Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo

Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo
143 Mimpi Buruk Nadia


__ADS_3

Nadia masih dalam ketakutan, karena mungkin teriakan Nadia itu, membuat penghuni Hutan pada keluar, setelah Nadia diam tiba-tiba Nadia mendengar suara tangisan hiks....hiks...hiks.. dari arah belakang pohon dimana Nadia sekarang berada. Membuat Nadia makin merapatkan tubuhnya ke pohon namum parcuma mau Nadia sembuyi di lubang manapun kalau masih di hutan tetap saja itu tempat makluk halus berada.


Dalam ketakutan tiba-tiba seperti ada suara tepat di telingan Nadia" nak mau apa kamu kesini, kamu mau ikut sama nenek yuk ikut aja sama nenek karena kamu disini hanya menderita manusia gak ada yang peduli sama kamu"...ada teputkan tangan tepat di bahu Nadia dan juga bersamaan dengan bauh kembang melatih dan darah segar seperti orang mati menyeruak di hidung Nadia.


"Agrh......" teriak Nadia seketikan akhirnya dia kembali pingsan sangking takutnya dia


Namun dalam pingsannya Nadia dalam alam bawah sadar dia seperti ketemu dengan orang tuanyanya yaitu pak Yanto dan bu Sari, Nadia berteriak meminta tolong dan berusaha untuk mengapai kedua tangan sang mama tapi sayangnya tiba-tiba tanah yang mereka pijakin terbelah menjadi dua dan di tegah-tegah ada jurang pemisah antara Nadia dan orang tuannya, ia meminta tolong tapi baik sang ayah maupun sang ibu gak ada satu pun yang berusaha menolongnya karena jarak antara mereka sudah gak bisa di lewati.


Nadia yang melihat jarak pemisah antara mereka ia lantas berteriak...histeris seperti kerasukan tapi semua sudah terlambut itu artinya alam sudah gak mengijinkan mereka bertemu, apakah ini tanda bahwa Nadia sudah gak di harapkan lagi dalam kehidupan orang tuanya, walaupaun dalam mimpi Nadia bu Sari berderai air mata tapi untuk mengulurkan tangan dan menolong Nadia bu Sari gak bisa melakukan itu.


"Mah, pah tolong Nadia jangan pergi tinggalkan Nadia sendirian disini Nadia takut pah, mah. Tolong Nadia."


Namun permintaan Nadia sama sekali gak di gubris oleh orang tuanya.


"Itu adalah jalan yang kamu pilih, jadi kamu sendiri yang akan bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan kami sebagai orang tua sudah gak bisa lagi untuk menolong kamu. Silakan kamu pergilah dan jangan pernah kembali" ujar bu Sari


"Tidak....mah, pah jangan tinggalkan Nadia....."


Nadia sadar dari pingsannya dengan keringat dingin membasahi wajah dan tubuhnya nafasnya memburu. pada saat Nadia sadar ia mendengar suara kendaraan lalu lalang dan ternyata sudah jam enam.

__ADS_1


Sedangkan di kantor pengadilan Cessie dan semua keluarganya sudah masuk kedalam ruang sidang, Namun Surya belum masuk, tak lama mobil yang di tumpangi keluarga dari Surya juga tiba di pengadilan, mas Bram memarkirkan mobilnya dan mereka bergegas keluar. Baru saja keluar bu Ayu berteriak.


"He Eva....ngapain kamu bawah mama kesini bukannya kamu bilang kita jemput Surya...Surya kan gak disini bawah mama pulang cepat .Yuk masuk kedalam mobil kita harus jemput Surya karena dia lagi bertugas di kantor polisi". Sentak bu Ayu padahal baru juga sampai


Mbak Eva hampir sedikit emosi kalau gak di kantor pengadilan, Sinta berusaha menenangkan bu Ayu dengan cara membujuk."Mah, mendingan mama diam agar mama bisa diijinkan masuk oleh orang-orang itu, tapi kalau mama ribut, nanti orang itu akan menahan mama diluar dan gak jadi ketemu dengan mas Surya, kita tunggu di dalam ya mah. Sebentar lagi mas Surya datang.


Untung bujukan Sinta berhasil membuat bu Ayu luluh dan diam seketika akhirnya mereka masuk kedalam gedung, tapi hati mbak Eva mala gak tenang was was karena mbak Eva sangat tahu watak mamanyan, jangan sampai didalam sang mama melihat Cessie dan keluarganya terus ngamuk.


