
Di tempat lain Nadia yang sekarang sering sakit-sakitan sedang bersiap untuk pergi ke rumah orang tuanya namun sebelum itu dia harus mampir dulu kesalon untuk dandan. Dia sudah menaruh harapan sepenuh kepada orang tuannya dia harap agar orang tuannya lah yang akan menolongnya. Padahal Nadia tidak tahu jika orang tuannya sudah pergi berlibur dan belum pulang mungkin dua minggu lagi atau kapan itu belum pasti.
"Lagi-lagi Nadia jika ingin tampil cantik harus kesalon dulu tidak masalah harga salon seratus ribu yang penting wajahnya bisa di make up, dari pada tidak di make up sama sekali terus kelihat pucat dan berantakan lebih baik memang harus keluarkan uang".
Dulu Nadia punya alat make up sendiri yang mahal-mahal harganya tapi sayang tidak ada satupun yang Nadia bawah jadi semua tertinggal sama Sinta. Nadia menyesal waktu dia kabur kenapa tidak langsung ke kontrakanya aja agar bisa mengambil barang-barangnya. Sekarang menyesal tidak ada gunanya.
"Sekarang sudah selesai mandi dan saatnya bersiap untuk pergi kesalon karen nanti kalau pulang dari salon Nadia rencana tidak kembali ke kontrakan dan langsung aja ke rumah orang tuanya , nanti kalau sudah tinggal disana baru lah datang ambil pakian yang jelek-jelek ini.
"Kira-kira ibu dan ayah dirumah gak ya atau aku ke perusahaan ayah aja ya, siapa tahu hanya ayah disana kalau ibu pasti di rumah karena ibu tidak punya bisnis apapun, jadi ibu mungkin dirumah kalau ketemu duluan dengan ibu pasti ibu cerewet nanti dan banyak pertanyaan malas kali ladenin kayak gini, ah tapi gapapa deh lebih baik kerumah ada dulu siapa tahu ayah juga di rumah."
Kamu gak tahu sih Nadia kalau ibu kamu itu sudah punya bisnia tanpa pengetahuan kamu setelah kamu menikah dengan Iksan disitu ibu Sari buka butik dan beberapa bisnis lainnya.
Setelah bersiap Dinda berangkat seperti biasa harus jalan kaki ke jalan raya depan dulu bari dapat taksi, namun pas di gang untuk mau keluar ke jalan besar tidak segaja Nadia melihat sebuah hp tergeletak di tanah, awalnya Nadia sangat lagu untuk menyulurkan tanggannya dan mengambil hp itu tapi Nadia kembali teringat soal dia juga tidak memiliki hp mau ngapa-ngapain sangat susa dan terbatas.
Akhirnya dengan takut-takut Nadia mengambil hp dan tersenyum.
__ADS_1
"Wah....hp bagus banget ini punya siapa yah kok bisa jatuh disini, ini hp mahal loh aku tahu harga hp ini berepa ah...bagus deh aku dapat hp sekarang tinggal beli kartu untuk pasang, memang Tuhan tahu saja kalau aku sekarang lagi butuh hp."
Nadia mengambil hp itu dan berlalu pergi ia buru-buru takutnya ada yang melihatnya nanti jadi masalah lagi kalau orang lain yang melihat tidak apa-apa tapi kalau pemilik hp yang kembali datang untuk mencari hpnya bisa jadi hpnya di ambil kembali olehnya.
Saat Nadia sampai di depan tidak lama kemudia taksi lewat dan berhenti tepat di depannya Nadia langsung masuk kedalam taksi dan berlalu pergi tujuannya saat ini adalah pergi ke salon yang beberapa waktu lalu ia datangi.
"Semoga sih mbak tidak punya banyak pelangan biar jangan rame disana rasanya risi banget berbaur dengan orang miskin yang tidak punya uang tapi pengen nyalon, kalau aku datang kesana bukan karena miskin tapi karena aku belum pulang kerumah jadi belum dapat uang"
Astaga Nadia kamu ya memang dasarnya sudah miskin sakit-sakitan lagi justru tidak mau mengakui kalau sudah miskin, kamu sekarang sudah tidak punya apa-apa bahkan tidak ada seorangpun dari keluarga yang mau peduli sama kamu tapi justru kamu berkata seperti itu somnong banget.
"Neng kenapa tidak pesan grap aja yang lebih murah dari teksi seperti ini, kalau pesan grapkan masih untung kalau nungguin taksi seperti ini bagus juga tapi harganya bedah."
"Tidak apa-apa pak hpku kebetulan lagi eror jadi sementara waktu naik taksi ini dulu kalau hp sudah jadi baru pesan ngojek arau grap aja."
Pak sopir hanya tersenyum mendengar penuturan Nadia saja, pak sopir yang kembali fokus dengan menyentir dan Nadia yang hanya diam saja karena sekarang ia merasa aman karena pak sopirnya tidak mengenalnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudia mobil taksi berbelok dan berhenti tepat di depan salon Nadia langsung membayar ongkosnya dan pak sopir langsung tancap gas berlalu pergi, sedangkan Nadia bersiap dan pergi masuk kedalam salon, mbak salon yang melihat kedatangan Nadia langsung tersenyum dan menghampiri Nadia.
"Eh...mbak Nana salamat datang ke salon kami mbak, sekarang mbak mau apa di make up atau apa" tanya mbak salon.
"Iya make up aja mbak seperti biasa ya mbak" ujar Nadia
"Siap mbak"
Mbak salon langsung melakukam tugasnya sebagai penjaga di salon itu, ia melakukan sesuai dengan permintaan Nadia yang pasti Nadia meminta make up yang harga murah sekedar make up aja gapapa jadi mbak salon sudah hafal begtul dengan permintaan dan keinginan Nadia.
Nadia yang di make up ia hanya diam saja tanpa banyak bicara karena ia pengen cepat selesai dan pergi dari tempat itu, karena Nadia sudah tidak sabar untuk ketemu dengan kedua orang tuannya, Nadia pengen jika dia sampai disana dia mau tidur di kamarnya lagi seperti dulu karena dia sangat merinduhkan kamarnya itu.
"Aku sudah sangat merinduhkan kamar aku yang dulu sebelum menikah dengan mas Iksan, mungkin sekarang masih tetap bersih dan rapih karena aku yakin ibu tidak akan membiarkan kamar anaknya jadi kotor. Dan berdebuh aku sangat tahu sifat ibu memang sih ibu sangat cerewet di bandingkan dengan ayah tapi ibu sangat menyayangiku dulu apapun yang aku minta pasti ibu berikat walaupun harus berantam dulu dengan ayah"
"Pasti mereka dimana sudah sangat merinduhkanku apalagi aku sudah lama tidak pulang, mas Iksan juga pasti tidak pernah ketemu dengan ayah dan ibu semenjak aku pergi karena pasti dia takutlah, kalau nanti ayah dan Ibu tanya aku dimana mas Iksan tidak tahu mau jawab apa, makanya dengan aku meminta tolong sama ibu dan ayah biar aku akan kembali dengan mas Iksan.
__ADS_1
Setelah hampir dua puluh menit make up akhirnya selesai juga walaupun sederhana tapi tidak masalah asal tampil cantik, dan kelihatan fres dan terawat padahal penyakitan tuh di Nadia kasian juga sih tapi itu perbuatannya.