Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo

Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo
416


__ADS_3

Sinta bicara dengan mas Bram, Sinta tidak memaksa mbak Eva dan mas Bram datang kemari hanya saja Sinta ingatkan jika terjadi sesuatu dengan Surya Sinta tidak akan mengabari mereka lagi. Mas Bram yang mendengar itu terkejut dengan perkataan Sinta berarti Sinta bicara tidak main-main.


"Baiklah mas dan mbak kamu segerah kesana, sepertinya Zila tidak bisa ikut karena dia kulia dan sambil kerja, jadi mas dengan mbak kamu yang datang karena adiknya Zila juga sibuk sekolah. Jaga kabarin ya Sin...kondisi Surya selanjutnya apapun yang terjadi harus kuat, malam ini juga kita kesana dengan mobil aja, kamu masih di rumah sakit kan?" ujar mas Bram.


"Baik mas, Sinta tunggu karena sekarang tinggal kami bertiga, ibu juga sudah tidak ada, sekarang mas Surya juga lagi kritis jadi Sinta berharap mas dan mbak harus datang, dan hati-hati di jalan. Iya Sinta di rumah sakit mas, Sinta tidak bisa pulang karena tidak ada yang menjaga mas Surya" Ujar Sinta langsung mengakhiri panggilan.


Setelah mas Bram selesai menerima telpon dari Sinta mas Bram langsung membangunkan mbak Eva, yang sudah di alam mimpi dengan lembut mas Bram menepuk pipi mbak Eva sambil mengoyangkan tubuhnya agar mbak Eva bangun.


"Sayang...bagun.!..sayang bangun kita harus ke kota sekarang juga karena ada hal penting yang harus kita lakukan sayang, sayang bangun ada berita penting." ujar mas Bram.


"Eh....mas kok belum tidur ada apa sih membangunkan orang lagi tidur, kayak sesuatu hal penting aja ini sudah jam berapa bukannya tidur aku masih ngantuk banget mas, ada apa sih mas membangunkan aku?" ngomel mbak Eva.


"Sayang bangun nanti sayang tidur saja di mobil ok, kita harus ke kota sekarang juga sayang, karena Surya kritis di rumah sakit, kita tidak bisa tunggu sampai besok kita hatus berangkat malam ini juga biar besok pagi kita sampai." ujar mas Bram.


"Apa...! Surya kritis mas? Mas jangan bercanda, mas tahu dari mana Surya kritis, kok baru bilang sih sama aku kenapa tidak dari tadi sih mas bangunin?" teriak mbak Eva terkejut mendengar kalau Surya kritis, sampai melancat dari tempat tidur sangking terkejutnya. Langsung hilang gantuknya mata mbak Eva langsung terang memang

__ADS_1


"Sayang...! Jangan teriak begitu deh telinga mas masih berguna dan anak-anak bangun nanti, tadi mas dapat telpon dari Sinta katanya Surya kritis di rumah sakit, jadi kalau kita tidak datang nanti terjadi sesuatu dengan Surya pun Sinta tidak akan kabarin" jelas mas Bram.


"Ya Tuhan, aku tahu adik ku Surya sudah banyak kesalahan yang dia perbuat tapi aku mohon selamatkan dia, jangan ambil nyawahnya ya Tuhan kami baru kehilangan ibu dan sekarang tinggal kami bertiga, kalau seandainya engkau mengambil dia Tuhan terus tinggal kami berdua saja, aku memang marah dengannya karena sikapnya tapi aku tidak membencinya jadi tolong jangan mengambilnya" mbak Eva berdoa dalam hati.


"Sayang kenapa justru melamun begitu ayok bersiap biar kita berangkat, biar Zila dan adiknya di rumah saja, nanti Zila yang mengurus adiknya kalau tidak mas nanti telpon mama untuk datang menjaga mereka, kita harus segerah berangkat biar besok pagi kita tiba di kota, lagian ada bibi disini juga jadi bisa menyiapkan semua keperluan mereka " ujar mas Bram mengangetkan mbak Eva.


Mbak Eva tidak menjawab suaminya tapi mbak Eva segerah bangkit dari duduknya dan langsung menyiapkan beberapa pakian untuk ganti saat di kota, mbak Eva masukan pakian kedalam tas, tapi selama mbak Eva menyiapkan pakian pikirannya tidak tenang pikiran mbak Eva saat ini tertujuh kepada Surya dalam hati mbak Eva berdoa semoga Surya kembali sehat.


"Mas tunggu, aku lihat anak-anak dulu kalau Zila belum tidur biar aku beritahu dia, biasanya jam segini Zila masih belajar" ujar mbak Eva langsung menuju ke kamar Zila, dan benar saja Zila belum tidur justru masih setia denga leptop karena tugas kulianya belum selesai.


"Sayang, kok kamu belum istirahat mash banyak tugas ya" tanya mbak Eva.


"Zil, ibu dan ayah mau berangkat ke kota sekarang juga jadi tolong, kalian hati-hati di rumah ya kalau pulang kulia langsung kerumah saja" ujar mbak Eva.


"Loh memangnya ada apa di kota bu kok mendadak begini, lagian memangnya tidak bisa di tunda sampai besok dari datang ini sudah malam" ujar Zila melarang oramg tuanya berangkat mala takut terjadi sesuatu." ujar Zila

__ADS_1


Karena memang Zilah belum tahu kalau om nya Surya sedang kritis di rumah sakit, makanya dia melarang orang tuanya pergi malam-malam begini.


"Tidak bisa sayang ayah dan ibu harus pergi malam ini, karena om kamu, om Surya lagi kritis di rumah sakit jadi sekarang bibi Sinta lagi menjaga di rumah sakit", ujar mbak Eva membuat Zila terkejut bukan kepalang karena setahu Zila om nya sekarang ada di tahanan Zila sudah besar jadi dia sudah tahu tentang kehidupan Surya bahkan Zila lebih tua dari pada Abian dan Aziza.


"Apa...! Om Surya kritis bu kok bisa? Ya sudah kalau begitu ayah dan ibu pergi lah tapi hati-hato jangan ngebut kalau soal adik gampang itu Zila bisa mengurusnya, ayah dan ibu jangan kuatir semua baik-baik saja oke" ujar Zila.


Setelah mbak Eva pamit dengan Zila mbak Eva langsung keluar dari kamar Zila dan menemui mas Bram di ruang tengah, mereka langsung keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil. Mas Bram mengemudikan mobil dengan pelan karena memang sudah malam jadi mereka juga harus hati-hati.


"Mas hati-hati loh bawah mobilnya ino sudah malam kalau mas ngantuk kasih tahu biar kita berhenti sejenak di jalan, jangan di paksakan kita jalan pelan aja yang penting besok kita sampak di kota. Dari pada kita ngebut tapi terjadi apa-apa nanti" ujar mbak Eva.


Akhirnya mbak Eva juga tidak bisa tidur karena tafi tidurnya sempat ternganggu jadi ngantuknya hilang seketika, sepanjang perjalanan mereka ke kota mas Bram dan mbak Eva ngobrol.


Sedangkan di rumah sakit, kondisi Surya makin menurun hal itu membuat Sinta makin sedih mendengar kondisi Surya makin menurun.


"Dok tolong berikan yang terbaik untuk kakak saya dok, berapa pum biayanya saya yang akan membayarnya dok asal kakak saya selamat dok saya mohon." ujar Sinta.

__ADS_1


"Tenang dulu ya bu, saya akan berusaha semaksimal mungkin, jadi ibu kuat nerdoa" ujar dokter.


Sinta tidak tenang di ruang tunggu menunggu kapan Surya sadar.


__ADS_2