
Sesudah Sinta selesai bicara dengan dokter yang selama ini yang menangani bu Ayu Sinta keluar dari ruangan dokter dan berniat pulang ke kontrakan karena memang sudah sekitar jam satu siang, jadi Sinta rencana pulang biar istirahat aja besok baru masuk kerja karena sudah minta ijin juga jadi kalau tidak masuk juga tidak apa-apa, Sinta juga merasa sangat lelah karena baru selesai kunjungan dari dua tempat lapas dan rumah sakit dua-duanya membuat Sinta pikiran.
Pikiran karena Surya tidak beruba dan juga pikiran karena ibunya tidak kunjung sembuh. Hanya mikir itu aja sudah menambah beban pikiran untuk Sinta.
Sinta keluar dari rumah sakit ia menyeret kakinya dengan berat rasanya hanya melangkah keluar dari rumah sakit aja sangat berat sekali.
Sinta berjalan melalui koridor rumah sakit sambil memengang hp di tangannya ia rencana mengirim foto ibunya ke mbak Eva.
Setelah Sinta sampai di luar ia langsung pesan taksi sambil menunggu taksi datang ia sengera mengirim foto ke mbak Eva, tidak lama kemudian foto terkirim dan langsung di buka oleh mbak Eva bersamaan dengan itu mobil taksi online juga datang akhirnya Sinta masuk kedalam mobil dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Dreetttt dreeett!
Tiba-tiba hp Sinta berbunyi, ternyata itu telpon dari mbak Eva.
"Hallo mbak" jawab Sinta
"Hallo Sin, kamu dimana sekarang, kamu masih di rumah sakit jiwa"? Tanya mbak Eva.
"Sinta sudah di jalan pulang mbak Sinta capek, rasanya kepala Sinta mau pecah"
"Kenapa rupahnya Sin"? Tanya mbak Eva
"Bagaimana gak pikiran mbak, Sinta pikir setelah mas Surya dipenjara dia beruba ternyata Sinta salah nyesal tadi Sinta datang kesana jenguk dia, oh ya mbak, mas Surya titip salam buat mbak sekalian minta maaf karena waktu itu dia sudah marah sama mbak, tapi parcuma aja sih mbak menurut Sinta minta maaf tapi tidak ada perubahan dalam dirinya mas Surya masih mementingkan egoisnya mbak."
"Memang kenapa rupanya Sin kok kamu bilang begitu, dan bilang sama dia mbak tidak butuh kata maaf kalau dia tidak pernah beruba, lagian heran deh mbak sama kamu Sin, ngapain sih kamu pergi kesana jenguk dia, lebih baik kamu urus diri kamu sendiri dan fokus kerja untuk masa depan kamu"
__ADS_1
"Ya aku pikir dia sudah beruba mbak makanya aku datang jenguknya, mau bagaimanapun dia tetap saudara kita mbak, tapi ya menelan kekecewaan deh."
"Memangnya dia bicara apa sih San" tanya mbak Eva
"Mbak mas Surya itu benci sama mbak Cessie katanya semua yang terjadi dalam hidupnya karena mbak Cessie dengan tega menjobloskan kedalam penjara, dan yang paling membuat aku agak benci sama mas Surya katanya kalau ia keluar ia akan merebut anaknya mbak Cessie lihat tuh adikmu mbak sudah gak waras"
"Loh kok mbak sih bukannya itu mas kamu yang dulu selalu kamu bela-belain ya, sejak kapan mbak belain dia kagak pernah tuh, salah kamu sendirilah sok-sok'an mau jenguk dia akhirnya sakit hati lagi kamu kan makanya jadi orang itu jangan bodoh, menurut mbak sih biarkan aja Sin karena mbak yakin keluarga Cessie tidak akan tinggal diam kaalu dia nekat lagi ya pasti dia kembali lagi ke penjara ."
Mbak Eva marah besar sama Sinta mbak Eva geram karena Sinta gak mau mendengarkan omongannya akhirnya pusing sendiri. Mbak Eva juga tahu kalau adiknya itu tidak akan beruba kalau gak kena masalah lagi dari keluarga Cessie menurut mbak Eva biarkan saja dia bertindak nanti hasilnya dia yang petik sendiri.
