
Abian yang sementara duduk di samping Surya, berteriak hirteris saat melihat Surya menutup mata dan semua alat di lepaskan oleh dokter, begitu juga mbak Eva dan Sinta mereka bertiga merasa terpukul dengan meninggalnya Surya, memang waktu masa hidup Surya sudah banyak melakukan kesalahan, tapi tidak menutupi kasih sayang seorang kakak, adik atau anak terhadap orang yang masih ada ikatan darah dengannya.
"Mas Surya!....mas bangun mas, jangan tinggalkan kita mas, kata mas cepat keluar dari penjarah agar bisa membahagiakan Abian, untuk menebus semua kesalahan mas, kenapa mas pergi meninggalkan kami semua, Sinta sudah maafin kamu mas. Ternyata mas egois sudah tidak tahu bertanggung jawab sekarang main pergi begitu saja, bukankah waktu ibu meninggal mas sudah janji akan menjaga Sinta dan mbak Eva?" ujar Sinta berderai air mata, kalau Abian masih setia memeluk Surya sampai dokter memintanya untuk jangan menyentuh Surya lagi.
"Nak, tolong jangan peluk-peluk begitu, kita segerah membawah ke ruang jenaza untuk di mandikan nanti. Mayit tidak bisa di biarkan lama-lama begini." Ujar dokter.
Sedangkan Iksan langsung menelpon pak RT dan tetangganya, untuk datang kerumah agar mereka mempersiapkan tendah karena nanti mayit Surya di bawah ke rumah Iksan, Iksan yang minta. Sebenarnya dokter Julio juga minta untuk di semayamkan di rumah dokter Julio tapi Iksan menolak, karena ada maksunya dan tujuan ada Sinta disana.
Cessie langaung telpon ke pak Arya mengabari kalau Surya sudah meninggal, tidak lupa Cessie juga hubungi manajer Lita dan Aris memberitahu kalau Surya sudah meninggal jadi, mayit sementara di proses untuk bawah pulang karena rencana jam tiga di kuburkan setelah di sholatkan.
"Hallo Lit, ini aku mau kabarin kalau mas Surya, mas nya Sinta sudah meninggal tadi jadi sebentar lagi kami akan antar pulang mayit nya ke rumah iksan dan jam tig akan di kuburkan, kalau kamu dengan Mas Galu ada waktu bisa hadir."
" Astaga...kapan Surya masuk rumah sakit mbak? kok baru kabarin, kasian Sinta dengan mbak Eva. Ya sudah kami segerah ke rumah Iksan aja soalnya. Hari ini juga Lita tidak masuk kerja mbak jadi Lita suruh sekretaris Masni menghandle semua." ujar manajer Lita.
"Mas Surya, masuk rumah sakit kamrin sekitar jam enam lah, soalnya penyakit komplikasih Lit. Ya sudah nanti kita ketemu disana saja." ujar Cessie.
Setelah selesai telpon manajer Lita, Cessie kembali menghubungi Aris kakaknya. Karena sekarang Aris juga sangat sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa kasih kabar.
Aris yang sementara duduk di ruanganya tiba-tiba hp nya berdering, untung hari ini tidak ada meeting penting dan tidak banyak pekerjaan jadi agak sedikit santai.
"Humm agak sedikit santai hari ini, untung tidak ada meeting hari ini jadi agak sedikit lega." ujar Aris.
__ADS_1
Dreeetttt...dreeetttt!
Aris langsung melihat hp nya ternyata ada telpon dari Cessie.
"Tumben adik cantik ku telpon biasanya aku yang selalu telpon, tapi sekarang justru dia telpon angkat ah" Aris langsung mengangkatnya ternyata Aris mendengar Suara mbak Eva dan Sinta yang lagi menangis, membuat Aris terkejut.
"Hallo dik, kamu kenapa menangis begitu dan suara siapa itu yang berteriak"? Tanya Aris binggung.
"Iya kakak, Cessie telpon mau ngabarin kalau mas Surya sudah meninggal tadi jadi sebentar lagi mayitnya akan di antar ke rumah Iksan, kalau kakak ada waktu datang lah karena kubur jam tiga sore." ujar Cessie.
