
Faya yang duduk di bangku penumpang sudah malas meladeni pria yang ada di depannya, Faya merasa kalau pria itu sepertinya ada kurang-kurangnya jadi harus segera dibawah ke rumah sakit jiwa agar tidak makin para karena dari tadi bicaranya gelantur saja.
Faya merasa ada yang ane dengan perkataan pria itu sehingga faya mulai curiga dengan pamannya itu, Faya langsung keluarkan telponnya dari dalam tas dan hendak mau menghubungi paman Bagas.
Tidak lama kemudia ada suara berat dari seberang telpon.
"Hallo paman, maaf paman ini siapa sih yang paman menyuruh untuk menjemput Faya bicaranya kok ngaur saja" tanya Faya dengan nada kesal.
"Hallo nak, memangnya dia bicara apa, tidak boleh bicara seperti itu nak pria itu pria baik-baik dia sudah sangat berjasa dengan keluarga kita, jadi kamu nurut saja apa kata dia ya nak jangan melawan.?"
"Berjasa maksud paman apa ya, kenal saja gak kok bisa berjasa dari mana? masa dia bicara bilang dia adalah calon suami Faya yang benar saja paman, pamankan tahu sebentar lagk Faya akan menikah dengan pria piliham Faya"?
"Iya nanti aja nak sampai dirumah saja dulu ya baru kita bicarakan paman lagi sibuk, jangan marah-marah ya sama nak Ilham dia sangat baik mau menjemputmu, seharusnya kamu baik-baikin dia karena nanti dia yang akan selalu bersama kamu"
Tiba-tiba telpon paman Bagas langsung dimatiin itu yang membuat Faya merasa ada yang di sembunyikan oleh paman bagas dan istrinya, tapi Faya tetap nekat datang kesana karena jika memang benar seperti dugaannya Faya sudah menyiapkan rencana untuk bisa keluar dari tempat itu asal dia tahu siapa paman Bagas sebenarnya.
Memang dulu Faya sering ke tempat paman Bagas tapi tidak perna sekalipun ketemu dengan laki-laki ini, makanya Faya heran kok bisa laki-laki ini datang menjemputnya.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit akhirnya Faya dan pak Ilham sampai di rumah paman Bagas ternyata hanya bibiknya yang ada dirumah, tapi paman Bagas gak ada. Bibiknya dan pak Ilham umurnya tidak bedah jauh hanya bedah dua tahu saja masa bibiknya memanggil pak Ilham dengan sebutan anak gila.
"Eh nduk sudah sampai ya, wah..kamu makin cantik sekali sayang sudah lama kamu gak kesini loh semenjak orang tua kamu meninggal, yuk masuk kedalam ajak nak Ilham sekalian. Mendingan nduk kamu temani nak Ilham gobrol dulu biar bibik buatkan teh untuk kalian, tidak enak nak Ilham sudah capek-capek datang jemput kamu, terus di biarkan duduk sendiri disitu"
"Eh gak usa bibik, masa bibik yang bikin biar Faya saja, bibik disini saja temani pak Ilham" Faya menolak untuk duduk dengan pak Ilham karena pria itu dari tadi matanya jelalatan mulu jadi hal itu membuat Faya merasa risi sekali
"Jangan gitu dong nduk kalian harus dekat dan saling kenal biar nanti kalau kalian sudah hidup bersama tidak canggung lagi, masa bibik yang duduk disitu nduk seharusnya kamu dong yang temani nak Ilham"
"Deg....ternyata benar dugaanku bibik dengan paman jebat aku, jadi ternyata diam-diam aku di jodohkan dengan pria tua ini astaga mimpi apa aku sampai jadi begini ya Tuhan kok bisa paman dan bibik setega itu sama aku, tapi aku jangan dulu ambil keputusan aku harus menunggu paman Bagas pulang karena aku yakin ini bukan perjodohan biasa, tapi bisa jadi paman dan bibik sudah melakukan sesuatu terhadap laki-laki ini dengan perjanjian menikahi aku. Aku harus waspada" gumam Faya dalam hati.
Pak Ilham yang duduk di kursi dekat Faya sekali-sekali melirik Faya.
Sedangkan Faya menatap Ilham dengan tatapan tidak suka untung Faya datang hanya bawah koper kecil dan didalam isinya hanya ole-ole dan juga tiga pasang pakian didalam gak ada barang berharga karena Faya sengaja tinggalkan semua.
Jadi jika nanti ada sesuatu terjadi padanya ia bebas kabur begitu saja tapi apa iya Faya kabur begitu saja sepertinya tidak segampang itu, karena paman Bagas jahat jadi pasti dia tahu jika sudah dengan lembut Faya di bujuk untuk nikah dengan Ilham tapi kalau Faya gak mau nikah dengan Ilham makan masih ada cara lain yang sudah di sediakan paman Bagas untuk menjerat Faya.
Karena sebelum Faya datang bibik dan paman Bagas dan Ilham sudah bicara mereka sudah merencanakan sesuatu bisa jadi Ilham akan melecekan Faya agar Faya merasa dirinya kotor dan terpaksa menikah dengan Ilham.
__ADS_1
Aduh merencanakan rencana murahan, tidak segampang itu bisa di bodohin Faya jadi jangan harap kalau kalian bisa berhasil, jangan sampai cara kalian itu yang akan membuat rumah kalian langsung pindah ke hotel bintang lima dan makan makanan gratis.
Mau macam-macam dengan calon istrinya pak Aris awas aja kalian, kalian belum tahu siapa yang kalian hadapi.
Mulai saat ini lebih baik Faya hati-hati jika ia makan dan minum jangan sampai di makanan atau minuman ada sesuatu yang gak Faya ketahui bisa bahaya.
"Kalian mau main-main dengan aku kan oke baiklah kita akan bermain, aku tidak perlu mengabari mas Aris dan Cessie soal ini karena aku bisa mengatasinya, aku percaya dua hari lagi aku bisa pergi dari sini tapi aku jangan kasih tahu kalau aku pulang dua hari lagi, nanti mereka curiga, aku senjaga pura-pura gak tahu rencana mereka dan aku bilang saja satu minggu lagi baru aki pulang"
"Dik Faya kenapa kamu diam saja sih dari tadi bicara dong cerita pengalaman waktu di kota, kami yang orang kampung ini bisa apa, hari-hari hidup merawat sapi dan ladang pasti di kota sangat indah dan seru, benar gak"tanya Ilham
Kali ini Faya membalas perkataan Ilham dengan rama dan agak sedikit tersenyum, walaupun dalam hati mencaci maki pria yang ada dihadapannya itu tapi karena faya juga harus nengikuti permainan mereka jadi biar Faya sabar untuk menghadapi mereka.
Faya masih menunggu kedatangan paman Bagas agar dia ingin segerah tahu apa tujuan paman bagas sampaikan.
Tidak selang lama sang bibik datang membawah tiga cangkir teh satu untum Ilham, satu untuk Faya dan satu untuk sang bibik, sang bibik meletakan tehnya di atas meja dan turut duduk bersama Faya dan Ilham.
"Bik jam berapa paman pulang dari kantor terus adik-adik mana mereka pergi kerja atau masih kulian"
__ADS_1
"Sore baru paman kamu pulang, kalau Masni sudah kerja tapi kalau Mega belum dia masih kulia selesaikan dulu kuliannya baru kerja."