
Nadia bagun dari tidurnya dengan nafas tersengal-sengal keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya bahkan Nadia sadar ternyata ia sambil menangis sesungukan. Nadia duduk bersandar di tembok dengan keringat dingin.
"Ya Tuhan ternyata ini hanya mimpi, untung bukan nyata, karena kalau seandainya benar mas Iksan sudah aku benar-benar gak terimah, aku harus merebut kembali mas Iksan dari perempuan itu aku gak iklas anakku menyayangi perempuan lain sedangkan aku gak, jangankan memganggap, kenal aja gak, bisa jadi selama ini mas Iksan gak cerita kalai aku ini ibunya dira."
"Eh...tapi tunggu dulu wajah Dira kok hampir mirip ya dengan anak yang perna aku temui do restoran waktu itu, pas makan bareng sama mas Surya, atau jangan-jangan maa Iksan ada disini sama anak saya, hmm saya harus datang ke rumah lama mas Iksan siapa tahu benar mas Iksan ada disini
"Pokoknya aku gak akan biarkan Iksan menikah dengan perempuan lain, aku gak mau melihat Iksan bahagia dengan perempuan lain sedangkan aku dibuang begitu saja, tapi apa arti dari mimpi ku itu ya, apa benar mas Iksan sudah menikah, dan anak itu, kelihatan dia sangat membenciku, jangankan mau di gendong melihat aku aja sepertinya dia jijik, begitu juga dengan mas Iksan, sepertinya mas Iksan sangat jijik pada ku"
"Argh......kenapa didalam mimpi itu ada seorang perempuan cantik memanggil mas Iksan begitu mesra ya, gak aku gak bisa begini terus aku harus cepat sembuh dan mendatangi mas Iksan ke rumahnya".
Sekarang ini pikiran Nadia sudah gak menentuh, disatu sisi ia pengen cepat ketemu dengan Iksan tapi sayangnya kondisi dia gak memungkinkan. Harus butuh waktu untuk dia sembuh, tapi disisi lain Nadia juga gak mau lama-lama takutnya Iksan benaran sudah nikah.
Memikirkan hal itu membuat Nadia pusing dan akhirnya ia kembali tidur sampai sore baru bangun dan pergi cari makan.
Sedangkan di tempat lain Iksan bersama keluarganya pergi jalan-jalan ke mall sekalian belanja keperluan Dira karena kebetulan kakek dan neneknya Dira datang jadi sekalian mereka jalan-jalan.
Awalnya mereka masuk ke tempat sepatu karena mbak Alana juga kebetulan mau beli sepatu dengan Dira, setelah lama mereka memilih akhirnya selesai beli sepatu, sekarag mereka pindah ke tempat pakian mbak Alana belikan Dira baju sepat dan juga tas mini kecil. Membuat Dira sangat bahagia ia melompat bahagia, bola mata cantiknya berbinar.
"Sayang, kamu suka sama baju, sepatu dan tas yang ibu beli" tanya mbak Alana
"suka dong ibu, kalau ibu yang beli pasti cantik bu dan Dira suka" dengan mata berbinar Dira menjawab mbak Alana
__ADS_1
Namun tiba-tiba Dira berlari ke Iksan yang berdiri gak jauh dari situ namun.
Bukkkkkk....
"Dira..... sayang jangan lari-lari dong jatuhkan jadinya sini mana yang sakit, sedangkan Dira hanya senyum" Iksan yang lari mengampiri Dira dikagetkan dengan dua orang yang berdiri tepat di depan Dira dan mbak Alana yang sekarang mereka berdua masih duduk di bawah karena mbak Alana membantu Dira untuk berdiri"
"Iksan...kamu disini sama siapa"tanya bu Sari
"Eh eh...bu it...itu" Iksan gak tahu mau ngomong apa karena memang selama ini Iksan sengaja menjauhkan Dira dari kedua mertuanya, sehingga pada saat ini Iksan binggung mau jujur atau kembali bohong. Namun belum juga Iksan lanjut bicara Dira langsung memanggilnya.
""Ayah....." membuat kedua orang tua yang berdiri di depan langsung melogo, mereka gak percaya kalau anak yang barusan menabraknya adalah anak Iksan bisa jadi, dia cucu mereka.
"Iksan merasa ini saatnya untuk jujur gak perlu lagi menyembunyikan identitas Dira karena parcuma suatu saat juga mereka akan tahu.
"Iya bu, pah maaf selama ini Iksan gak jujur sama ibu dan papa karena Iksan sangat kecewa dengan Nadia, jadi Iksan gak mau kalau Nadia tahu Dira ada disini."
Bu Sari yang mendengar penuturan Iksan bukannya marah, tapi mala ia tersenyum sembari berkata"gapapa nak, yang kamu lakukan itu benar jadi gak usa merasa bersalah, hanya saja biar bagaimanapun Dira adalah cucu ibu dan papa juga, jadi kami juga rinduh sama cucu ibu dan papa."
"Iya nak Iksan yang dibilang ibu benar. Kamu tenang aja kamu gak bakal membawah Dira kok lagian ini bukan salah kamu, maafkan Nadia ya nak, jika sekarang kamu mau cari ibu sambung untuk Dira gapapa papa dan ibu setuju, tapi sebelum itu kamu harus urus cerai dulu sama Nadia biar kalian sudah gak ada ikatan."
Iksan yang mendengar itu kerkejut tapi dalam hatinya berteriak kegirangan, karena akhirnya dia bisa lepas dari wanita ruba itu.
__ADS_1
"Be benar pah, bu? Bapak dan ibu gak marah sama Iksan" tanya Iksan memastikan.
"Untuk apa kami marah sama kamu nak, kamu itu menantu yang baim hanya saja anak kami aja yang gak becus jadi istri, bisa saja sekarang ia sudah mat, karena sudah lama gak ada kabar." ujar bu Sari
"Bu, pah, maafkam Iksan! kalau sekarang baru Iksan jujur, sebenarnya Iksan sudah Ceraikan Nadia sudah hampir depan bulan ini, tapi Iksan takut bilang sama ibu dan papa" ujar Iksan jujur kepada kedua mantan mertuanya.
"Itu lebih bagus nak jadi kamu bebas sekarang kamu bisa cari perempuan yang menurut kamu baik dan bisa menerima Dira menjadi anaknya kami gak keberatan,asal cucu kami bahagia" ujar pak Yanto
"Dira sayang sini salam oma dan opa." ujar Iksan Dira yang anaknya baik dan sopan langsung bangkit dari lantai dan langsung menghampiri kedua opa dan omanya, ia mencium punggung tangan mereka."
"Sehat-sehat kamu ya cucuk oma dan opa kalau ada waktu main ke rumah, opa dan oma pasti kangen sama kamu, boleh oma gendong sayang"
Dira langsung mengangguk dan masuk kedalam pelukan bu Sari dan pak Yanto namun seketika bulir bening lolos begitu saja keluar dari mata bu Sari membuat Dira binggung dan bertanya" oma kenapa nangi? Dira buat salah ya oma?"
Bu Sari yang langsung menghapus air matanya dan mengelengkan kepala" kamu gak buat salah sayang, oma hanya terharus akhirnya bisa ketemu dengan cucu kesayangan oma, semoga kamu bertumbuh menjadi anak gadis yang baik dan penurur ya sayang, jangan seperti ibu kamu"
"Oh iya oma Dira juga senang bisa ketemu dengan oma dan opa, oma dan opa jaga kesehatan ya."
"Pasti dong sayang, nanti kalau ada waktu datang main kerumah ya Sama ayah"
"Siap opa".
__ADS_1