
Pas pria asing itu mau keluar dia di cegah oleh Nadia, akhirnya laki-laki itu berhenti tapi gak menoleh kebelakan dia tetap menatap keluar sembari tertanya, kenapa.
"Kenapa?" tanya pria asing itu
"Boleh kah kamu jawab jujur sama aku siapa kamu dan apa tujan kalian menahan aku disini, atau bisa jadi adakan seseorang yang menyuruh kalian untuk menahan aku disinikan."? Nadia dengan langkah tertatih-tatih datang dan mendekati laki-laki itu.
Namun pria itu sama sekali gak menoleh hanya senyum kecut menghiasai bibirnya. Sembari berkata lirih" gak perlu kamu tahu siapa aku dan siapa mereka, dan kamu juga gak perlu tahu apakah seseorang yang menyuruh kami atau gak itu bukan urusan kamu. Mendingan kamu ngurus diri kamu, dan satu hal yang perlu kamu tahu. Semua yang terjadi terhadap diri kamu itu karena efek dari perbuatakan kamu yang sudah menyakiti hati banyak orang dan juga merugikan banyak orang. Mereka menjadi korban karena kejahatan yang kamu lakukan, mendingan kamu berubah kalau gak aku jamin kamu akan menderita kedepannya, karena gak ada satupun yang akan menerima kamu kembali termasuk orang tua kamu.
Setelah selesai bicara demikian pria itu melangkah pergi, ia langsung mendorong Nadia masuk dan mengunci kembali pintu dari luar. dan langsung bergegas pergi meninggalkan Nadia menangis didalam kontrakan. Karena dia gak dapat jawaban apapun dari pria itu parcuma juga ngotot bertanya juga sama aja.
Tadi Nadia meminta pria itu untuk antarnya ke rumah orang tuanya namun sayangnya sih pria tak menangapinya, Nadia menyeret kembali langkahnya menuju ke tempat tidur karena area bawahnya agak sedikit sakit karena di redup paksa oleh laki-laki tadi padahal suadah terbiass, tapi bisa juga sakit.
Nadia kembali membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan badannya terasa sakit semua terutama perutnya makin parah sakitnya. Membuat Nadia meringis menahan sakit.
"Apa benar seperti yang pria itu katakan jika aku sudah melukai hati banyak orang tapi siapa? perasaan aku gak perna melakukan kesalahan, memang Surya Cerai dengan Cessie tapikan itu salah mereka berdua Surya gak tahan dengan godaan makanya ia termakan rayuan aku, sedangkan Cessie memang gak bisa hamil dia gak bisa memberikan anak untuk Surya makanya Surya selingku, terus masalah saya dimana. Sedangkan mas Iksan kan memang sebentar lagi aku akan kembali hidup bersamanya. Kok di bilang aku menyakiti banyak orang."
"Setelah selesai dari mas Iksan nanti baru kami pergi lihat ibu dan ayah, jadi aku gak perna melakukan kesalahan. Ah mendingan istirahat dulu badan lelah sekali dari pada mikirin yang gak jelas pria brangset itu hanya membual, jadi untuk apa percaya begitu,"
Akhirnya Nadia kembali tidur karena memang badan Nadia belum sepenuhnya fit, jadi cepat lemas dan tambah lagi perutnya yang sakit.
__ADS_1
Sedangkan laki-laki tadi pergia ke sebuah gudang atau tepatnya sebuah ruangan disana banyak sekali laki-laki yang lagi duduk dan sambil mendengarkan arahana dari bos mereka, setelah sampai disana ternyata sudah selesai.
"He bro...eh..sorry bos hahaha." ujar laki-laki tadi
" Gimana, dia maukan sama kamu? Dan kamu gak biarkan dia pergikan"?
"Gak kok dia masih ada di kontrakan tadi dia maksa aku untuk antar pulang dia ke orang tuanya tapi aku gak mau nanti bos marah gimana"
"Iya biarkan aja disitu karena itu tanggung jawabku, aku yang bawah jadi biarkan saja tunggu perintah dari bos."
Kedua orang itu ngobrol hanya tentang Nadia, ya mereka berdua adalah supir taksi dan pria asing tadi yang datang kalau yang satu lagi ada keluar.
******
Sedangkan pak Yanto juga binggung apa yang harus ia lakukan sekarang sangat terdesak dengan keadaan yang sangat genting, pak Yanto memerintahkan sekretarisnya untuk mengumpulkan semua staff penting seperti Menejer dan Hrd untuk buat miting dadakan agar mereka bisa cari solusi yang tepat, supaya perusahaan bisa di selamatkan.
"Damal tolong bantu sekretaris untuk mengumpulkan semua para staff, dan kita miting lima belas menit lagi." ujar pak Yanto
"Baik pak" ujar Damal
__ADS_1
Damal gak banyak bicara karena memang ia tahu kondisi saat ini sangat tak memungkinkan. Jadi mendingan diam dan menuruti semua perintah dari bosnya siapa tahu nanti banyak solusi yang masuk dan perusahaan bisa di selamatkan, karena sekarang perusahaan membutuhkan suntikan dana yang besar kalau gak bisa gulung tokar sedangkan pak Yanto juga binggung, kemana lagi ia harus mencari investor.
Karena cari investor mendadak itu susah apalagi perusahaan sekarang dalam masa krisis, belum tentu ada yang mau.
Pak Yanto karena pusing, ia melupakan istrinya yang masih sakit dirumah, karena sekarang fokusnya hanya untuk perusahaan yang dalam masala besar.
"Ya Allah, dosa apa yang sudah anak itu lakukan sehingga mencelakai semua orang, saya bersumpah kalau sampai perusahaan ini tak bisa lagi di selamatkan, jangan harap saya bisa menerima kembali dia di rumah kalai dia berani pulang, saya anggap anak saya semua sudah mati".
"Kamu anak gak berguna, kelakuan kamu sangat buruk masih kurang apa lagi kami sebagai orang tua berikan sama kamu. Sehinggi kamu menjadi anak kurang ajar yang gak tahu cara berterimah kasih dan mala menghancurkan satu-satunya harapan orang tua"
Pak Yanto sangat marah karena perusahaannya yang sudah mau bamgkrut, lima belaa kemudia semua para manejer sudah berkumpul di ruang miting. Pak Yanto menyeret melangkahnya dengan gontai masuk kedalam ruang miting.
Pak Yanto langsung duduk do atas kursinya yang sudah tersedia dan langsung membicarakan maksud dan tujuan mereka berkumpul di situ. Pak Yanto gak mau basa basi lagi mendingan to the point aja.
"Selamat siang semuanya, maaf kita harus miting mendadak karena saya sebagai pemimpin di perusahaan ini, ingin meminta selusi dari kalian semua semua, jika ada diantara kalian yang memiliki ide untuk kita bisa menyelamatkan perusahaan ini silakan." ujar pak Yanto dengan gusar
Namun semua karyawan masih pada diam sua belum ada yang menangapi pak Yanto, karena mereka juga binggung, mau berikan solusi apa sedangkan mereka juga gak tahu.
Namun tiba-tiba ada diantara semua staff ada seorang staff perempuan yang buka suara.
__ADS_1
" Maaf pak bagaimana kalau kita minta bantuan dari perusahaan. Anggara grup pak, perusahaan itukan besar juga dan nomor dua dari perusahaan Arya grup siapa tahu ia bisa membantu"
Pak Yanto langsung berpikir karena perusahaan itu milik Iksan jadi gak mungkon ia minta tolong lagi sama Iksan.