
Sekarang semua sudah beres, dan mereka keluar dari ruangan melalui koridor rumah sakit menujuh ke parkiran, sepanjang jalan mata pak Yanto memindai sekeliling sepertinya ia mencari sesuatu tapi gak kunjung ketemu juga.
"Anak gadis itu kemana ya, apa kak iparnya sudah keluar? Tapi gak mungkin kemarin baru dibilang masih belum pulih gak mungkin sudah pulang, atau dia masih ada di dalam ruangan, entah kenapa pengen ketemu dengannya atau saya datang aja ya untuk menjenguk kak iparnya"
"Pah, ada apa kok kayak papa nyariin sesuatu, nyariin apa pah"?
"Apa saya cerita ke mama aja kali ya, tentang anak gadis itu, tapi takut mama salah paham lagi, hummm gapapa deh cerita aja siapa tahu mama ada solusi." yang jelas pak Yanto bicara dalam hati.
"Maaf mah, papa lagi cariin seseorang mah, biasanya jam segini dia beli makan tapi hari ini gak kelihatan apa kak iparnya sudah keluar ya dari rumah sakit"
"Ha...anak gadis siapa pah, jangan macam-macam deh, atau jangan-jangan selama mama di rawat papa selingkuh ha."
"Ya ampun mah, dengarin penjelasan papa selesai dulu jangan asal potong begitu saja. Kalau papa mau selingkuh di belakang mama, mana mungkin papa mau jujur sama mama, makanya pikiran mama itu jangan negatif terus."
"terus apa kalau gak selingkuh cepat bilang."
Akhirnya pak Yanto menjelaskan semua dari awal ia tak sengaja bertemu dengan Sinta di ruang tunggu dan Sinta juga perna titip salam buat bu Sari.
Pak Yanto juga gak lupa cerita tentang kak ipar Sinta.
"Loh pah, kok mama merasa cerita anak itu hampir sama dengan yang di alami oleh Nadia pah, jangan-jangan itu Nadia pah uang anak itu maksud, tapi masa sih Nadia sejahat itu rasanya mama gak percaya"
__ADS_1
"Apalagi yang gak mama percaya apa semua bukti itu kurang cukup, untuk membuktikan ke mama? Mah, ada yang mau papa sampaikan ke mama tapi sampai di rumah aja ya,"
"Terus gimana dengan anak gadis itu pah, seadainya Nadia seperti itu pah, mama bahagia sekali." ujar bu Sari sedangkan pak Yanto hanya senyum kecut.
"Gimana kalau mama tahu anak itu sudah masuk penjara, apa mama gak syok? Kira-kira cerita gak ya sama mama, tapi sampai kapan saya harus sembunyikan semua ini" pak Yanto bergulat dengan hati dan pikirannya, di satu sisi ia mau beritahu istrinya tapi disatu sisi lagi ia takut istrinya kembali drop, serba salah di posisi pak Yanto, pada akhirnya pak Yanto memilih diam aja tunggu kondisi istrinya benar-benar pulih dulu baru di beritahu
Pak Yanto membantu istrinya masuk kedadalam mobil, setelah semuanya sudah masuk pak Yanto ikut masuk dan menghidupkan mesin mobilnya, dan keluar dari parkir rumah sakit sepanjang perjalanan pak Yanto masih bergulat dengan pikiran kuatir tentang istrinya, dan juga tiba-tiba perasaannya gak enak, semoga gak terjadi apa-apa pikirnya.
Pak Yanto menyetir mobilnya dengan hati-hati karena pak Yanto takut terjadi apa-apa, mendingan pelan tapi sampai di rumah dengan selamat, dari pada kencang bawah mobil tapi nyawa taruhan.
Tak selang lama mobil berbelok masuk ke dalam pekarangan rumah langsung di sambut oleh satpam, namun dari raut wajah satpan sperti ada kekuatiran.
Bu Sari bergegas mendekati karangan bunga tersebut dan langsung histeris memanggil nama suaminya.
"Argahh.....pah...." pak Yanto yang panik berlari mendekati istrinya yang berteriak sambil memengan dadanya. Dan betapa terkejutnya pak Yanto melihat nama yang terterah dikarangan bungan itu, seketika dunia pak Yanto dan bu Sari mau runtuh. Tapi pak Yanto tetap kuat ia gak mau istrinya melihat dia juga sebenarnya terpukul dengan berita ini. Sebencinya pak Yanto terhadap anaknya, ia juga masih punya hati.
"Bik.. tolong.. bik tolong bawah barang-barang ini kedalam biar saya bawah ibu." pak Yanto dengan sekuat tenanga mengendong istrinya yang pingsan, pak Yanto tahu istrinya hanya pingsan aja karena syok dengan semua kepahitan yang dialaminya.
Apa benar anak itu sudah meninggal kalau memang sudah siapa yang kirim bunga ini, besok saya harus cek ke kantor polisi saya harus pastikan apa berita ini benar adanya.
Pak Yanto meletakan istrinya di atas tempat tidur dengan hati-hati, sebenarnya hati pak Yanto sangat sakit karena kedua anaknya, gak satupun yang tinggal. Kalau memang benar Nadia sudah meninggal pak Yanto sudah iklas.
__ADS_1
Tapi apa iya, anaknya sudah meninggal....argah.....sudah lah lupakan aja dulu sementara waktu ia berpikir gimana caranya untuk bisa membuat istrinya siamun dulu.
"Bik.....tolong ambilkan minyak kayu putih" ujar pak Yanto.
"Ini pak" ujar bibik... Pak Yanto menerima minyak kayu putihnya dan segera mendekatkan ke hidung sang istrinya. Tak lama kemudian istrinya sadar, tapi langsung menangis terseduh-seduh sangat menyedihkan sekali.
"Pah, mama kira ady sudah pergi meninggalkan kita jadi biarlah tinggal Nadia untuk menjaga kita, tapi kenapa ini bisa terjadi pah, tolong jawab mama, kalau berita ini gak benar pah, mama yakin Nadia masih hidup pah, ini pasti bohong."
Pak Yanto prihatin sekali lihat istrinya menangis seperti itu," mama sabar ya besok papa akan cari tahu apakah benar atau bohong sekarang mama harus banyak istirahat, papa mau keluar sebentar.
Pak Yanto bangkit dari tempat duduknya dan keluar menemui satpam." pak saya mau tanya siapa yang mengirim bunga ini"tanya pak Yanto saat sampai di depan gerbang.
"It, itu anu...pak kemarin ada seseorang mengantarkan bunga ini pak katanya ada orang yang pesan dan kirim ke alamat rumah bapak. Tapi saya gak kenal orangnya pak"
"Kamu ingat ciri-cirinya dan ada pesan yang sempaikan gak".
"Ingat sih pak, tapi kayaknya orang itu yang selalu membuat karangan bunga ini pak, jadi sepertinya orang itu juga gak tahu apa-apa pak dan ada titipan surat untuk bapak."
Satpam itu segera masuk kedalam pos dan mengambil secarik kertas dan menyodorkan ke pak Yanto. Ini pak suratnya"
(" Semoga anda baik-baik saja Tuan Yanto!!! Pas anda menerima karangan bunga dari saya, ingat anak anda sudah banyak menyakiti hati orang. Dan sudah banyak menghancurkan kehidupan orang, tapi itu tidak gratis ia akan membayar semuanya. Saya akan membuatnya menderita seumur hidup hingga ajal menjemputnya")
__ADS_1