Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo

Mantan Istriku Ternyata Seorang Ceo
108 Nadia Tak bisa Menerima


__ADS_3

Sinta sampai di kantin, ia langsung mesan minuman terlebih dahulu, sebelum makan karena memang sudah sangat lapar.


"Mbak air mineral satu ya," ujar


Setelah Sinta selesai minum barulah sedikit mendapatkan kekuatan, ia langsung pesan makan, untuk makan di ruangan aja takutnya kalau makan di kantin kelamaan, keburu Nadia bagun lagi.


Setelah selesai pesan makanan Sinta bergegas kembali melalui koridor rumah sakit, dan baru sampai di depan ruangan Nadia, namun samar-samar ia mendengar teriakan dari dalam, Sinta panik gegas Sinta langsung masuk kedalam ternyata Sinta sudah mendapati Nadia bagun dari tidurnya.


Nadia memanggil Sinta tapi karena gak kunjung ada jawaban makanya, Nadia sedikit mengeraskan suaranya, karena ia berpikir kalau Sinta pasti ada di luar.


Sinta yang melihat Nadia sudah bagun, Sinta urunkan makannya, ia langsung menghampiri Nadia, sembari bertanya" mbak sudah bangun di mana kondisinya mbak sudah enakan"?


" Iya Sin sudah enakan, makasih ya kamu sudah maun menjagaku," ujar Nadia dan seketika ia teringat dengan pendarahan kemarin reflek tangan Nadia mengelus perutnya, tapi kok rata banget bukannya agak sedikit membuncit ya, dan juga karena


Tadi agak sedikit bergerak jadi sakit perutnya.


Nadia langsung menatap Sinta dengan tatapan tajam" Sin kenapa perut aku sakit sekali terus kenapa perut aku rata Sinta....Sinta jangan kamu bilang kalau aku keguguran, jawab kenapa kamu diam Sinta." ujar Nadia sambil teriak histeris pada hal Sinta belum membuka mulut, tapi firasat Nadia sudah gak enak.


"Sinta...kenapa diam aja kenapa perutku sakit?"


"Argh......sakit. Sin.."ujar Nadia menahan sakit di perut


Karena Sinta panik ia lantas mau mencet bel yang ada di tempat tidur Nadia, tapi belum sempat Sinta memencet, tangan Nadia sudah mencengkram lengan Sinta dengan agak sedikit kuat membuat Sinta meringis kesakitan.


"Auhhhhh...mbak lepasin sakit tahu." ngaduh Sinta namun bukannya lepasin Nadian mala makin kuat cengkramnya.

__ADS_1


"Sekarang kamu jawab aku, kenapa perutku sakit dan rata begini apa yang terjadi?"


Sinta masih bergeming. Ia masih memikirkan resiko. Setelah Sinta diam sejenaknya ia berpikir gapapa mendingan ia kasih tahu aja sekarang dari pada nanti baru kasih tahu juga sama saja.


"Ok mbak sekarang Sinta akan ceritakan semua ke mbak tapi tolong lepaskan tangan Sinta dulu, terus Sinta harap mbak tenang ya jangan emosi". Karena bujukan dari Sinta akhirnya Nadia lepaskan tangan Sinta.


"Sekarang kamu ceritaka ke aku, apa yang terjadi jangan menyembunyikan apapun dariku."


"Ok saya akan cerita, jadi begini mbak, sebenarnya karena benturan keras itu jadi membuat kandungan ...mbak itu sudah....sudah....Sinta jedah perkataannya.


"Sudah apa Sinta.."


"Sebenarnya mbak itu, sudah keguguran mbak.."


"Apa.....Tidak.........jangan bercanda kamu Sinta. Gak lucu tahu gak...?" Nadia langsung teriak pas mendengar kalau ia sudah keguguran Nadia benar-bebar gak terimah hal itu membuatnya histeris sambil ia mengelus perutnya.


"Nak...kenapa kamu tinggalin mama sayang...kenapa..padahal mama sangat mengharapkan kamu lahir kedunia ini, tapi kenapa kamu lakukan ini kemama nak, kamu tahu gak mama sangat sayanh sama kamu"


Nadia benar-benar menangis meratapi nasibnya, yang kehilangan anaknya padahal belum juga mendengar kalau rahimnya sudah gak ada, jadi gak bisa hamil untuk selamanya.


