Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo

Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo
155


__ADS_3

Keesokan harinya, masih pagi-pagi Sinta sudah menyiapkan sarapan untuk seisi kontrakan, tak lupa barang-barang bu Ayu yang akan dibawah sudah disipakan oleh Sinta, gak banyak barang yang di bawah oleh bu Ayu hanya yang penting aja seperti pakian berapa potong.


Setelah dirasa semua sudah siap Sinta bergegas memanggil mbak Eva dan kak iparnya untuk sarapan tak lupa Sinta juga sudah susa payah membujuk bu Ayu untuk mandi jadi sudah bersih, sudah ganti baju juga.


Tok tok!


"Mbak, mas. Yuk sarapan dulu, Sinta sudah siapin, nanti selesai baru kita berangkat." ujar Sinta dari luar.


Setelah selesai dari kamar, Sinta gegas menghampiri bu ayu yang lagi duduk diruang tegah sambil menatap kedepan dengan tatapan kosong sesekali ia tertawa.


"Mah, yuk makan dulu nanti selesai makan kita pergi ya tapi mama diam aja gak boleh ribut nanti kalau mama ribut kita bisa dimarahin sama orang yang ada disana"


"Gak! mama gak akan makan, kalau Surya gak ikut makan. Panggil mas kamu biar makan kita, tapi kalau mas kamu gak makan, mama juga gak mau kamu makan aja sana." Sinta hanya menarik nafas berat. Kasian sang mama tapi mau gimana lagi memang sudah seperti ini kondisi yang dialami.


"Iya mah, kita makan aja nanti mas Surya belakangan soalnya, tadi mas Surya bilang kalau mama gak mau makan, nanti dia gak mau pulang ke rumah, jadi sekarang mama mau makan atau nanti mas Surya gak mau pulang, kalau mama sakit nanti mas Surya sedih memangnya mama mau?"


Perkataan Sinta berhasil membuat bu Ayu segera bangkit dari duduknya dan hendak menuju ke meja makan. Namun bu Ayu urunkan dan berbalik menatap Sinta.


"Tapi benarkah nanti anakku pulang, awas ya kalau kamu bohong! Mama gak mau makan lagi" Sinta hanya menelan ludanya dengan kasar. Rasanya nyerih di ulu hatinya seperti ditusuk belati melihat sang mama seperti itu.


"Ya Allah, cobaan apa yang engkau berikan kepada hambamu ini, rasanya gak sanggup menghadapi ini semua, melihat kondisi mama begini, mas Surya di penjara. Rasanya pengen bunuh diri" tanpa sadar bulir bening lolos begitu saja.


"Sinta...." suara bariton dari belakang menyadarkan Sinta, dengan cepat Sinta berusaha menghapus air matanya yang sudah membasahi pipinya namun sudah terlambat, keburu dilihat oleh mas Bram dan mbak Eva.


"Iya mbak...yuk kita sarapan" ajak Sinta namun dengan cepat lengannya di tahan oleh Mbak Eva.

__ADS_1


"Kamu kenapa dik!..kenapa kamu menangis" pertanyaan mbak Eva berhasil membuat, pertahanan Sinta runtuh seketika.


Sinta mengeluarkan semua air matanya membasahi pipi mulusnya. Mbak Eva yang melihat adiknya begitu terpukul segerah memeluknya.


Kali ini Sinta menangis sejadi-jadinya ia meluapkan emosi yang ada dalam hatinya.


"Mbak kenapa! Kenapa semua ini terjadi aku tahu ini hukuman dan karma untuk kita tapi kenapa rasanya berat sekali melihat mama begini, memang dulu mama melakukan apapun hanya untuk mementingkan keegoisannya, dan Sinta juga sempat sakit hati sama mama dan mas Surya tapi kenapa, dengan keadaan seperti ini Sinta belum bisa bersikap dewasa mbak."


