
Akhirnya hari ini Nadia keluar dari kandangnya, hampir dua tahun lebih dia menghilang dari kehidupan Keluarga Iksan. Tapi hari ini Nadia kembali muncul. Dan selama pelarian dari rumah sakit sudah hampir tiga minggu mau masuk satu bulan akhirnya Nadia berani datang meminta bantuan ke mantan suaminya.
Satu malam Nadia tidak bisa tidur ia memikirkan apakah keputusan yang dia ambil untuk pergi bertemu dengan mantan suaminya sudah tepat atau belum. pertimbangan demi pertimbangan akhirnya Nadia memantapkan hatinya untuk pergi bertemu dengan Iksan padahal Nadia tahu orang tuan dan kaknya Iksan ada nginap dirumah Iksan, tapi dia tidak peduli punya nyali juga sih perempuan ini.
Besok paginya sebelum Nadia bersiap untuk pergi ke tempat Iksan ia pergunakan uang yang masih sisa itu untuk pergi ke salon, tidak masalah kali ini cari salon yang harga murag ratusan ribu tidsk masalah, kalau dulu jutaan ini ratusan tidak apalah yang penting tampil sempurna.
Nadia bersiap pergi kesalon siang harinya agar pulang dari salon langsung pergi ke tempat Iksan, rencana Nadia mau langsung ngnap di rumah Iksan aja.
Aduh aku sudah tidak sabar ketemu dengan anakku dan suamiku, kangen banget aku sama mereka pasti dimana mereka juga rindu sama aku. Nadia mengulum senyumnya karena dia pikir setelah dia pergi ketemu dengan Iksan hidupnya akan kembali bahagia. Karena pasti Iksan akan manjain dia karena sudah mau pulang kerumah.
Setelah Nadia pulang dari salon ia langsung ganti dan cari taksi di pinggir jalan, ingat ya guys Nadi itu bulum punya hp, jadi kalau mau pergi kemana harus cegah taksi dijalan. Tak lama kemudia sebuah taksi berhenti tepat di depannya dan Nadia segerah masuk kedalam Nadia juga kasih tahu alamat tujuannya.
Taksi melaju memecah keramaian jalanan, apalagi sudah sore banyak pekerja yang berlomba-lomba pulang ke rumah masing-masing. Walaupun agak sedikit macet tidak masalah bagi Nadia asal dia sampai di rumah mantan suaminya, jadi Nadia masih berangapan kalau Iksan belum menceraikannya, dan juga Nadia pikir selama ini Iksan tidak tahu apa yang sudah ia lakukan. Padahal Iksan sudah menyimpan semua bukti tinggal menunggu kapan bomnya akan meledak menghancurkan Nadia.
Dalam hati Nadia jika nanti malam ini dia nginap di tempat Iksan besok paginya ia mengajak Iksan dan anaknya pergi kerumah orang tuannya.
Pak supir yang mengemudikan mobil sekali-sekali ia melirik Nadia membuat Nadia merasa risi karena tatapan supir. Tapi Nadia masih diam, dia belum menangapi tatapan itu. Tidak lama pak supir bertanya.
"Neng siapa namamu"
"Nama saya pak? untuk apa bapak bertanya tentang nama saya ada yang salah sama saya"?
"Maaf neng saya tidak ada maksud apa-apa hanya saja wajah neng agak sedikit mirip dengan buronan yang sedang dicari sama polisi saat ini kalau tidak salah namanya Nadia.
__ADS_1
"Deg......"
"Waduh gawat nich mana tidak pake masker untug make upku agak sedikit tebal jadi sepertinya orangnya kurang kenal pura-pura aja deh tidak tahu dan ganti nama aja."
"A..aku Tari pak, mungkin hanya mirip aja lagian banyak kok orang mirip, aku juga sudah dengar berita itu katanya perempuan itu kabur dari rumah sakit ya pak"
"Loh kok neng tahu kalau perempuan itu kabur dari rumah sakit, memang dia buronan tapi setahu saya waktu di berita dia ikut andil dalam kasus korupsi dengan selingkuhannya bukan kabur dari rumah sakit."
"Deg...."
"Aduh gila....gila kenapa aku sampai keceplosan sih jadi makin curiga kan sama pak tua ini, apes banget hidup ini aku harus cari cara agar pak tua tidak curiga."
Karena Nadia keceplosan akhirnya sang supir taksi makin curiga dengannya dan mulai curi-curi pandang ke Nadia.
"Ya saya tahu dari teman kontrkan saya pak kebetulan dia kerja di rumah sakit perempuan itu dirawat, jadi pas beritannya viral dia cerita kalau buronan itu kabur dari rumah sakit begitu pak" ujar Nadia memang soal bersilat lidah Nadia jagonya.
"Aduh pak tua ini bisa aja deh buat jantungku tidak nyaman, untung dia tidak berpikir untuk hubungi polisi kayak kenarin itu kalau tidak berantakan deh, semua rencanaku, tapi bagua deh dia percaya begitu saja jadi aman sekarang"
Tidak lama kemudia taksi berbelok dan berhenti tepat didepan sebuah rumah yang memiliki gerbang yang setinggi dua meter. Nadia tidak langsung keluar ia masih memandang sekitar ia mau lihat ada gak orang di sekitar, Nadia keluarkan maskernya dari dalam tasnya dan sengaja memakainya kerena ia mau kasih kejutan untuk Iksan atas kepulangannya.
"Neng sudah sampai, atau neng tidak mau turun" ujar pak supir.
"Iya pak sabar sedikit napa pak" ujar Nadia kesal akhirnya Nadia turun.
__ADS_1
Nadia dengan begitu angun turun dari dalam mobil dan melangkah mendekati gerbang itu, dia perhatikan dari luar dan melihat ada beberapa mobil yang masi terparkir di halaman rumah. Itu tandanya tuan rumah ada didalam padahal gerbangnya juga belum dibukan, Nadia hanya mengintip dari luarnya saja, ia senyum merekah dalam hatinya kegirangan akhirnya dia kembali kerumah ini lagi na.
Nadi mencet belnya.
Ting tong!
Tak lama kemudia seorang pria bertubuh tinggi kulit sawa matang membuka ngerbangnya, memandangin Nadia dari atas sampai di bawah setelah itu baru dia bertanya kepada Nadia"
"Maaf mbak anda siapa ya dan mencari siapa"
Namun bukannya menjawab Nadia justru nyelonong masuk begitu saja, ia tidak menghiraukan satpam yang ada disitu. Sampai pak satpam berteriak
"Hey mbak anda siapa main nyelonong aja, anda siapa sih ada perlu apa dengan bos saya? Maaf harus minta ijin dulu baru masuk." ujar satpam karena yang menjaga ada tiga orang jadi gampang saja mereka menahan tangan Nadia.
"He kurang aja lepaskan aku, aku ini istri bos kalian awas ya akan saya pecat kalian bertiga berani menahan saya."
"Ha....istri bos.... he mbak jangan mimpi di siang bolong....eits salah ini sudah sore hehehe. Mbak.... bos kami itu sudah tidak punya istri dia sudah menceraikan istrinya delapan bulan lalu karena istrinya sudah lama pergi tanpa kabar"
"Deg.....apa tadi satpam ini bilang mas Iksan sudah ceraikan aku, tidak ini tidak mungkin aku tidak akan biarkan ini terjadi"
Dengan satu hentakan semua pengangan satpam itu lepas dan Nadia lari masuk kedalam. Pergi mencari Iksan.
"Mas Iksan........"
__ADS_1
"Deg....."
Iksan yang masih duduk termenung di kolam mendengar suara teriakan dari Nadia.