
Saya minta sekarang juga anda keluar dari sini sebelum emosi saya makin tak bisa saya kendalikan anda bisa mati, dan satu lagi jangan anda berpikir kalau saya akan datang dan memohon sama kamu, karena untuk balikan sama laki-laki serahka dan brangset seperti kamu itu sangat mustahil, untuk saya harus bertahan dengan laki-laki penghianat dan pengecut seperti anda."
"Jadi anda jangan percaya diri sekali, kalau saya masih mencintai anda, karena manusia pengecut seperti anda tak patut di cinta. Tapi patut di hukum agar kedepannya gak berlaku semena-mena terhadap perempuan, oh ya saya titip salam ya buat manta mertua yang paling baik sedunia, sampaikan salam saya untuknya bawah salam menikmati penderitaan"
Selamat menikmani masa penderitaan kamu dan tolong sampaikan rasa terimah kasih saya ke gundik kamu itu, karena gara-gara dia saya tahu siapa kamu.
"Saya gak nyangka, pak surya memiliki perilaku yang sangat buruk".
"Aduh....laki-laki sangat menjijikan, gak tahu bersyukur ya, sudah punya istri, sudah di kasih juga pekerjaan yang bagus di perusahaan ini, mala jad penghianat."
"Muak lihat muka laki-laki seperti ini seandainya saya di posisi bu cessie sudah saya seret dia keluar, malas lihat muka munafik.
"Laki-laki modal burung aja, balagu punya istri dua"
Surya yang mendegar setiap kata-kata menjijikan keluar dari mulut setiap karyawan, gak bisa angkat kepalanya, benar-benar malunya itu.
Sebenarnya surya masih mau berusaha di dalam ruangan untuk memohon sama cessie dan pak arya agar memaafkannya, namun kondisi tak memungkinkan.
__ADS_1
Akhirnya surya berusaha bangun dari lantai dan dengan langkah berat kepala tertunduk, ia menyeret kaki berat keluar dari ruangan itu, karena pikirnya parcuma kalau ia tetap di dalam yang ada hanya dengar cemoon dari para staff lainnya. Dan makin menghina dirinya
Jadi jalan satu-satunya saat ini ia pergi aja dulu nanti setelah ini baru pergi ke rumah cessie, dan minta balikan sama cessie terus minta kembalikan ke jabatan semula.
Dengan berat surya masuk ke ruangannya ia memandang setiap sudut ruangan itu dan sebenarnya berat ia keluar dari ruangan itu.surya membereskan semua barang-barangnya dan keluar dari perusahasn dengan muka kusut dan langkah gontai.
"Sial ini semua gara-gara hasutan mama juga yang selalu merendakan cessie dan menuntut saya agar cepat punya anak, jadi nyesal, ternyat benar kata mbak eva, jangan sampai aku menyesal"
Surya sengaja mencari nadia namun, ternyata nadia sudah pulang ia gak mau lama-lama di situ, dan akan panas kuping mendengar cacian yang terlontar dari mulut para staff," kok aku baru tahu yah kalau cessie putry dari pemilik perusahaan"
" Kenapa selama ini aku gak cari tahu ya tentang seluk berluk cessie, aku bod**h si lebir percaya omongan cessie, selama ini saya gak tahu kalau cessie anak orang kaya , tahu begitu aku gak akan menghianatinya, gapapa gak punya anak yang penting kaya."
"Aku harus cepat pulang ke kontrakan, untuk minta maaf sama nadia karena tadi pasti ia tersakiti dengan perkataanku, aku gak boleh kehilangan nadia dan anak ku karena dari nadia aku bisa mendapatkan anak,"
"Tapi aku juga gak mau kehilangan cessie, karena dari cessie aku bisa disanjung dan dihormati aku akan jadi kaya raya. Pokoknya jangan sampai aku cerai dengan cessie, aku gak akan tinggal diam."
"Oh iya aku baru ingat kenapa tadi pagi pas aku datang kerumah cessie gak ada, ternyata cessie sudah jalan ke kantor. Gapapa sekarang aku di pecat biar aku istirahat setelah ini pasti cessie akan hubungi dan meminta aku kembali bekerja, Humm bahagia kali lah."
__ADS_1
surya sekarang berperang dengan pikirannya sendiri, saya gak tahu lagi deh pikiran surya ini terbuat dari apa sehingga surya selalu berpikir kalau cessie gak akan meninggalkannya.
Sedangkan sekarang nadia juga dalam perjalanan kembali ke kontrakannya, sebenarnya nadia gak masalah kalau ia di pecat toh nadia juga rencana mau resigh, jadi nadia masih santai apa lagi selama ini uang yang di berikan surya masih tersimpan rapi di atm beserta dengan gaji nadia selama ini.
Jadi pikir nadia masih tebal tabungannya, pada saat ia pergi meninggalkan surya juga, nadia masih hidup enak dengan anaknya, dan setelah melahirkan baru nadia menitipkan anaknya ke orang tua kalau gak ke panti asuhan, dan ia berencana kembali ke mantan suaminya.
"Ah tak masalah saya di pecat toh, saya juga rencana mau resign, tabungan saya masih sangat tebal hampi dua Miliar lebih ini sanggup untuk bertahan sampai saya lahirkan dan setelah itu saya akan kembali ke dira dan mas iksan, sudah hampir dia tahun aku tinggalkan mereka dimana dira sudah besar, jadi rindu sama mereka."
Tak lama mobil taksi nadia sampai di depan kontrakan, setelah sampai di halaman nadia turun dan keluar dari taksi terus masuk kedalam kontrakan sekarang sudah pukul sebelas, pas nadia masuk ia di buat terkejut ternyata dalam rumah masih berantakan belum di bereskan, sedangkan sinta dan bu ayu lagi duduk nyantai sambil nonton.
Melihat itu nadia naik pitan, sambil berteriak" hey manusia gak berguna enak sekali kalian duduk nonton tapi kontrakan jorok sekali, cepat bersihkan"
Karena bu ayu dan sinta asyik nonton dan tak menyadari nadia datang akhirnya mereka berdua tergeloncat kaget. "Ya ampun mbak bikin kaget aja deh, bisa gak kalau bicara itu pelan sedikit, lagian tumben jam segini mbak sudah pulang kerja"?
"Itu bukan urusan kamu, sekarsng saya minta kamu beresin ini semua dan pel, saya gqk mau tahu awas kalau saya keluar kamar ini belum bersih, tunggu aja sebentar juga mas kamu pulang, saya mau lihat mas kamu cerita apa sama kalian."
Senyum jahat muncul di wajah nadia ia menyerigai licik, karena ini kesempatan emas untuk nadia membalas semuanya sebelum ia pergi, apa lagi surya sudah di pecat, otomatis sudah gak punya penghasilan, sedangkan dari perusahaan gak dapat apa-apa.
__ADS_1
"Hari ini aku sangat bahagia sekali surya di permalukan seperti itu kayak sudah gak punya harga diri, memang sih aku sedikit malu juga dengar semua karyawan yang mencemoo dan menghina aku, tapi gapapa biar itu bagian dari pengorbanan aku untuk kk Ady."
Tenyata nadia denga surya sifat mereka sama percaya diri mereka itu tinggi.