Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo

Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo
306


__ADS_3

Kebiasaa kalau pagi pasti macet hal itu yang membuat Iksan mengerutu sepanjang jalan karena memang Iksan buru-buru. Ingin secepatnya sampai dikantor.


"Sialan pake macet segala sudah jam segini, padahal nanti jam sembilan ada meeting mala terjebak macet disini."


Hampir satu jam Iksan di jalan akhirnya sampai di juga kantor Iksan dengan tergesah-gesah masuk kedalam kantor karena jam sembilan meeting akan dimulai sedangkan Iksan belum menanyakan sekretarisnya tetang bahan meeting nanti harus dipersiapkan.


"Aduh kenapa tadi malam pakek lupa kabarin sekretaris semoga sekretaris ingat dan menyiapkan bahan untuk meeting hari ini, tapi kalau nanti gak sempat ya terpaksa meeting harus di tunda, tidak mungkin lanjut meeting tanpa bahan terus mau bahas apa sial banget sih."


Iksan langsung masuk kedalam lift dan naik ke lantai atas karena memang ruangan Iksan di lantai atas. Saat keluar dari lift kebetulan sekali Iksan berpapasan dengan sekretarisnya di depan lift jadi Iksan langsung bertanya tentang apa yang Iksan kuatirkan tadi soal bahan meeting.


"Hmm untung sekretaris disini saya mau tanya apakah bahan untuk meeting hari ini sudah disiapkan"? Tanya Iksan sambil menarik napas panjang membuat sekretaris tersenyum.


"Pak Iksan di kejar sama siapa kok kayak baru selesai lari maraton napas memburu begitu berpacu lebih cepat dua kali lipat dari biasanya."


Astaga ini sekretaris kocak ditanya serius oleh bosnya bukannya takut justru tertawa dan bahkan tidak sengan meledek bos.


Pak Iksan kalau saya belum mempersiapkan segalanya untuk meeting tidak mungkin aku menyetujuinya. Pak Iksan tenang saja semua aman saya sudah siapkan bahan untuk sebentar."


"Hussss....kirain belum ya terpaksa kita batalin meeting itu tapi syukurlah kalau kamu sudah sispkan kamu yang terbaik" bukannya marah karena diledek sekretarisnya justru balik memuji.


Iksan bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan sekretarisnya, padahal tadi Iksan sudah kebingunggan. Iksan masuk kedalam ruangan dan duduk di kursi kebesarannya. Tidak lama kemudian sekretaris masuk ke ruangan Iksan.


Tok tok tok!


"Masuk" ujar Iksan.


"Parmisi pak"


"Humm ada apa"? Tanya Iksan.


" Ini ada beberapa berkas yang perlu di tanda tangan pak tapi sebelum pak tanda tangan tolong dibaca dulu, takutnya ada kesalahan" ujar sekretaris Iksan

__ADS_1


" Baik letakan saja disitu nanti saya periksa masih ada berkas yang harus saya selesaikan berkas ini tidak terlalu pentingkan? Kalau gak nanti saja saya periksa karena ada yang lebih penting dari itu."


" Berkas itu sangat penting pak makanya saya menyuruh bapak baca dulu sebelum melakukan tanda tangan"


Iksan mendongak kepala dan menatap sekretarisnya dengan tatapan Intimidasi tapi justur sekretarisnya santai saja.


"Baiklah kalau begitu kamu boleh pergi"


Sekretaris berlalu pergi dan menyiapkan bahan presentasinya nanti karena setengah jam lagi meeting segerah di mulai.


sekarang jam menunjukan pukul sembilan tandanya meeting segera dimulai.


Sekretaris keluar dari ruangannya dan gegas menuju ke ruangan bos nya.


Tok tok tok!


" Pak lima menit lagi meeting segerah dimulai jadi sekarang kita segerah keruang meeting." ujar sekretaris.


Iksan keluar dari ruangannya tanpa mengeluarkan kata-kata langsung berlalu pergi sedangkan sang sekretaris nyusul dari belakang.


Hampir dua jam Iksan melakukan meeting setelah selesai Iksan langsung keluar dari ruang meeting dan kembali ke ruangannya karena sudah di tungguin oleh orang kepercayaan Iksan.


Sesampai diruang tidak lama kemudian orang kepercayaan Iksan datang.


"Selamat pagi bos..."