"Apa Sinta gak bisa hidup bahagia dengan orang yang Sinta sayangi. Sebentar lagi mbak pulang tinggal Sinta sendirian disini, Sinta pengen nyusul papa aja, karena hanya papa yang bisa mengerti perasaan Sinta"


" Sttt dik..gak boleh ngomong begitu! ingat, kamu gak sendiran ada Allah yang selalu bersama kamu, mbak janji akan sering kesini untuk menjenguk kamu dan ibu, jadi ingat dan janji sama mbak kamu harus jaga diri baik-baik cukup Surya yang jatuh dalan dosa."


"Yuk kita makan biar segera ke rumah sakit. Oh ya kamu sudah ijin belum takutnya nanti mala kamu dipecat karena sering gak masuk."


Sinta menuntun bu Ayu kemeja makan untuk sarapan sebelum mereka berangkat ke rumah sakit, pas dimeja makan bu Ayu gak langsung makan tapi mala ia membuang muka kekanan kiri sepeterti mencari seseorang.


"Mah, cari apa kita makan dulu yuk, nanti kita terlambat lo."


"Mama belum mau makan, karena Surya belum datang, kita harus tungguin Surya dulu"


"Mah, Sinta sudah, bilang tadi kita makan duluan aja nanti mas Surya datang, kalau gak mama makan aja dulu biar kita pergi jempit mas Surya, yakan mas, mbak."


Sinta mengedipkan mata, tanda bahwa ia memberikan kode agar kedua orang itu iyakan aja apa yang ia bilang.


"Iya mah, nanti kita sama-sama jemput Surya" ujar kedua kaknya dengan kompak.

__ADS_1


Dengan drama yang panjang, menghadapi bu Ayu, akhirnya mereka sarapa, Zila juga ikut sarapan.


Setelah selesai mereka bersiap dan berangkat ke rumah sakit.


"Dik, sudah masuk semuakan barangnya? Biar kita berangkat" tanya mas Bram.


"Sudah semua mas sudah bisa kita berangkat, jangan tunggu lama-lama takutnya nanti mama ngamuk lagi bahaya."


Mereka semua masuk kedalam mobil termasuk bu Ayu, yang duduk bersama dengan Sinta di kursi penumpang sesekali teriak tiba-tiba, Sinta dengan sabar selalu membujuk sang mama agar tenang.


"Argh........" Aku mau ketemu Surya anakku tolong jemput dia bilang mama kangen sama dia, jadi kalau di pergi jangan lama-lama, mama menunggunya disini hahaha"


Sinta hanya diam pasra, mau gimana lagi, kondisinya sudah seperti itu, sejahat apalun seorang ibu, Sinta sebagai anak gadis yang baik sangat terpukul dengan kondisi sang mama. Seandainya Sinta penya usaha Sendiri mungkin dia mau merawat mamanya sendiri tanpa harus bawah ke rumah sakit jiwa.


Karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, terus ditambah lagi dengan keributan yang di ciptakan oleh bu Ayu gak terasa mobil sudah berhenti dengan sempurna di depan rumah sakit, kebetulan sebelum datang mas Bram sudah telpon pihak rumah sakit jadi ada berapa petugas menunggu di loby takutnya bu Ayu ngamuk.


Mas Bram keluar terlebih dulu baru membuka pintu mobil untuk mbak Eva sedangjan Sinta sudah duluan, namun bu Ayu masih didalam mobil, ia gak mau turun.


"Yuk mah, turun kita sudah ssmpai," ujar Sinta


"Ini tempat apa kenapa kita kesini? bukannya tadi katanya mau jemput Surya kok kesini"


"Iya mah, mas Suryakam disini, yuk cepat kita jenguk mas Surya nanti habis waktu jenguknya Mah, lihat petugas itu dia menanti kita agar bisa menantar kira ketempat mas Surya, katanya mas Surya sudah mungguin mama loh disana."


Akhirnya bu Ayu nurut dan ikut masuk kedalam rumah sakit, dengan wajah sumbringan karena pikir nanti akan ketemu dengan Surya, dan langsung bawah pulang ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2