
Menurut pak Yanto dan bu Sari perbuatan Nadia sudah keterlaluan jadi kata maaf untuknya sudah tertutup, mereka tidak mau mengambil pusing lagi dengan kehidupan Nadia biarlah berikan kebebasan kepadanya agar dia bebas memilih jalan hidupnya karena tugas dan tanggung jawab mereka sudah selesai.
Bu Sari yang mendengar perkataan Nadia agak emosi, karena menurut bu Sari Nadia belum sadar.
"Khilaf kamu bilang? kalau orang khilaf itu tidak sampai bertahun-tahun apalagi hamil dengan suami orang dimana letak urat malumu apa selama ini aku mengajarkan kamu menjadi perempuan murahan yang tidak memiliki harga diri. Dan kamu jangan harap kalau aku dan suamiku membantu kamu untuk rujuk dengan Iksan karena itu tidak akan terjad, Iksan terlalu baik sehingga kamu meremekannya, aku dan suami yang menyuruh Iksan menikah lagi karena kamu sudah tidak pantas untuk menjadi istrinya kamu sangat menjijikan aku saja sampai malu dan menyesal melahirkan kamu ke dunia ini" ujar bu Sari
"Tahu aku kayak gini dulu aku membiarkan kamu mati saja tidak perlu di besarkan kedunia ini hanya menyusahkan orang tua, tadi juga kamu bilang apa kamumasih sayang sama Iksan dan kamu kasihan dengan Dira karena tumbuh di keluarga yang tidak utuh begitukah?....pas kamu pergi meninggalkan dia waktu itu Dira masih kecil kamu memikirkan dia gak memang kamu ibu berhati iblis".
"Pas itu Dira sangat membutuhkan sosok seorang ibu tapi di mana hati nurani kamu iblis dimana ha.. Kamu pergi meninggalkannya tampa ada rasa kuwatir atau rasa bersalah sedikitpun dan sekarang kamu datang dan bilang kalau kamu kasian karena memiliki orang tua yang tidak utuh. "Bentak bu Sari sambil menangi karena bu Sari sudah merasa sesak sekalu di dadanya akhirnya dia tidak sabar memberikan tamparan keras di pipi Nadia.
Plakkkkkkk.....!
"Waktu kamu dari kecil sampai kamu menikah semua permintaan kamu aku tidak sekalipun menolak sampai kamu membuat aku dan suamiku pernah bertengkar karena ikuti semua kemauanmu, tapi sampai disini aku sadar ternyata semua pengorbanan kami sia-sia kami mengorbankan bukan untuk manusia yang memiliki hati nurani tapi pengorbanan kami untuk seekor bina**ng seperti kamu. Sekarang aku minta kamu pergi dari sini sebelum aku telpon polisi pergiii.........pergiii.........dari sini..." teriak bu Sari sampai membuat para ibu-ibu yang ada disitu terkejut.
Kasian pak Yanto dan bu Sari punya anak kelakuannya seperti itu, sudah salah bukannya minta maaf dengan tulus ini justru menyalahkan orang lain seolah itu semua bukan kesalahannya, bahkan tidak segan menuduh Iksan selingkuh dengan Cessie bagaimana pak Yanto dan bu Sari tidak murka.
__ADS_1
Pak Yanto dan bu Sari sudah banyak memikul beban berat dari dijauhi keluarga, bisnis merosok sampai dapat gunjingan dari orang-orang karena kelakukan buruk Nadia. Jadi menurut mereka untuk apalagi mereka harus susa paya memaafkan anak yang durhaka seperti itu.
"Pak satpam Danang tolong seret perempuam ini keluar dari rumah saya jangan perna membiarkannya masuk kesini, jika nanti dia coba-coba kembali lagi kesini tolong bantu saya untuk telpon polisi saja biar polisi datang jemputnya karena perempuan ini adalah seorang buronan yang kabur dari rumah sakit pas dirawat di rumah sakit jadi sampai sekarang masih dalam pencarian."
Bumkkkk...!
