
Setelah satu jam mereka miting akhirnya mereka mengakhiri tapi gak ada satupun yang bisa mendapatkan ide untuk kemajuan perusahaan, akhirnya pak Yanto hanya pasra, memang awalnya pak Yanto mau minta tolong sama mantan menantunya itu, tapi gak enak hati, apa lagi sekarang Nadia sudah gak tahu kemana, jadi pak Yanto memutuskan untuk gak meminta bantun dari Iksan. Karena pak Yanto merasa Iksan gak ada tanggung jawab lagi terhadap Nadia. Apalagi Nadia yang memilih pergi jadi pak Yanto gak mau membebaninya.
Tapi biarpun pak Yanto minta bantuam Iksan belum tentu juga Iksan mau bantu secarahkan Iksan juga menginginkan kehancuran perusahaan keluarga Nadia terjadi, karena dengan cara seperti itulah Iksan bisa membalaskan rasa sakitnya terhadap Nadia.
Pak Yanto pulang ke rumah dengan perasaan yang kacau, ia memikirkan perusahaan yang sudah ia susa paya merintis dari nol di ambang kehancurkan, dan yang paling membuat pak Yanto sakit hati, yang menyebabkan kehancuram itu terjadi anaknya sendirk, hanya dalam sekejap mata, membuat pak Yanto marah,sedih semua campur jadi satu.
Tak lama mobil pak Yanto berbelok masuk kedalam pekarangan rumah yang begitu luas, dengan langkah gontai pak Yanto menyeret kakinya dengan berat masuk kedalam rumah. Ternyata bu Sari sudah duduk di ruang keluarga, yang sedang asyik main hp.
Pas melihat suaminya masuk bu Sari langsung bangun dan menyambut sang suami," eh papa udah pulang dari mana pah? Mama bangun papa gak ada dan kata bibik papa keluar sebentar kemana, papa ke perusahaan tadi"?
Pak Yanto belum membalas setiap pertanyaan istrinya karena ia masih syok, pak Yanto langsung membuang diri di atas sofa disamping sang istri. Dan menarik nafas dengan berat ia gak tegah menyampaikan hal buruk ini ke sang istri karena pal Yanto tahu kondisi istrinya nanti pasti istrinya kaget.
"Pah, papa kenapa kok kayak banyak pikiran, ada masalah apa pah? Bicara sama mama siapa tahu ada solusi papa jangan pend sendiri pah, mama ini istrinya papa kan? Jadi ceritalah mama pasti dengar". Ujar bu Sari yang melihat suaminya gusar memikirkan sesuatu, yang menurutnya sangat berat karena baru kali ini bu Sari melihat suaminya begitu.
"Mah, gimana dengan kondisi mama sudah membaik belum"? tanya pak Yanto memastikan kondisi istrinya sebelum ia menyampaikan berita buruk itu. Takutnya istrinya mala kenapa-kenapa lagi.
__ADS_1
"Mama baik-baik aja pah, sudah mendingan kok memangnya kenapa pah? Papa kan sudah lihat sendiri mama baik-baik saja, ini semua karena berkat papa yang setia menani mama di rumah sakit, makasih ya pah dan maaf mungkin mama permah egois sama papa"?
Pak Yanto yang mendengar pekataan istrinya sangat gak tega menceritakan semuanya ke sang istri. Tapi mau gimana lagi, mau sampai kapan pak Yanto menyembunyikan masalaj sebesar itu pasti istrinya akan tahu.
Dengan suara lemah pak Yanto menceritakan semuanya kepada sang istri. Dari awal sampai akhirnya.
"Mah, maafin papa, karena papa belum bisa jadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Mungkin karena papa juga anak kita jadi seperti itu, papa gagal jadi seorang ayah," ujar pak Yanto dengan mata berkaca-kaca.
"Pah, papa bicara apa sih ngaur aja, papa itu gak perna gagal, mama yang salah mendidik Nadia makanya dia begitu jadi papa gak usa merasa kalau papa gagal, kita sudah berusaha yang terbaik untuk dia tapi kalau dia gak mengikuti didikan kita dan dia salah jalan itu resiko dia pah, yang penting kita sudah berikan yang terbaik."
Pak Yanto benar-benar kanget mendengar setiap perkataan istrinya karena pak Yanto sangat tahu kalau istrinya itu sangat menyayangi anaknya itu makanya selama ini, mereka selalau bertengkar karena prinsip mereka bertolak belakan
Tapi hari ini pak Yanto mendengar dengar dengan sendirinya perkataan sang istri. Membuat pak Yanto heran.
"Mama bicara apa sih kenapa mama bicara begitu bukankah mama sangat menyayangi anak itu dan selalau membelahnya, kenapa sekarang mama beruba jadi seperti ini ada apa mah, coba jelaskan ke papa"?
__ADS_1
Bu Sari menatap suaminya ia menelisik mata suaminya danenemukan kesedihan yang mendalam yang di simpan oleh suaminya.
"Pah, bukankah kita sebagai suami istri?!!! Dan harus saling jujur satu sama lain , kenapa papa masih berusaha kuat menghadapi masalah sebesar ini, dan papa mau menyembunyikan dari mama, pah, mama sudah tahu semuanya pah, maafin mama" ujar bu Sari langsung berhambur memeluk sang suami air mata yang sejak tadi sudah susah paya di tahan akhirnya lolos begitu saja.
Karena pak Yanto belum tahu kalau ternyata diam-diam bu Sari sudah mengetahui semua perihal mengenai perusahaan dari Damal, tapi bu Sari berisaha kuat dan tenang menyambut kepulangan suaminya dari kantor ia sengaja diam biar dia menunggu apakah suaminya cerita atau gak ternyata gak, itu yang membuat bu Sari sedih, karena semua ulah anak yang selama ini ia belain sampai selisih paham dengan suaminya.
Namun ternyata kenyataan pahit datang menghampiri mereka karena ulah anak itu membuar bu Sari merasa bersalah terhadap suaminya lantaran ia pernah menuduh suaminya gak pernah berusaha mencari anaknya itu.
Pak Yanto walaupun ia binggung dengam sikap istrinya tapi, tetap menyambut pelukan istrinya dan membiarkan istrinya menangis di pelukannya, biarpun bu Sari dan pak Yanto sudah berusia tua tapi mereka masih romantis, lagian mereka juga belum talalu tua.
Setelah bu Sari tenang ia melepaskan pelukan dari pak Yanto, dan pak Yanto juga karena sudah melihat istrinya sudah tenang akhirnya ia bertanya kenapa istrinya menangis.
"Mah, kenapa tadi mama bicara begitu, apa papa melakukan kesalahan sehingga membuat mama menangis"?
"Pah, papa gak perlu bohong sama mama, mama tahu papa takutkan kalau ma sakit lagi dan kenapa-kenapa, tapi papa tenang aja mama baik-baik aja, mama sudah tahu semuanya pah, kalau anak itu masuk penjara, dan karena dia juga sekarang perusahaan kita krisis pah, kenapa papa gak bilang sama ma, apa papa gak pernah mengangap mama ada"?
__ADS_1
Pengakuan bu Sari membuat pak Yanto terkejut karena lantaran pak Yanto aja belum beritahu istrinya tentang semua ini kenapa istrinya tahu.