
Setelah selesai menelpon pak Yanto Bu Icha kembali sibuk dengan pekerjaannya, sandangkan pak Yanto yang sudah menerima kabar dari bu Icha kalau sih Nadia datang ke rumah makin emosi jadi gak semangat berlibur moodnya langsung hilang.
Memang sih Nadia selalu bikin mood orang rusak orang tuanya lagi bersenang-senang justu bikin gak sangat.
Bisa-bisanya dia berkata begitu seolah dia tidak buat kesalahan dasar anak tak berguna, bukannya jujur saja pada tentangg justru nambah kebohong. Katanya baru pulang dari luar negeri padahal sudah lama pulang di negara ini, awas aja kalau nanti dia berani datang kerumah akan saya usir dari rumah. saya tidak sudi punya anak tidak punya adab seperti dia, lebih baik tidak punya anak dari pada punya anak tapi menyusahkan.
Siapa yang tidak punya hati dia atau kami yang tidak punya hati, masih berani pulang kerumah juga ya mau minta tolong sama siapa lagi kalau bukan kesini pasti mantan suaminya sudah seret dia keluar dari rumahnya pas dia datang kesana makanya dia tidak tahu kemana lagi ia harus mengaduh. Pada akhirnya dia yang memilih kembali ke rumah.
"Saya sudah menganggap kalau kamu iti sudah mati Nadia jadi saya tidak punya anak lagi di dunia ini jika memang kamu mau kembali ke rumah harus datang dengan suami dan anak kamu. Baru kamu bisa di terimah di rumah kalau gak biar kamu angkat kaki dan pergi menjauh."
"Kata bu Icha tadi kamu sangat kurus jangan-jangan kamu sudah dapat penyakit makanya kamu kurus. Kekecewaan saya dan istri saya sudah tidak bisa memaafkan kamu biarpun kamu memang anak kami tapi tanggung jawab kami sudah lepas setelah kamu menikah"
Memang sangat cocok Nadia nikah dengan Surya mereka berdua satu server sama-sama egois dan keras kepala, tidak perna merasa bersalah justru orang lain yang seharusnya jadi korban mala di tuduh kalau apa yang menimpah mereka berdua adalah ulah sih korban.
Pak Yanto masih duduk termenung di tempat duduknya ia memikirkan perkataan bu Icha tentang Nadia, tiba-tiba bu Sari datang menghampiri pak Yanto tapi karena pak Yanto melamun jadi tidak menyadari kalau bu Sari sudah berdiri di sampingnya.
Bu Sari yang memperhatikam suaminya yang lagi melamun kayak tidak semangat menjadi binggung dan langsung menyentuh bahu pak Yanto membuat pak Yanto terkejut.
"Astaga bu sejak kapan sih ibu disini bikin kanget aja bu, kalau papa jantungan bagaimana ibu sudah siap jadi janda... Kalau sudah siap tidak apa-apa papa mati aja biar ibu hidup sendiri mau"
"Papa jangan ngaur deh kalau ngomong siapa juga yang mau jadi janda jangan tinggalkan ibu ya pah, ibu tidak punya siapa-siapa lagi selain papa dan ibu juga belum siap jadi janda. Tapi kalau papa mau mati cepat bagaimana kalau kita sama-sama aja papa matinya biar tidam ada yang tinggal ."
Perkataan bu Sari membuat pak Yanto tersentu pak Yanto memeluk bu Sari dan mendaratkan kecupan di keningnya membuat bu Sari yang sudah tua tapi masih awat mudah merah merona pipinya. Merasa malu karena di perlakukan seperti masih anak muda, ihsss pah jangan gitu deh tuh dilihat orang tahu.
__ADS_1
Astaga sudah tua juga masih romantis so sweet banget hahah.....
"Kalau ibu tidak mau cepat jadi janda jangan ngagetin papa tadi hampir copot jantung papa tahu,"
"Hahaha maaf pah, lagian dari tadi ibu sudah berdiri disamping papa tapi papa justru bengong aja gak sadar kalau ibu ada, papa jujur sama ibu ada apa, kenapa papa termenung kayak tadi sepertinya ada yang papa pikirkan cerita sama ibu pah jangan sembunyikan apapun dari ibu."
"Bu ada yang mau papa ceritakan ke ibu tapi papa harap ibu tenang ya jangan emosi harus tahan emosi ibu karena papa gak mau ibu emosi nanti sakit lagi."
