan dengan baik agar dia ceritakan semuanya, kalau memang pamannya sengaja menjodokan nya dengan laki-laki itu, masih ada kesempatan karena posisi masih di bandara Faya tinggal masuk lagi ke bandara dan boking tiket untuk kembali ke kota tidak perlu lanjut perjalanan ke tempat pamannya.
"Dik Faya duduk di depan dong disamping mas karena sebentar lagi kita juga selalu bersama, jadi biar kita mengenal lebih dekat lagi dik, jangan duduk dibelakang kayak penumpang taksi saja. Nanti mobil ini mas kasih gratis ke kamu setelah kita menikah."
Cuihhh mobil puruk juga sok-sok an mobil Faya lebih mewah di kota tuh mana punya tempat tinggal sendiri punya calon orang kaya lagi.
__ADS_1