Dan ternyata benar kekuatiran mbak Eva terjawab. Pada saat mereka melangkah masuk, tak sengaja bu Ayu melihat bu Intan ada duduk di sebelah kiri disamping suaminya pak Arya, karena Sinta fokus melihat kedepan ia gak sadar kalau sang mama berjalan mendekati bu intan dan langsung menjambak rambut bu Intan.


"He perempuan sinting kamu kenapa ada disini, pulang sana kerumahmu menganggu aja, saya datang kesini karena mau jemput anak saya yang jadi polisi disini, lah terus kamu ngapain." mulut bu Ayu nyerocos aja gitu tanpa ada rem dan juga tangannya masih di rambut bu Intan, namun bu Intan gak marah, mala ia menatap bu Ayu dengan tatapan kasian, karena bu Intan bisa melihat kalau ternyata bu Ayu memang sudah gak waras.


Dengan lembut bu Intan berkata" jeng Ayu... kenapa jeng Ayu kasar sama saya, kita ini teman loh, jeng Ayu salah orang, mendingan jeng Ayu duduk tenang ya dan tunggu anak jeng datang, jangan ribut disini nanti kita bisa di usir sama orang itu."


Mungkin karena setiap hari bu Ayu sendirian dirumah karena Sinta harus kerja jadi gak ada teman ngobrol. Itu juga yang membuat bu Ayu makin depresi karena memikirkan Surya juga yang tak kunjung pulang.


Setelah bu Ayu duduk dan mereka kembali diam tak lama pintu ruang sidang terbuka dan masuk lah Surya dengan tangan masih di borgol, melihat itu bu Ayu kambuh lagi ia dengan lantang meneriaki petugas yang menbawa Surya.


"He...kurang ajar kalian kenapa kalian ikat tangan anak saya lepaskan, anak saya disini polisi kenapa kalian ikat dia mau cari mati. Surya Nak yuk ikut mama pulang ngapain kamu disitu mama kesini datang jemput kamu pulang."

__ADS_1


Karena bu Ayu teriak jadi sangat menganggu suasana sidang didalam ruangan, akhirnya petugas yang ada disitu berdiri menjaga bu Ayu karena dia gak mau keluar pada hal sudah di paksa, Kali ini bukan Sinta lagi yang membujuk tapi mas Bram kalau mbak Eva jangan ditanya lagi seperti apa wajahnya sudah merah menahan malu dan juga menahan emosi.


"Mah, bukannya tadi mama bilang kalau anak mama jadi polisi? Kalau orang yang jadi polisi itu harus ada yang namanya latihan mah, jadi kalau latihan itu harus ikat tangan dan duduk di depan, mama diam ya jangan ribut nanti kita di usir sama orang itu."


"Oh jadi anak saya lagi latihan Ya, ok deh kalau begitu saya diam nanti setelah selesai mama mau bawah pulang Surya dia jangan tinggal disini."


Setelah bu Ayu tenang sidang sudah mulai seorang petugas datang menghampiri Bram dan bertanya tentang kondisi bu Ayu."Pak maaf boleh saya tahu ibunya kenapa ya. Saya lihat kok kayak depresinya sudah parah kenapa gak bawah ke rumah sakit aja pak biar bisa diatasi karena kalau dibiarkan terus takut makin parah."


"Iya makasi pak, tapi memang mertua saya depresi berat setelah tahu anaknya itu di tangkap oleh polisi, dan calon mantunya keguguran sampai rahimnya di angkat, mulai dari situlah bu mertua depresi pak. Maaf kalau ia membuag keributan."


"Saran saya aja mendingan pak bawah aja mertua bapak ke rumah sakit biar cepat di tanganin. Sebelum makin parah, kalau sekarang sudah lumayan parah sih hanya saja masih bisa di kontrol dan apa yang kita katakan masih mau didengarnya itu tandanya. Masih ada peluang besar untuk cepat sembuh."


"Baik pak makasih untuk sarannya pak."


Sidang hari ini gak berjalan mulus karena Surya masih bersih keras untuk meminta Cessie agar mencabut tuntunnya, ia sampai bersujud di kaki Cessie dan memohon agar Cessie mau mendengarnya dan memiliki belas kasihan atasnya. Ia juga mengatakan


kalau ia mau tetap bersama dengan Cessie


*****

__ADS_1


Hallo para penbaca setia....jangan lupa dukungan karya ini ya, dengan like dan komen bisa membantu karya ini.


Dan maaf mungkin di bab ini agak sedikit horor tapi gapapa kan ya, hahaha.


__ADS_2