"Pagi silakan duduk, tadi katanya sudah diruangan dari mana"?


"Ah bos gak sopan kalau bos gak ada saya main masuk saja tadi saya ada ngobrol dengan ob"?


"Oh kirain kamu mau pulang makanya gak diruangan saya, kalau sampai itu ternjadi berarti kamu tidak mau dapat gaji"

__ADS_1


"Ah jangan begitu bos, kalau saya tidak di gaji saya makan apa"


"Mana informasih yang saya minta"? Tanya Iksan


Orang kepercayaan Iksan mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam tasnya dan menyodorkan kepada Iksan sembari berkata" semua informasih tentang nona itu sudah ada disini semoga bos tidak syok saat membancanya.


Iksan menyipitkan matanya karena penasaran Iksan langsung merampas amplop itu dan mengeluarkan semua isinya di dalam amplop itu terdapat beberapa foto, Sinta berfoto dengan Surya dan Cessie itu awal menikah jadi belum ada prahara dalam rumah tangga Cessie sebelum muncul kembali orang ketiga.


setelah itu ada sebuah foto lagi disitu ada Nadia, Surya, Sinta dan bu Ayu. Iksan yang melihat itu terkejut dan tahu kalau Sinta adalah adik dari selingkuhan mantan istrinya berarti mantan adik ipar Cessie.


Kenapa serumit ini cinta Iksan orang yang dia cinta ternyata adalah adik dari selingkuhan mantan istrinya.


Iksan berali menatap orang yang ada didepan sembari bertanya" benaran dengan informasih ini? Kamu gak bohongkan sama saya"?


"Bos gak ada untungnya saya bohong itu memang fakta, tapi bos juga harus tahu kalau nona Sinta itu sebenarnya baik hanya saja waktu itu dia di bawah tekanan ibunya, namun sekarang ini ibunya lagi dirumah sakit jiwa dan kakak laki-lakinya pasti di penjara".


"Kalau mbaknya di kampung tapi mbaknya yang bernama Eva itu sangat baik sehingga nona Cessie sangat menyayanginya walaupun sekarang mereka bukan ipar lagi yang saya tahu saat ini nona Sinta ada kerja disebuah restoran milik nona Cessie dan nona Cessie sangat baik padanya."


Iksan menarik napas dalam-dalam baru mambuangnya dengan kasar sepertinya Iksan harus bicarakan ini dengan kedua orang tuanya dan mbak Alana, tapi tunggu dulu Iksan selesai makan malam dengan Sinta biar bisa mengenalnya lebih dekat baru Iksan ambil keputusan.


"Baiklah kalau begitu kamu boleh pergi...nanti saya akan hubungi kamu lagi kalau saya membutuhkan bantuanmu, soal gaji kamu jangan takut saya akan tranfer ke rekening kamu"


"Siap bos, saya parmisi ditunggu transfernya hahaha"


Iksan hanya gelengkan kepala melihat tingkah orang kepercayaannya lucu rasanya.


Setelah kepergian orang itu Iksan duduk termenung dikursi kebesarannya memikirkan pilihan apa yang harus ia pilih apakah dia berheti berharap dengan Sinta atau tetap melanjutkan hubungan mereka.


Iksan kembali sibuk dengan berkas yang diberikan oleh sekretarisnya..Iksan memeriksa setiap lembar untuk memastikan kalau tidak ada kesalahan apapun .


Setelah selesai Iksan periksa dan tanda tangan semuanya Iksan kembali memanggil sekretarisnya menyuruhnya masuk ke ruangan untuk mengambil berkas itu.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan dia adalah adik dari selingkuhan Nadia kalau aku menikah dengannya itu artinya aku dengan laki-laki itu memiliki hubungan ipar. Aduh malas banget jadi ipar laki-laki itu memang bukan salah dia sepenuhnya karena dia tidak tahu Nadia sudah menikah tapi seharusnya dia sebagai laki-laki tidak patut melakukan itu karena dia juga sudah punya istri cantik. Tapi karena memang dia laki-laki pengecut makanya dia rela menghianati istrinya demi perempuan lain apalagi punya ibu mertua yang suka ikut campur urusan anaknya."


Baguslah Iksan kamu juga harus memikirkan kedepannya, karena kenahagiaan Dira lebih penting tapi percayalah Sinta gadis yang baik


__ADS_2