
Nadia yang sudah sampai di mall langsung masuk kedalanm, karena tujuannya hanya nyari baju dan rok akhirnya ia langsung menuju ke tempat dimana rok dan baju ada, karena Nadia juga tidak ingin lama-lama diluar dia belum pengen ketemu dengan siapapun termasuk orang tuanya dan mantan suaminya.
Namun saat Nadia hendak naik lift tak sengaja matanya melihat seorang laki-laki, dengan seorang anak gadis yang umurnya kisaran dua tahu lebih dan laki-laki itu sempat melihat Nadia juga tapi karena mungkin Nadia pake masker dan agak lumayan jauh juga laki-laki itu biasa aja.
Sedangkan Nadia yang melihat kedua orang itu dia lari ketar ketir, tapi juga Nadia sangat merindukan mereka dan ingin mendekat tapi tidak bisa karena keadaan dan kondisi saat ini tidak mendukung.
"Ya Tuhan itu mas Iksan makin tanpan aja, dan anak kecil itu siapa ya, apa jangan-jangan itu anakku yang aku tinggalkan astaga cantik kali. Tapi wajah kurang jelas kalau seandainya penampilan ku masih seperti dulu mungkin aku sudah samperin tapi mau gimana lagi, aku harus beli baju dan cepat pulang nanti aku pikirkan lagi kapan aku pergi ke rumah mas Iksa berarti selama ini mas Iksan sudah kembali ke tanah air."
"Hummm ini kesempatan untuk mengambil kembali hati mas Iksan karena orang tua dan kaknya mas Iksan sepertinya masih di luar negeri"
Karena Nadia asyik perhatikan Iksan dan Dira yang jalan mendekatinya, ia tidak tahu kalau ternyata ada tiga orang berdiri tidak jauh darinya karena mereka juga lagi menunggu Iksan dan Dira yang ke toilet lama banget.
"Bu Iksan dan Dira mana sih lama banget deh datangnya, kita tunggu disini hampir setegah jam ini mendingan kita pergi cari baju aja dulu bu pah, biar nanti mereka datang baru kita makan."
"Ok baiklah yuk kita pergi cari baju aja,"
Baru saja mbak Alana jalan tak sengaja menabrak seseorang yang kebetulan berdiri di depannya.
Brukkkkk.
Orang itu sampai jatuh kebawa. Namun bukan mbak Alana yang terkejut justru perempuan yang jatuh itu yang terkejut, ia tidak percaya nasib sial apa yang menimpahnya hari ini, sampai ketemu dengan orang-orang yang sangat ia hindari.
__ADS_1
"Mbak Alan, ibu, pah. Astaga gawat ini aku harus pergi sebelum mereka mengenalku mala mas Iksan semakin mendekat lagi"
"Eh mbak maaf ya saya tidak sengaja maaf. Sini aku bantu mbak berdiri"
Namun bukannya mengulurkan tangannya, justru Nadia cepat-cepat bangkit dan gegas ia pergi takutnya kalau lama-lama keburu sampai Iksan.
Nadia pergi begitu saja tanpan bicara apa-apa, ia meninggalkan mbak Alana dan kedua orang tuannya masih berdiri ditempat.
"Eh...mbak tunggu, siapa sih orang itu main pergi aja, tapi bu, kok Alana merasa kenal perempuan itu deh, manik matanya hampir mirip loh kayak Nadia walaupun dia pake masker Alana tidak salah lihat, spertinya benar dia Nadia bu."
"Iya sama ibu juga melihat dia hampir mirip dengan Nadia tapi siapa tahu aja tuh orang lain apalagi ditutupi sama masker, untuk apa juga kita mikirin perempuan itu dia juga bukan bagian dari hidup kita biarkan aja"
Mbak Alana langsung mengambil hpnya dan hendak menelpon Iksan, namun ternyata belum sempat telpon orangnya sudah ada di belakang mereka.
"San kalian dari mana sih kok lama sekali sini Dira anak ibu, biar ibu gendong ya."
"Tidak apa-apa ibu Dira sudah besar jadi Dira bisa jalan sendiri nanti Dira sudah capek baru ibu gendong."
"Tadi di toilet penuh mbak jadi masih ngatri makanya lama, kenapa mbak tidak sama ibu pergi belanja aja dulu nanti baru Iksan sama Dira nyusul takut amat mbak kami berdua hilang hahaha. Takut ya mbak adik mbak yang tanpan ini hilang"
"Pukkkkkkk....pede banget sih, bu anak ibu satu ini. Mbak itu bukan kuwatir sama kamu, tapi sama Dira"
__ADS_1
"Ah masa sih jujur aja kenapa mbak, Iksan juga gak bakal marah kok karena memang begitu kenyataannya kalau Iksan tanpan".
"Ya ampun bu, ibu salah makan apa waktu mengandung anak ibu yang satu ini, kok gini kelakuannya pede bangat ngaku gantenglah. Padahal mana ada ganteng justru gantengan papa hahaha"
"Haahha kamu ini ya nak pintar sekali ambil hati papa, tapi memang papa gantenglah kalau gak mana mau ibumu sama papa."
"Ya Tuhan ternyata papa sama anak sama-sama kepedean, ya mau gimana lagi namanya juga buah jatuh gak jauh dari pohonnya haahha"
"Yaudah dari pada kita berdiri disini sampai besok pagi, mendingan yuk kita cari apa yang kita inginkan setelah ini kita pulang ke rumah atau mau kemana dulu nih." tanya Iksan.
Tenyata mbak Alana dan orang tua Iksan belum cerita soal cewek yang mirip dengan Nadia, mungkin nanti aja pikir mereka karena ada Dira jadi jangan sampai Dira mendengar pembicaraan mereka.
Iksan dengan keluarganya mereka berlalu pergi karena rencana setelah selesai beli apa yang mereka cari baru lanjut makan. Jadi tadi itu sebenarnya mereka juga baru sampai di mall, tapi tiba-tiba Dira katanya mau pipis awalnya mbak Alana yang mau antar, tapi kata Iksan biar dia aja yang antar makanya tiga orang itu menunggu Iksan dan Dira tahunya Nadia muncul justru menabrak mbak Alana lagi.
Untung Iksan gak ada kalau Iksan ada pasti ia langsung mengenali Nadia, lagian ane juga katanya mau cepat ketemu dengan Iksan mantan suaminya tapi giliran pas ketemu sih Nadia justru lari terbirit-birit kayak dikejar hantu.
Sedangkan setelah Nadia pergi ia langsung masuk kedalan tempat pakian dan ia memilih baju satu dan rok ya, cari pakian yang pasti harga pasaran mana lagi Nadia bisa beli pakian yang juataan seperti dulu lagi. Sekarang hidupnya sangat kasihan dan prihati. Ia keluar juga kayak maling sembunyi-sembunyi takut ketahuan.
"Astaga untung tadi aku cepat lari kalau gak mbak Alana pasti kenal aku, dari tatapannya saja sepertinya ia sudah curiga denganku Aduh....kenapa ketakutan begini sih dulu kemana-mana bebas tebar pesona dengan siapa aja tidak masalah kenapa sekarang hidupku begini kali"
"Hummm ini semua gara-gara balas dendam ke mas Surya jadi hidupku jadi kacau begini mala gak tenang karena dikejar-kejar polisi.
__ADS_1