Aris langsung terkejut dan bangkit dari duduknya, saat mendengar penuturan Cessie.
"Ya Tuhan, bagaimana dengan perasaan ponakan kakak, dik kalau di tahu yang meninggil adalah ayahnya pasti sangat terpukul, ya sudah aku akan segerah kesana dikbersama mbak kamu yah.
Mbak Eva tidak kalah dari Sinta dan Abian berteriak histeris memanggil nama adiknya, tapi parcuma Surya tidak bisa mendengar tangisan dan teriakan mereka lagi.
"Surya....adikku bangun dik...jangan tinggalkan mbak dengan Sinta, sekarang tinggal kita bertiga semenjak ibu pergi, kenapa sekarang kamu juga nyusul ibu dik....!"
Cessie langsung memeluk mbak Eva dan Sinta, untuk menenangkan mereka berdua. Sedangkan dokter Julio memeluk Abian karena jenaza segerah di bawah ke ruangan mayit.
Akhirnya Surya di tutup dengan kain putih dan di bawah oleh Suster dan dokter ke ruang mayit. Di ikuti keluarga karena Surya akan di mandikan, dan segerah di bawah pulang karena jam tiga akan di keburkan.
__ADS_1
"Mbak, Sin..harus kuat Cessie tahu bagaimana perasaan mbak Eva, Sinta dan Abiam saat ini tapi, mbak harus ingat jangan terlalu bersedih karena kasihan nanti Surya. Sekarang kita keluar dan ikut ke ruang mayit karena akan di mandikan.
Surya langsung di bawah ke ruang mayit dan di mandikan, tepat pukul sepuluh akhirnya mayit di antar ke rumah Iksan.
"Siapa yang ikut ambulans," tanya Cessie, Sinta dan mbak Eva katanya ikut ambulans aja awalnya Abian juga tapi katanya cukup dia orang saja, jadi Abian kembali dengan Aziza tapi kali ini Aziza yang.
"Mas tidak perlu bawah mobil biar Aziza saja", tapi Abian tidak membantah juga, akhirnya jenaza Surya di bawah kerumah Iksan di antar juga oleh pihak kepolisian karena Surya masih di bawah penjangaan ketat dari pihak lapaas.
Mobil pribadi mengiringi Surya ke rumah Iksan bersama mobil jenasa selama perjalanan pulang air mata mbak Eva dan Sinta tidak berhenti menangis. Sedangkan di dalam mobil Abian dan Aziza tidak ada pembicaraan sama sekali.
"Sayang, mas tahu bagaimana perasaan putra kita saat ini, pasti dia merasa sangat terpukul dengan kepergian Surya" ujar dokter Julio.
"Ya mau bagaimana lagi mas sudah saatnya di panggil pulang oleh Allah, kita sebagai manusia berdosa tidak bisa berbuat apa-apa bahkan kita juga harus siap jika sewaktu-waktu kita juga di panggil pulang ke sorga. Tapi Cessie yang putra kita adalah pria yang kuat jadi dia bisa mengendalikan diri kok mas" ujar Cessie.
Hampir satu jam perjalanan akhirnya sampai dirumah juga, ternyata pak RT sudah mengumumkan ke warga setempat jadi Warga sudah penuhi rumah, banyak juga karyawan dari perusahaan Iksan dan Sinta datang.
Surya langsung di sholatkan kerena sekarang sudah setegah satu. Memang waktu berjalan begitu cepat sehingga sebentar lagi Surya akan di makamkan.
"Turut berduka cita ya Sinta, dan Iksan, mbak Eva harus kuat, karena semua sudah di atur oleh Allah" ujar manajer Lita" sedangkan Sinta dan mbak Eva hanya berikan angukan kepala.
Banyak sekali pelayat yang datang, karena di komplek itu terkenal Sinta dan Iksan itu orang yang sangat baik dan suka membantu.
__ADS_1
Tepat jam tiga mobil beriringsn mengantarkan jenasa Surya ke kubur untuk menguburkannya.