Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo

Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo
165


__ADS_3

Suster menyuruh bu Ayu untuk istirat, karena bu Ayu sudah selesai makan dan minum obat, sedangkan bu Ayu meminta suster untuk membawah Surya, Cessie dan cucunya, ah bu Ayu ada-ada aja deh. ..mana Ada Surya punya anak.


Lagian Surya juga sekarang lagi di tahanan, gimana caranya bisa datang nemui bu Ayu, kalau Sinta nanti juga pasti datang kalau ada waktu sengan. Dia juga lagi sibuk kerja.


Setelah suster keluar dari kamar bu Ayu, bukannya tidur bu Ayu mala duduk dan bicara sendiri...manggil-manggil nama anaknya. Surya....Surya kamu dimana. Pulanglah nak mama kangen, kalau gak mama yang akan jemput kamu tapi kamu bilang dulu sama mama kamu ada dimana.


Tiba-tiba bu Ayu kembali ngamuk.


"Argh.......pergi kalian jangan nganggu aku...aku gak mau pergi sama kalian bumm....prakkkkkk ....husssss....pergi...pergi kalian aku gak mau kalian ada disini"


Karena teriakan bu Ayu, dua suster lari terbirit-birit melihat kondisi bu Ayu. Loh sus kok pasiennya ngamuk begini? bukannya tadi pasiennya sudah diberi minum obat ya"?


"Kata suster pasiennya sudah tidur. Kenapa mala ngamuk"?


" Itu dia sus aku juga gak tahu, soalnya tadi sudah tidur...".


Akhirnya, bu Ayu kembali disuntik obat penenang barulah bu Ayu kembali tenang" dan kali ini bu Ayu benaran tidur. Kasian bu Ayu. Gara-gara anaknya jadi depresi.


Setelah suster pastikan kalau bu Ayu sudah tidur. Suster keluar dan menutup kembali pintu dan berlalu pergi.


Sedangkan Sinta ya ada di tempat kerja perasaan gak enak, tiba-tiba saja ia ingat sang mama.


"Mama kenapa ya, perasaanku kok gak enak, aduh kenapa tadi aku gak pergi jenguk mama. Atau jangan-jangan mama kenapa-kenapa lagi, ah semoga aja hanya perasaanku aja."


Karena Sinta mikirin bu Ayu tadi, jadi aktifitasnya sempat terhenti.

__ADS_1


Pukkkk. "Hey...kenapa bengong dari tadi Sin? ada yang kamu pikirkan?. Sepertinya hari ini kamu gak semangat kerja ya, ada apa boleh kok kamu cerita sama aku."


"He....teman gak ada ahklak lo ,ya. Mel ngangetin aja tahu, untung aku gak punya riwayat penyakit jantung kalau gak. Bisa tamat hidupku. Selalu aja bikin orang kanget."


"Salah kamu sendiri, siapa suruh kamu melamun disitu. Nah kamu lihat meja 08 menanti minuman dari kamu, sedangkan kamu mala berdiri disini dan kamu membiarkan minum itu disitu kamu mau pajang."


"Astaga....Mel kenapa gak bilang dari tadi Sih, awas dulu aku mau antar minum entar dapat ngamuk lagi dari pak bos"


Sinta langsung pergi membawah minum, yang sudah di pesan oleh pelangan.


Sedangkan Meli hanya cengegesan melihat kelakuan Sinta yang cerobo hampir sedikit kena marah dari kepala pelayan.


"Hummm semoga gak ada yang melihat Sinta selain aku tadi, takutnya pada lapor lagi ke pak bos kasian Sinta sepertinya dia punya masalah tapi gak mau cerita


Melli adalah gadis yang baik dan polos, dan memiliki hati yang lembut. Sehingga dia takut kalau ada yang lihat nanti Sinta dan melaporkan ke bos pasti kena marah. Makanya ia langsung menyadarkan Sinta agar cepat antar minum itu ke pengunjung.


Setiap mau keluar, bu Ayu selalu memarahinya apalagi pas gagal kuliah, mulai dari situ Sinta benar-benar gak punya teman karena ia malu keluar ketemu teman-temannya, dan mereka menanyakan soal kulianya.


Jadi memang Sinta dari kecil adalah gadis yang baik. Dan penurut sama orang tua, makanya bu Ayu sengaja memanfaatkan Sinta untuk ikut membenci Cessie. pernah Sinta menolak ia gak mau mengikuti hasutan ibunya tapi mala bu Ayu mengacamnya.


Waktu terus berlalu sekarang Sinta dengan Melli sudah selesai membereskan semuanya. Saatnya mereka pulang ke kontrakan.


"Hummm....hari ini sangat melelahkan, pengen cepat mandi ah terus istirahat badan ini pengal-pengal deh...oh ya Mell. Mau gak aku kasih saran"


"Apa itu Sin...jangan kamu kasih saran yang konyol"

__ADS_1


"Pukkk... kamu pikir aku kayak kamu gitu. Jadi selalu konyol"


"Humm...saran apa bilang cepat"


"Gini aku lihat barang-barang kamu kan sedikit, sedangkan kontrakan kita kan besar ada dua kamar mala, gimana kalau kita menghemat biaya...siapa tahu biaya yang sisa itu kita gunakan untuk hal yang lain kan bisa."


"Humm...terus" tanya Melli penasaran.


"Gimana kalau kita berdua satu kamar aja, kamu pindah ke kamarku kan satu bulan kontrakan satu juta dua ratus sedangkan air gratis, soal token kita tinggal nambah-nambah aja gitu. Satu bulan bagi dua kan lumayan untuk kebutuhan yang lain. Gimana kamu mau gak, kalau kamu mau kita bicarakan sama ibu kontrakan."


"Hmmm...benar juga Sin...kenapa gak kepikiran sampai distu ya, eh....tapi tinggu dulu, kalau sewaktu-waktu mbak kamu itu datang kesini dia nginap dimana.."


"Yaelah Mell itu ma gampang mbak ku tinggal tidur di kamarku dan aku numpang deh tidur sama kamu, dari pada kita bayar segitu mendingan pergunakan untuk hal lain, gimana kamu setuju gak denga saranku, kalau kamu setuju setelah mandi kita pergi temua ibu kontrakan"


"Oke deh...aku mau lagian barangku juga gak ada tuh lemari ada kagak ada hanya koper dan tas"


Akhirnya Sinta dan Melli sepakat untuk tinggal satu kamar aja agar menghemat, apa lagi satu kontrakan aja dua kamar didalamnya jadi itu bagus meringankan biaya buat Melli dan Sinta.


Setelah mereka berdua mandi mereka bersiapa pergi ke rumah ibu kontrakan, untuk minta ijin kalau Melli keluar dari kamarnya dan akan tinggal sama Sinta, yang jelas mereka sudah menyusun rencana agar ibu kontrakan tidak marah.


Setelah mereka berdua sampai di depan rumah, ternyata rumahnya tertutup.


"Tumben rumah ibu kontrakan tertutup, biasanya jam segini belum" ujar meli, membuat Sinta mata Sinta melotot.


"He...markona kamu sadar gak ini sudah jam berapa. Ngaur aja kalau bicara, kita dari restoran aja setegah sepulu bambang sampai dirumah mandi baru kesini makanya, lihat tuh jam jangan asal ngelantu aja ngomongnya."

__ADS_1


Melli mengaruk kepalanya yang tidak gatal, karena yang di katakan Sinta ada benarnya juga namun, Melli heran sama Sinta kenapa sudah tahu ini sudah tegah malam tapi ngotot mau ke tempat ibu kontrakan.


__ADS_2