Pak Yanto dengan kasar menarik kakinya dari gengaman tangan Nadia sampai terlepas, setelah terlepas bu Sari dan pak Yanto masuk kedalam mobil dan hendak keluar dari pekarangan rumah tapi justru Nadia bangkit berdiri dan menghadang mereka didepan mobil.
"Ayah, ibu kalau kalian mau aku mati silahkan tabrak aku sekarang biar kalian bisa melihat sendiri kematianku ayah, ibu. tolong maafkan aku jangan usir aku dari sini aku tidak tahu harus pergi kemana lagi, jangan memperlakukan aku seperti ini bu Nadia mohon, coba ibu menyisahkan sedikit saja hati nurani ibu untuk memaafkan aku tolong bu jangan pergi meninggalkan aku, sekarang mas Iksan sudah meninggalkan aku bu dengan Dira jadi jangan ibu dan ayah memperlakukan aku seperti ini bu aku mohon"
Danang dan pak satpam menarik Nadia sesuai dengan perintah pak Yanto dan menyeret Nadia menjauh dari mobil, dan pak Yanto berlalu pergi dengan mobil sedangkan Nadia merontah-rontah mengeluarkan kata cacian karena kedua orang itu menahannya sehingga pak Yanto dan bu Sari berhasil pergi.
"Biadab kalian... lepaskan aku siapa yang menyuruh kalian menengang tangan saya singkirkan tangan kotor kalian itu, gara-gara kalian ibu dan ayah ku sudah pergi bajingan lepaskan" bentak Nadia dengan suara melengking tapi kedua pria itu tidak mau melepaskan Nadia, mereka justru menyeret Nadia sesuai dengan perinta bos mereka dan mereka mendorong Nadia keluar dari gerbang sehingga gerbang langsung di tutup.
Para ibu-ibu menyaksikan semuanya sehingga mereka mulai mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar oleh Nadia.
__ADS_1
"Kasian ya pak Yanto dan bu Sari punya anak yang nemiliki sifat biadab seperti ini, dasar anak durhaka untung ini bukan anak aku kalau seandainya dia anak aku mungkin aku bakar dia hidup-hidup saja agar tidak menyusakan orang tua" ujar seorang ibu
"Betul aku setuju waktu itu pas dia datang kesini dengan sombong dan angkuhnya mengakui kalau suaminya masih diluar negeri eh...tahunya suaminya sudah menceraikannya, kasian mantan suaminya menikah dengan perempuan ganjeng seperti ini....hati-hati jaga suami kita takutnya dia justru merayu lagi suami kita"
Bu Icha yang dari tadi semenjak Nadia datang tidak ada sepata kata pun keluar dari mulut bu Icha bukannya bu Icha tidak berani tapi bu Icha berpikir dia juga punya anak gadis. Jadi takutnya nanti kalau bu Icha ikut menghina atau menghujat takutnya karma itu ada jadi lebih baik bu Icha memilih diam.
"Nadia...pulanglah ke tempat kamu nginap tunggulah dulu emosi ibu dan ayah kamu redah baru kamu datang lagi karena sekarang mereka masih dalam keadaan emosi jadi hati mereka lagi panas. Jika kamu paksa nanti mala makin tambah buruk jadi ibu mohon pulanglah dan kamu juga tenangkan pikiran kamu dulu" uja bu Icha
Nadia memandang bu Icha dan bu Icha mengangguk tandanya menyuruh Nadia pergi, dari sekian banyak ibu-ibu hanya bu Icha saja yanh berkata lembut kepada Nadia membuat Nadia sedikit terharu karena dalam kondisi seperti ini masih ada orang yang peduli.
Bu Icha gegas kedalam rumahnya dan saat kembali ia membawah aqu sebotol di tangannya dan menyodorkan ke arah Nadia. Memang Nadia haus tapi engan untuk menerima aqua itu. Membuat seorang ibu-ibu marah.
"He Nadia ambil tuh minum masih untung di kasih minum ini mala gak di ambil dasar, gak usa kasih bu Icha biarkan saja disitu" ujar seorang ibu.
Nadia menundukan kepalanya dan air matanya mengalir deras begitu saja tidak ada suara keluar hanya air mata yang mengalir.
__ADS_1