"Sinta pikir mas Surya sudah beruba mbak makanya Sinta datang menjenguknya eh...tahunya biking emosi. Bukan hanya itu saja mas Surya marah sama Sinta karena katanya Sinta lebih memihak kepada mbak Cessie dan mas Surya nuduh mbak Cessie yang menghasut Sinta gila memang."
"Sin mbak bilang ya sama kamu, Surya itu sampai kapan pun dia tidak akan beruba percaya sama mbak, karena memang dia sudah mengikuti watak ibu, dia beruba jika dia benar-benar sudah tidak bisa jalan lagi atau sudah tidak bisa bicara lagi, barulah dia sadar tapi semua sudah terlambat"
Perkataan mbak Eva seolah mendoakan Surya untuk sakit kelak padahal mbak Eva tidak bermaksud begitu.
Sinta dan mbak Eva berdebat akhirnya mereka berdua sama-sama mengakhiri panggilan, sedangkan sopir taksi memperhatikan Sinta dari kaca depan sambil tersenyum karena ia mendengar semua percakapan Sinta dan mbak Eva.
Sinta kembali menyimpan hpnya kedalam tas dan menutup matanya, rasanya sangat berat sekali matanya ingin tertutup.
Sinta pengen tidur tapi dia juga takut kalau nanti ketiduran di bawah oleh sopir, kalau sang supir taksi baik pasti dibangunin tapi kalau sang supir niatan jahat bisa jadi di bawah ketempat lain, memikirkan itu saja Sinta sudah duluan takut.
Akhirnya Sinta gak jadi tidur ia kembali mengeluarkan hpnya dari dalam tasnya dan memainkannya ia kembali membuka galeri fotonya bersama dengan Melli dan Bella sambil tersenyum. Tiba-tiba Sinta pengen posting foto mereka bertiga.
posting ah...Sinta memilih foto yang bagus dan posting di media sosialnya tidak lama kemudian ada komen dari Bella.
__ADS_1
"He bestie, lo uda dimana, sudah pulang belum," tanya Bella.
"Gua lagi di jalan Bell sebentar lagi uda sampai kontrakan lo dengan Melli masih di restoran ya"
"Oh hati-hati di jalan, iya gua dan Melli masih di restoran, kalau lo sampai kontrakan mendingan istirahat aja nanti gua sama Melli pulang bawain lo makanan ok"
Sekarang hubungan Bella, Sinta dan Melli sudah membaik bahkan sangat akrab sekarang, Sinta dan Melli juga membantu Bella untuk mencari pamannya yang sekarang tidak tahu ada dimana.
Sinta yang melihat perhatian Bella terhadapnya hanya tersenyum bahagia, biarpun keluarga Sinta saat ini berantakan tapi masih ada Melli dan Bella yang selalu menjadi teman baiknya.
Tidak lama kemudia mobil taksi yang ditumpangi Sinta berhenti di gang masuk ke kontrakan Sinta, karena Sinta keasyikan dengan hp jadi ia tidak menyadari kalau sudah sampai pak sopir senyum melihat Sinta dengan suara lembut pak sopir berkata kepada Sinta kalau mereka sudah sampai.
"Maaf neng kita sudah sampai" ujar pak sopir membuat Sinta kanget dan moleh keluar ternyata benar akhirnya Sinta buru-buru turun dari dalam taksi dan langsung memberikan ongkosnya.
"Pak ini ongkosnya lebihnya ambil aja" ujar Sinta menyodorkan uang selembar berwarna merah.
"Tapi neng ini kebayakan, ongkosnya hanya empat puluh ribu." ujar pak sopir.
"Gapapa pak itu anggap aja rejeki untuk bapak aja."
"Makasih banyak ya neng semoga Allah memberikan Neng banyak rejeki."
Sinta langsung berlalu pergi begitu juga pak sopir sangat senang mendapatkan rejeki dari Sinta karena memang dari tadi pagi sampai jam segitu baru Sinta menjadi penumpang pertama.
Sinta berjalan melalui gang dan sampai di depan kontrakan, Sinta langsung masuk kedalam kamarnya dan langsung menutup pintu karena Sinta ingin istirahat jadi ia tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
__ADS_1
Sinta buang tasnya kesembarangan tempat dan langsung membuang dirinya diatas tenpat tidur untuk merebahkan tubuhnya yang sangat lelah