
Kalau dibilang orang yang paling egois dan tidak tahu diri itu adalah Surya, entah sudah berapa banyak orang yang menasihatinya untuk beruba dan kembali ke jalan yang benar tapi semuanya sia-sia bahkan di buat orang itu jadi emosi.
Seperti yang dialami oleh Sinta, mbak Eva dan Jono temannya Surya, Surya sudah tidak punya otak lagi makanya pada saat orang menasihatinya masuk dari teliga kiri keluar lewat kanan jadi tidak tersimpan di otaknya.
Jono yang sering menasihatinya saja sampai emosi dengan jalan pikiran Surya entah apa yang nyangkut di otaknya.
Karena Jono sudah tidak tahu harus bicara dengan bahasa seperti apalagi biar Surya mengerti Akhirnya Jono malas ladeni Surya.
"Bro aku tidak mengerti dangan isi otak kepala kamu terbuat dari apa, sehingga kamu melupakan kejahatan yang sudah perna kamu lakukan. Kamu masuk kesini karena perbuatan kamu sendiri bukan kesalahan orang lain. Ingat!.. setiap manusia itu pasti memiliki masa lalu dan juga perna melakukan kesalahan tapi kita juga sendiri yang bisa memilih jalan untuk kembali bertobat atau melanjutkan dosa yang kita lakukan, aku pikir setelah kamu masuk kesini kamu bisa berubah tapi ternyata kamu selain egois, keras kepala juga. Ingat suatu saat kamu menyesal dan kamu mendapatkan hukuman lebih berat dari pada ini."
Setelah selesai Jono bicara ia langsung bangkit dari duduknya dan bergeser ke atas kasur tipis yang terbentang di lantai sebagai alas tidur mereka.
Joni langsung merebahkan tubuhnya dan tertidur Surya yang menyaksikan tingkah Jono hanya menatapnya tanpa berbicara.
Surya menatap kosong kedepan, gak tahu sudah berapa banyak yang memberikan nasihat dan saran untuk beruba tapi parcuma untuk Surya.
"Bukan kalian yang merasakan seperti apa yang aku rasakan saat ini jadi kalian seenaknya bicara begitu, kalau kalian di posisi aku pasti kalian juga melakukan hal yang sama, jadi jangan banyak bacot."
Sedangkan saat ini mbak Eva dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, tapi sepanjang jalan mbak Eva masih memikirkan perkataan Surya dan sikap egoisnya tidak pernah beruba justru dia makin menjadi.
"Ya, ampun Surya sebenarnya apa yang terjadi dengan mu sehingga sikap jahat kamu tidak kamu lepas tapi justru makin parah, mbak sampai tidak mengenal kamu sebagai adik mbak sendiri kayak orang lain gitu, ini adalah didikan ibu membuat Surya makin jahat, sekarang aku pasra dan hanya berharap sama Tuhan semoga Surya cepat sadar dan tidak melakukan hal tidak memalukan egoisnya gak ngilang"
__ADS_1
Mobil taksi yang mbak Eva tumpangi menbelah kesunyian jalan raya hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang mungkin karena sudah agak siang jadi jalan raya sudah sepih, akhirnya mobil taksi yang di tumpah mbak Eva berhenti tepat di depan loby rumah sakit jiwa..karena mbak Eva sudah tahu dimana kamar bu Ayu jadi tidak perlu tanya resepsionis tapi mbak Eva langsung saja masuk kedalam .
Mbak Eva dan Zila melalui koridor rumah sakit dan menuju ke tempat bu Ayu, setelah sampai di depan kamar bu Ayu, mbak Eva memperhatikan dari luar dulu sebelum menyuruh suster untuk membukakan pintu mbak Eva takut bu Ayu ngamuk nanti dan melukai dirinya dan Zila.
"Nak lihat tuh nenek kamu, dia lagi sakit didalam tapi kita tidak bisa masuk soalnya takut nenek ngamuk tunggu kita tanya dulu sama suster ya bisa masuk gak untuk jenguk nenek kamu"
Zila hanya melihat mbak Eva dan senyum.