"Memangnya apa yang mau papa beritahu ke ibu pah, ini soal apa"? Tany bu Sari
" Ini soal sih anak durhaka itu bu" jawab pak Yanto
" Maksud papa Nadia? Kenapa lagi anak itu pah bukankah sampai sekarang dia masih jadi buronan kenapa polisi lama sekali sih menangkapnya."
"Apa....untuk apalagi pah anak kurang ajar itu datang kerumah mau biking kita makin hancur lagi, atau dia mau bikin kita malu sama para tetangga kita pah. Ibu tidak habis pikir dengan pikiran anak itu ibu menyesal dulu manjain dia" pekik bu Sari membuat pengunjung yang ada di pantai sebagian menoleh ke arah pak Yanto dan bu Sari.
"Ya ampun bu, sudah papa bilang tadi jangan emosi apalagi sampai teriak kayak tadi, lihat tuh banya pengunjung melihat kesini kayak kita lagi bertengkar aja."
"Memangnya papa tahu dari mana anak itu datang kerumah?" tanya bu Sari.
Dulu waktu bu Sari belum mengetahui perbuatan Nadia bu Sari selalu memaksa pak Yanto untuk membayar orang hanya untuk mencari Nadia, sampai bu Sari dan pak Yanto cekcok terus setiap hari karena desakan dari bu Sari dan mengatakan jika pak Yanto tidak becus jadi seorang ayah yang tidak peduli dengan putrinya yang hilang.
Gara-gara Nadia hampir sedikit pak Yanto menceraikan bu Sari karena bu Sari selalu membelah Nadia. Namun semenjak bu Sari tahu soal semua perbutan yang di lakukan oleh putri semata wayangnya, bu Sari nyerah dan tidak peduli lagi dengan kehidupan Nadia bahkan kebencian bu Sari melebihi kebencian pak Yanto kepada Nadia.
__ADS_1
Makanya pas pak Yanto memberitahu kalau Nadia datang kerumah bu Sari marah.
"Maaf bu tadi papa lancang mengangkat telpon dari bu Icha melalui hp ibu, jadi bu Icha yang menyapaikan hal itu kepada papa tadi."
Pak Yanto menceritakan semua dari awal pembicaraan dengan bu Icha sampai selesai, bu Sari yang mendengar penjelasan dari sang suami makin naik tensinya.
"Memang benar-benar anak iblis itu berani sekali dia berkata begitu. Untung ibu gak di rumah kalau tidak mungkin ibu sudah hajar mulut kotornya itu."
"Bu sabar papa sudah bilang tadikan sama ibu sebelum papa cerita ibu harua sabar dan tahan emosi, papa juga emosi tapi harus tahan jangan hari libur kita seharusnya kita senang-senang jadi hilang gara-gara anak itu."
Bu Sari mendengar perkataan suaminya ia menenangkan dirinya jangan sampai jantungnya kumat, apalagi baru selesai operasi jadi bu Sari juga tidak mau karena gara-gara anak itu dia masuk rumah sakit lagi.
Setelah selesai menenangkan diri barulah bu Sari bicara.
"Pah jadi kemana anak durhaka itu masih dirumah atau sudah kemana"?
"Kata bu Icha tadi sudah pergi karena dia minta kunci rumah ke bu Icha, tapi kata bu Icha gak ada kunci makanya dia marah"
"Anak tidak tahu diri sekali, bilang sama bu Icha kalau sekali lagi dia datang kesana usir saja pah, jangan biarkan dia dirumah kalau gak ibu datang ibu seret dia keluar dari rumah itu berani sekali dia datang kesana setelah apa yang sudah dia perbuat".
"Iya bu, papa sudah bilang kok sama bu Icha kalau nanti sekali lagi dia datang usir aja karena kita masih lama disini, bu dari tadi papa memikirkan seauatu bagaimana kalau kita jual aja rumah itu bu dan uangnya kita pakai untuk membelih rumah baru di tempat lain. Karena papa yakin biarpun kita usir anak itu dia akan tetap datang menganggu kita bu"
"Iya ibu setuju dengan ide papa tunggulah kita selesai libur dulu baru kita jual, karena kalau di jualpun belum tentu langsung laku cepat pah"
__ADS_1
Betul juga yang di katakan bu Sari jual rumah itu belum tentu secepatnya laku, bisa sampai berminggu-minggu bahkan berbulan juga bisa jadi.