Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo

Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo
231


__ADS_3

Make up bisa menutupi wajah pucat Nadia karena sekarang badannya juga makin kurus. Entahlah Nadia sakit apa dia juga tidak bisa periksa ke dokter


"Wah....mbak Nana cantik banget, tapi memang dasarnya mbak cantik hanya aja mbak agak pucat apa mbak ada sakit" tanya mbak salon.


"Gak ada sih aku biasa aja tidak merasa sakit cuman akhir-akhir ini memang agak sedikit demam sih tapi sudah sembuh mungkin karena kecapean"


"Oh kirain mbak sakit soalnya selain mbak pucat mbak juga makin kurus loh, badan mbak agak sedikit kurus padahal waktu itu badan mbak gak sekurus ini." ujar mbak salon


"Oh ya, masa sih mbak? Perasaan badanku gini-gini aja gak ada yang kurang deh...mbak salah lihat kali tuh"


"Baiklah kalau memang mbak gak percaya coba deh mbak berdiri di depan cermin biar mbak bisa melihat tubuh mbak, aku gak bohong loh mbak"


Nadia masih diam dan mencerna setiap perkataan yang dilontarkan oleh mbak salon, namun semenit berikutnya Nadia bangkit dari duduknya dan ia gegas ke depan cermin ian melihat badannya.


Betapa terkejutnya Nadia melihat badannya memang sudah kurus, pantas aja rok yang dia pake kemarin waktu pergi ke rumah Iksan agak sedikit sesak tapi sekarang justru agak molor sedikit.


Tapi Nadia tidak mau mengakuinya didepan mbak salon dia tetap bilang kalau badan dia tetap sama tidak ada yang kurang.


"Gak ada sih mbak menurutku badanku masih sama".


Karena sih mbak salon gak mau memperpanjang pembicaraan mereka karena mbak salon tahu kalau Nadia tidak akan percaya, jadi takutnya dan justru salah paham sehingga nanti jadi masalah akhirnya mbak salon diam saja.

__ADS_1


Setelah selesai Nadia membayar uang make upnya ia keluar dari salon dengan gaya seksinya ia lengak-lengok keluar dari salon dan menuju ke depan untuk mencari taksi, kali ini Nadia agak sedikit kesulitan cari taksi karena salonnya agak masuk kedalam gang kecuwali harus jalan lagi kedepan untuk menunggu taksi di sana.


"Aduh...kenapa hidupku gini amat ya menderita banget, dulu kemana-mana naik mobil sendiri gak perlu jalan kaki dengan haihils begini sudah cape jalan kaki sakit berkeringat tambah panas lagi, pokoknya kalau aku sampai dirumah aku minta mobilku biar kemana-mana aku gak kesulitan"


Sepanjang jalan Nadia mengerutu karena hidupnya susa setelah pergi meninggalkan suaminya demi sebuah balas dendam, hampir sepuluh menit jalan kaki akhirnya sampai di jalan besar juga, tapi tidak semuda itu Nadia mendapatkan taksi harus menunggu dulu.


Astaga mana sih taksi ini giliran aku butuh kagak lewat-lewat tapi giliran gak butuh coba, pada muncul dimana-mana bahkan banyak yang kosong gila benar nih taksi aku tinggu sampai kapan coba disini sampai lumutan apa gimana ya.


Makanya Nadia jadi orang tuh jangan serakah sekarang nikmati aja karma yang sudah datang menghampiri mu, sudah dapat suami yang baik, sudah di karunia anak dan dapat keluarga yang sangat menyayangimu tapi kamu yang tidak tahu berterimah kasih.


Lama hampir lima belas menit baru muncul taksi di depan Nadia membuat Nadia sedikit emosi dengan pak sopir, lah memangnya pak sopir tahu kalau kamu lagi menunggu disitu untuk mencari taksi kan gak. Taksi juga kebetulan lewat saja makanya bisa ketemu.


"Pak, lama banget sih lewatnya dari tadi kek biar gak lama menunggunya mala panas banget lagi"


Karena Nadia melihat pak sopir jadi marah akhirnya ia diam saja, takutnya nanti pak sopir justru tinggalkan lagi di jalan kayak waktu itu.


