
Karena sih mbak sudah terlanjur mengantar makanan dan kebetulan Sinta dan pak Yanto sudah lapar mereka langsung makan tanpa ada obralan, karena isi perur lebih penting.
Setelah selesai makan Sinta segerah bayar namun di cegah oleh pak Yanto.
"Nak biar saya aja yang bayar anggap aja saya traktir kamu makan karena sudah mau menemani dan bercerita dengan saya."
"Gak usah pak saya juga punya uang," Sinta benar-benar gak enak hati ini menolak namun pak Yanto juga mala bersih keras untuk membayar, akhirnya Sinta mengalah.
"Makasih pak" ucap Sinta tulus
Setelah selesai mereka bangun dan lantas kembali ke dalam rumah sakit namun tiba-tiba hp Sinta berdering.
Drrrt drrt!
Ternyata ada telpon dari mbak Eva yang menyuruh Sinta ke loby rumah sakit karena ada hal penting yang ingin mbak Eva tunjukan ke Sinta, akhirnya Sinta urunkan niat untuk masuk kedalam rumah sakit ia langsung berputar arah dan menuju ke loby karena kebetulan kantin gak jauh dari loby utama rumah sakit, sedangkan pak Yang sendiri sudah duluan masuk.
"Pak maaf saya kedepan sebentar karena ada datang mbak saya, jadi bapak duluan aja."
"Iya gapapa nak."
__ADS_1
Jadi tadi pas mbak Eva sampai di loby utama rumah sakit ia melihat ada beberapa pengunjung di rumah sakit melihat karangan bunga kiriman dari sesorang karena tampa nama, awalnya mbak Eva gak tertarik untuk melihat itu namun, mbak eva mendengar ada pembicaraan dua orang dokter yang baru saja turun dari mobil dan ingin masuk.
"Loh dokter bukankah ini nama pasien yang dokter tangani sekarang memangnya sudah meninggal"?
"Ah iya, tapi gak lah orang pasiennya baik-baik aja hanya sedikit depresi ringan aja sebentar juga sembuh asal mnum obat rutin."
"Terus kenapa orang setega ini mengurin karangan bunga ke pasien anda dokter, sepertinya pasien anda memiliki musuh jadi musuhnya tahu kalau pasien anda lagi sakit makanya ia sengaja kirim bunga."
"Entahlah tapi bisa jadi seperti itu, namun keterlaluan juga orang itu dok, sampai sebenci ini sama pasien saya, tapi memang sekarang pasien saya bermasalah makanya di depan kamar selalu di jaga ketat, ah udah gak usah pusing yang penting pasien saya masih sehat."
Kedua dokter itu berlalu pergi, sedangkan mbak Eva di penuhi dengan rasa penasaran akhirnya dengan sekilas ia melirik karang bunga itu, namun betapa terkejutnya mbak Eva melihat karang bunga itu untuk siapa " Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya Nadia Evellin" biji mata mbak Eva membulat sempurna nyaris keluar dari matanya sambil menutup mulutnya.
Bukan hanya mbak Eva yang terkejut tapi mas bram juga gak kalah terkejut melihat karangan bunga itu. Namun tiba-tiba Sinta muncul namun ia belum tahu, kenapa mbak Eva gak langsung masuk aja mala menyuruhnya keluar.
"Mbak, mas yuk masuk ngapain kalin berdiri Mengganga disitu. Mala lihat karangan bunga orang lagi hayo nanti mbak Nadia keburu bangun" Sinta main nyerocos aja bukannya perhatikan mimik muka kedua orang tersebut ini mala ngoce aja.
"Sin kamu gak usa deh ngoce gak jelas disitu coba sini kamu lihat ini," sebenarnya Sinta malas keluar karena agak sedikit panas, namun terpaksa ia ikut aja karena penasaran juga, apa yang membuat mbak dan kak iparnya berdiri disitu.
Sinta gegas mendekati mbak Eva dan mas Bram, betapa syoknya ia melihat karang bunga itu sangking kangetnya Sinta teriak kencang.
__ADS_1
"Apa...Turut berduka cita? Astaga siapa yang tega mbak berani mengirim bunga ini, padahal mbak Nadia masih hidup loh kok bisa-bisanya ya, sepertinya siapapun dia ia menginginkan kematian mbak Nadia, tapi siapa ya mbak, apa masih ada musuh mbak Nadia selain mbak Cessie? tapi Sinta sama sekali gak percaya kalau ini ula mbak Cessie, sepertinya mbak Nadia punya masalah dengan orang ini, dari karang bunga ini mbak kita bisa ambil kesimpulan kalau ini suatu peringatan atau ancaman untuk mbak Nadia jangan macam-macam atau kalau gak nyawanya bisa melayang."
"Iya Sin, mas juga sependapat dengan kamu" ujar mas Bram.
"Iya saya juga sependapat, tapi sepertinya orang ini bukan orang sembarangan, masih sekelas Cessie, bisa jadi orang dari masa lalu Nadia ini baru muncul kita lihat ajalah nanti kedepannya bagaimana, Sin kamu foto dulu karang bungan ini dan simpan di hp kamu, yuk kita masuk."
Akhirnya mereka masuk kedalam rumah sakit melalui koridor, namun sepanjang perjalanana, pikiran Sinta tak menentu kenapa bisa ada karangan bunga itu, kalau bukan dari Cessie terus dari siapa.
Tak lama mereka sampai didepan ruang rawat inap Nadia, meraka langsung masuk kedalam ruangan ternyata Nadia sudah bagun tapi kali ini ia begitu tenang. Sinta datang mendekatinya" mbak sudah bangun," tanya Sinta namun bukannya menjawab Nadia hanya menatap Sinta dengan bulir bening lolos begitu saja.
Sinta gak lanjut lagi pertanyaannya karena melihat Nadia hanya menangis, mbak Eva lengkah mendekati Nadia dan menyentuh bahunya, dengan lembut mbak Eva bertanya." Nad gimana kondisi kamu, dan kenapa kamu menangis kamu harus menerima semua ini dengan iklas Nad, segala sesuatu yang terjadi karena atas seijin Tuhan"
"Mbak tahu kamu memang berat dalam mengiklaskan sesutu yang sangat berharga, tapi kamu juga harus tahu bahwa apa yang kita tanam itu yang kita tuai juga, mungkin dengan ini, coba kamu pikirkan kembali apa yang sudah perna kamu perbuat. Kalau ada kamu secepatnya minta ampunlah Sama Tuhan."
Nadia bergeming gak ada apapun yang keluar dari mulutnya ia hanya menunduk kebawah dan air mata mengalir begitu, saja. Namun tak selang lama Nadia langsung menghapus air matanya dan tersenyum kepada Sinta dan yang lainnya.
"Hmmm untuk apa aku harus menangis yang sudah terjadi, memang aku sudah gak bisa hamil lagi, dan sudah keguguran jadi selamanya aku sudah gak bisa hamil lagi. Tapikan masih ada anak ku sama mas Iksan jadi gapapa dong untuk apa saya sedih bod**h ah, kenapa dari kemarin gak ku pikirkan ya, dan bukannya kalau seperti ini aku bebas ya tinggalkan mas Surya dan kembali dengan mas Iksan." gumam Nadia dalam hati
Ya Allah Nadia rupanya dengan kehilangan rahim dan anak kamu, kirain kamu bertoubat tapi ternyata gak ada toubat kamu sama sekali, mala makin menjadi-jadi, benar apa kata Iksan tempatmu di neraka.
__ADS_1