Karena Sinta sangat prihatin melihat kondisi Nadia sontak Sinta memeluk Nadia sembari berkata" mbak Sinta harap mbak Tenang dulu jangan sedih karena masih ada hal lain yang lebih penting lagi dari pada ini. Yang mau Sinta sampaikan ke mbak, kalau Mbak sedih begini bagaimana Sinta mau sampaikan hal yang lebih menyakitkan ini, tapi tolong mbak harus kuat mungkin ini sudah rencana Tuhan mbak."


Nadia yang mendengar penuturan Sinta awalnya ia menangis terseduh-seduh langsung mendongkakan wajahnya dan menatap Sinta, hanya mendengar ia keguguran aja sudah seperti orang gila apa lagi mendengar yang satu ini lagi, seperti apa reaksi Nadia nanti, saya gak bisa membayangkan. Bisa jadi langsung masuk Rumah sakit jiwa hahaha....semoga gak ya


Tapi apa ia, Nadia akan menerimah kondisinya saat ini, kalau nanti Sinta sudah memberitahunya, apapun yang terjadi yang penting Sinta sampaikan aja ke Nadia, Sinta sudah bertekab untuk memberitahu nadia.

__ADS_1


Nadia memandang Sinta sembari bertanya apa yang mau Sinta sampaikan ya gapapa sampaikan aja sekarang" apa yang mau kamu sampaikan Sinta, sampaikan aja sekarang jangan membuat Saya penasaran Sinta kamu gak lihat kondisi saya bagaimana".


Nadia menuntut Sinta untuk segerah beritahunya, akhinya mau tak mau Sinta berkata jujur sama Nadia.


"Mbak, sebenarnya....sebenarnya...mbak bukan cuman keguguran mbak, tapi... mbak juga..".Sinta kembali menjedah perkataannya membuat Nadia mulai emosi lagi.


"Apa Sinta.... "teriakan Nadia membuat Sinta kanget


" hmmm kata dokter kalau mbak Nadia gak bakal hamil lagi selamanya"


Nadia terkejut bukan kepalang," ma maksud kamu apa Sinta, sa saya gak bisa hamil lagi bagaimana" tanya Nadia dengan suara sedikit meninggi.


"Iya soalnya karena benturan keras mengenai perut mbak jadi terpaksa rahim mbak di angkat, jadi mbak gak akan punya anak lagi."


Nadia yang mendengar langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, bulir bening lolos keluar begitu saja, namun Nadia belum bersuara tapi seluruh tubuh Nadia gemetaran hebat, Sinta yang melihat itu ia mendekat mau peluk Nadia namun tiba-tiba Nadia berteriak kencang sambil menarik rambutnya.


"Tidak.....Argh.... Ini gak benarkan Sinta...katakan padaku Sinta kalau kamu bercanda...aku gak percaya, aku masih bisa hamil dan punya anak hihihihi......iya aku masih bisa hamil..gagapa aku keguguran karena setelah ini aku hamil lagi hahaha,


Nadia kali ini benar-benar menyedihkan sekali kondisinya, rambutnya acak-acakan karena ia sampai menarik rambutnya sendiri, tiba-tiba ia menangis dan tiba-tiba ia tertawa. Sama parsis kayak orang stres.


Sinta ya melihat kondisi Nadia yang memprihatingkan, Sinta langsung memangil dokter karena Nadia mulai memberontak ingin sekali cabut selang infusnya, setelah Sinta memencet bel tak lama dokter dan suster datang.


Dokter langsung mendekati Nadia dan hendak memeriksanya, namun tak di sangka Nadia dengan secepat kilat menarik tangan dokter dengan kasar sembari berkata.


"Kurang ajar kamu berani sekali kamu nengangkat rahimku, padahal rahim ku baik-baik saja, sekarang kamu yang tanggung jawab, gara-gara kamu saya gak bisa hamil, kamu sengaja ha."

__ADS_1


Sinta dan suster jadi panik, tapi berbeda dengan dokter hanya senyum memandang Nadia sembari berkata dengan lembut" bu Nadia tenang dulu ya karena bu Nadia masih sakit, nanti saya akan jelaskan semuanya asal bu Nadia tenang dulu dan istirahatlah,"


Dokter menyuntik Nadia obat penenang akhirnya ia tenang tapi air matanya terus mengalir dalam diam.


__ADS_2