"Mana alamatnya neng atau kita keliling kota ini"


Nadia menyebut alamat rumah orang tuanya sopir hanya diam saja jangankan bicara melirik Nadia saja pak sopir gak sudi, mungkin karena tadi sudah di omelin sama Nadia. Makanya pak sopir juga malas bertanya-tanya.


Nadia mengeluarkan hp yang tadi dapat pilih di jalan dan membukanya siapa tahu ada petunjuk siapa pemilik hp itu, ia membuka galeri tapi tidak ada foto sama sekali, buka wa juga kagak ada tapi masih kelihatan hp baru soalnya kelihatan dari kesing dan layar depannya.

__ADS_1


Beruntung juga Nadia bisa mendapatkan hp itu secara gratis lagi dapat pilih di jalan apalagi kebetulan Nadia juga kagak punya hp jadi bahagia dia tinggal beli kartu saja untuk pasang.


"Humm siapapun pemilik hp ini makasih karena dengan kamu menjatuhkan hp kamu, kamu bisa menolong aku untuk mendapatkan hp, aku tahu kamu pasti kecarian dengan hp kamu tapi maaf aku tidak bisa kembalikan karena aku sangat membutuhkannya."


Hampir empat puluh lima menit Nadia dalam perjalanan ke rumah orang tuannya akhirnya mobil taksi yang di tumpangi Nadia berbelok dan berhenti tepat di depan gerbang rumah kedua orang tua Nadia.


Namun karena Nadia sibuk dengan hp baru yang ia dapatkan dengam cuma-cuma jadi Nadia tidak menyadari kalau mereka sudah sampai.


"Neng sudah sampai mau turun gak?" tanya pak sopir mebuat Nadia kanget dan menoleh ke arah luar kaca mobil, ternyata benar namun yang menarik perhatian Nadia adalah kenapa terlihat sangat sepih ya.


Nadia turun dari dalam mobil dan membayar ongkos langsung pak sopir taksi tancap gas dan pergi meninggalkan Nadia.


Nadia melangkah mendekati gerbang dan mengintipnya kedalam tapi tidak ada orang sama sekali membuat Nadia kuwatir. Takutnya terjadi sesuatu dengan orang tuanya ia berkali-kali memencet bel tapi tidak ada satu orangpun yang keluar.


"Kemana sih semua orang satpam juga gak ada satupun menjaga disini, bibik juga kemana ya kok sepih banget jangan bilang kalau ibu dan ayah sudah pindah dari sini aku tidak mau mereka pergi, dan entah kemana lagi, kalau memang mereka pergi tapi tidak mengkuwatirkan aku memang orang tua kurang ajar masa anaknya sudah lama gak pulang tapi mereka tidak kuwatir sama sekali gila."


"Ayah....ibu....pak danag..tolong buka pintunya bu Nadia pulang bu, tolong buka pintunya Nadia tahu ibu ada didalam jangan egois dong bu biarkan anak ibu berdiri diluar begini, Nadia kangen sama ibu dan ayah makanya Nadia pulang tolong buka pintu gerbang bu"


Biarpun Nadia berteriak sampai kerongkongan sakit tidak ada sahutan dari dalam membuat Nadoa emosi dan mendorong gerbang dengan kasar, karena tadi Nadia memanggil dengan suara keras jadi mengundang perhatian tetangga.


"Nadia.....kamu bukannya Nadia ya" tanya ibu yang tempoh hari didatangi oleh pak Yanto dan bu Sari, ibu itu justu memperhatikan pempilam Nadia dari ujung kaki sampai ujung rambut membuat Nadia jadi risi.

__ADS_1


"Ia benar aku Nadia bu, ada apa ya? Oh ya bu aku mau tanya orang tuaku kemana ya kok rumah sepertinya sepih banget kayak gak ada penghuni, satpam juga tidak ada dan asisten rumah tanggah juga tidak ada semua pada kemana ya bu kalau boleh aky tahu."


"Kamu benaran Nadiakan bukan hantu masa hantu datang gentayangan siang-siang gini sih gak mungkin deh, tapi bukannya anak pak Yanto sudah meninggal ya katanya sampai ada kirimin papan bunga turut berduka cita kok bisa hidup lagi"


__ADS_2