Saat mbak Eva dan Zila asyik melihat bu Ayu yang duduk diam didalam ruangan dan membelakangi mereka tiba-tiba mereka di kagetkan dengan suara seorang suster yang bertanya mbak Eva mau ngapain berdiri didepan ruangan pasien dan siapa mbak Eva.
"Hallo...maaf boleh tahu mbak siapa ya, dan ngapain didepan ruangan pasien" tanya seorang suster dengan ramah.
"Oh maaf mbak saya pikir siapa yang hanya beridiri untuk sekedar melihat pasien saja makanya saya tanya" jawab suster.
"Sus, boleh saya tahu bagaimana perkembangam dengan penyakit ibu saya sus, apakah sudah ada perubahan atau makin tambah parah." tanya mbak Eva.
Mbak Eva bertanya tentang kondisi sang ibu kepada kedua suster karena mbak Eva rencana mau masuk kedalam.
"Sejauh ini, bu Ayu sudah banyak perubahan mbak, seperti tidak sering ngamuk lagi dan teriak-teriak, tapi bu Ayu, sering menangis dan selalu memanggil cucunya kami tidak tahu cucunya yang mana"
" Sus boleh saya masuk..kira-kira bahaya gak kalau saya masuk dengan anak saya karena ini cucunya juga siapa tahu saat kami masuk dia senang."
__ADS_1
"Boleh mbak sepertinya saat ini bu Ayu sangat tenang, kami berdua tunggu disini takutnya terjadi sesuatu."
Salah satu kedua suster itu membuka pintu ruangan bu Ayu dan mbak Eva masuk kedalam, berjalan mendekati bu Ayu namun bu Ayu belum menyadari kalau mbak Eva datang.
"Bu...apakabar? Eva dan Zila datang jenguk ibu nih." mbak Eva sambil mengelus pundak bu Ayu dengan lembut.
Bu Ayu membalikan badan dan melihat mbak Eva dan Zila tapi belum ada reaksi dia masih diam di tempat, hal itu membuat Zila takut dan memeluk mbak Eva dengan kuat.
"Bu...bagaimana kondisi ibu disini baikkan" mbak Eva kembali bertanya. Mbak Eva langsung memeluk bu Ayu tapi bu Ayu sama sekali tidak menghindar justru membiarkan mbak Eva memeluknya."
"Eva.....mana Surya kenapa kamu datang kesini tidak dengan Surya bukankah dia bersama kamu, istri dan anaknya bawah mereka kesini ibu mau lihat cucu ibu...ibu mau lihat cucu ibu jangan pergi meninggalkan aku"
Awalnya bu Ayu tenang bahkan dia masih mengenal mbak Eva tapi setelah dia sebut nama Surya dan cucunya mulai lah bu Ayu teriak sambil menangis, tapi tidak seperti waktu Sinta datang sampai mau jambak rambut Sinta kali ini bu Ayu menangis dan teriak tampa melakukan kekerasan.
Mbak Eva berusaha menenangkankan bu Ayu tapi makin menjadi, akhirnya terpaksa mbak Eva dan Zila keluar dari ruangan dan Suster langsung berikan obat penenang kepada bu Ayu agar bu Ayu kembali tenang.
"Maaf mbak seperti inilah kondisi bu Ayu....memang ada perubahan itu karena dia bisa mengenal siapa yang datang menjenguknya, tapi itu dia, saat dia sebut nama yang tadi itu emosinya selalu tidak terkendalikan dan kembali ngamuk tapi untung tadi dia gak ngamuk hanya teriak saja"
"Baiklah sus makasih ya sus sudah menjaga dan merawat ibu saya, memang sudah banyak perubahan yang saya lihat di diri ibu saya semoga semakin membaik dan setelah itu dia bisa pulang."
Mbak Eva hanya memandang sang ibu dari luar saja sudah tidak berani kembali masuk karena takut bu Ayu kembali histeris.
__ADS_1