
Ditempat lain Nadia sudah bangun dari tidur panjangnya sekitar jam sebelas pagi itupun karena merasa lapar kalau tidak kemungkinan dia belum bangun.
Ia mengerjapkan matanya, dia melihat dari celah pintu diluar sudah sangat terang.
Waduh udah jam berapa ya, sial banget hidupku seperti inilah kalau tidak memiliki jam, mau lihat jam berapa aja susa. Nadia mengerutu dalam hati.
Ia berusaha bangun dari tidurnya karena badannya gemetar, mungkin karena kelaparan sehingga tidak punya kekuatan untuk bangun.
Hmmmm gak ada makanan lagi terpaksa deh makan mie aja masih syukur ada mie dari pada tidak ada sama sekali, untung juga ada dapur umum jadi bisa masak mie pakek kompor ibu kontrakan.
Nadia gegas masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci mukanya dan setelah selesai ia langsung mengambil mienya dan hendak ke dapur umum ternyata tidak ada orang, disana sangat sepi, baguslah jadi Nadia dengan santai memasaknya, tapi pas masak Nadia teringat kembali tadi pagi sekitar jam empat itu siapa sebenarnya yang ngetuk pintu kamarnnya ya.
Nadia juga binggung tapi dia juga tidak berani bertanya takutnya ada yang mikir macam-macam lagi.
Setelah selesai masak Nadia gegas kekamarnya membawah mie yang sudah dia masak untuk mengisi perutnya. Sementara makan mie aja dulu nanti baru beli nasi di depan pikirnya.
Karena akhir-akhir ini badan Nadia seperti lemas dan agak sedikit demam, makanan yang sering di makannya kadang di muntahkan, tapi Nadia berpikir kalau mungkin dia masuk angin atau kurang istirahat sehingga kondisinya drop.
Badan Nadia juga sudah tidak seseksi dulu, ia semakin hari badannya semakin menurun, tapi Nadia tidak peduli dia merasa itu hal bisa karena selama ini dia wanita karir tapi sekarang hidupnya di kamar terus jadi istirahat mendadak makanya badan seperti itu.
__ADS_1
Setelah sampai didalam kamar Nadia meletakan mienya diatas meja kayu kecil dan langsung menyantapnya namun belum berapa sendok perut Nadia bergejolak pengen mengeluarkan isi perutnya.
Nadia gegas ke kamar mandi dan memuntahkan mie yang baru saja ia makan, Nadia sampai berkeringat dingin.
"Apakah aku hamil, tapi tidak mungkin rahimku sudah di angkat, kecuwali belum. Lagian kalau aku benaran hamil anak ini, anak siapa coba banyak laki-laki bejat itu mengiringku dengan tidak punya hati, sampai mereka membuangku ke hutan."
"Gak..aku yakin aku tidak hamil mungkin hanya masuk angin karena kemarin aku basah pulang dari rumah mas Iksan dan juga telat makan. Makanya perutku gak enak"
Nadia sampai sekarang masih berpikir kalau dia hanya masuk angin bukan karena sakit, karena Nadia hanya merasakan badannya kayak panas dan bawaannya lemas tapi tidak panas banget. Kayak agat gitu badan Nadia
Nadia juga merasa mulutnya kayak sariawan makanya bisa jadi kurang minum air sehingga Nadia panas dalam, ia tidak bergerak untuk pergi periksa ke dokter karena salah satu faktor kalau Nadia tidak punya uang, yang kedua kalau dia kerumah sakit berarti bisa ketahuan kalau ia seorang buronan. Dan akhirnya ia di tangkap polisi.
Dari orang tuannya yaitu bu Sari dan pak Yanto mereka begitu memanjakan Nadia setelah meninggal kaknya Nadia, apapun yang Nadia inginkan selalu di kabulkan oleh bu Sari dan pak Yanto, itulah yang membuat Nadia semakin keras kepala dan gelap mata terhadap dendamnya kepada orang yang sudah mekenyapkan nyawa kak nya.
Sekarang Nadia sudah jauh dari hal kemewahan, dia sudah tidak punya apa-apa lagi jangankan barang mewah, uang untuk beli makan aja susa. Untung waktu itu orang yang menyiksanya masih punya hati jadi sengaja membiarkan uangnya di bawah sama Nadia sehingga uang itu membuat Nadia bisa bertahan sampai sekarang.
Apalagi pak tua yang ditemui oleh Nadia waktu itu sangat berbaik hati sehingga ia membayar kontrakan Nadia. Jadi uang Nadia tidak keluar untuk bayar kontrakan, makanya Nadia pergunakan uang itu dengan sebaik mungkin agar dia mampuh bertahan hidup dengan uang itu.
Karena Nadia memikirkan hal itu membuatnya tidak terasa bulir bening keluar begitu saja dari kelopak matanya. dan membasahi pipi Nadia, karena saat ini Nadia merasa sudah tidak berguna Iksan juga sudah tidak menerimannya lagi sedangkan sampai sekarang dia belum bertemu dengan orang tuanya.
__ADS_1
Kenapa hidupku menderita begini , padahal dulu aku hidup penuh dengan kemewahan, tanpa harus susah paya aku bekerja, aku hanya buang suara saja, atm ku langsung terisi dengan nominal yang aku minta bahkan bisa lebih dari permintaanku.
Aku beli apa yang aku inginkan, aku menghamburkan uang tanpa berpikir panjang, dan sekarang aku merasa seperti orang tidak berguna dan aku tidak di inginkan oleh siapapun, semoga ibu dan ayah masih mau menerimaku kembali.
Nadia sadar dari lamunannya dan menghapus air matanya, ia gegas bangkit dari duduknya dan hendak kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, rencana setelah selesai mandi Nadia akan lanjut istirahat lagi karena menang sekarang kondisi Nadia lagi lemah.
Nadia meremdam dirinya dengan air dingin, Nadia sengaja karena ia merasa badannya agak sedikit panas mungkin dengan mandi air dingin badannya kembali membaik, namun justru Nadia salah karena dengan mandi air dingin itu membuatnya mengigil.
Nadia dikamar mandi hampir setegah jam ia membersihkan tubuhnya, setelah selesai Nadia keluar dari kamar mandi dan segerah menganti pakiannya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk, karena badan Nadia mulai mengigil, hal itu membuat Nadi merasa sedikit takut. Untung kemarin Nadia membeli obat demam di warung jadi Nadia mengambil obat itu dan meminumnya.
Setelah selesai ganti pakaian dan mengeringkan rambutnya Nadia langsung minum obat itu dan kembali membaringkan tubuhnya yang lemah itu di atas kasur.
Nadia membungkus tubuhnya dengan selimut yang ada, tapi tetap saja itu tidak mampan karena Nadia masih kedinginan akhirnya Nadia kembali membuka lemari yang ada dan memgambil jaket milik anak bu kontrakan.
"Gapapa deh aku pakek tahan aja nanti baru aku cuci dan simpan kembali ke tempatnya, ini bukan punyaku aku hanya pinjam aja"
Nadia bicara sendiri, setelah selesai pakai jaket Nadia kembali baringkan tubuhnya dan menyelimuti tubuhny, karena sudah minum obat akhirnya Nadi ngantuk dan tertidur.
Kasian kamu ya Nadia kamu begitu menderita, tapi tidak ada satu orang pun yang datang menolongmu
__ADS_1