
Setelah selesai Sinta bergegas kembalih kedalam ruangan untuk menemui sang mama, ternyata pada saat sampai didalam bu Ayu sudah tidur terlelap di atas kursi karena kecapean. Sinta menghampiri sang mama. Dan duduk disampingnya, Sinta dengan lembut menepuk bahu sang mama akhirnya bu Ayu bagun.
"Sin, bagaimana dengan kondisi Nadia sudah siuman belum, tadi apa kata dokter kok belum juga sadar." tanya bu Ayu
"Sabar aja mah, kita tunggu aja ya, soalnya tadi kata dokter Julio kalau, mbak Nadia secepatnya sadar kok." ujar Sinta
Sinta dan bu Ayu lagi ngobrol dan Sinta juga sampaikan ke bu Ayu soal kedatangan mbak Evan namun tangapan bu Ayu kurang enak, di dengar oleh Sinta membuat Sinta marah.
"Mah, tadi Sinta telpon mbak Eva, Sinta kasih tahu kalau mbak Nadia di rumah sakit terus mas Surya ada di kantor polisi, jadi mbak Eva katanya dengan suami dan anaknya datang mah."
"Ha...Sinta ngapain sih pake kasih tahu mbak kamu segala anak durhaka itu, seharusnya tak perlu kamu beritahu dia, lagian untuk apa datang kesini bahwa suami dan anak lagi, awas aja kalau ngusain."
Sinta yang mendengar perkataan mamanya, geram kok bisa ya seorang ibu berkata seperti itu terhadap anak, cucu dan menantu nya sendiri bilang mereka ngusain.
"Mah, mbak Eva itu anak mama bukan sih, kok sifat mama seperti itu, biasanya seorang ibu yang baik itu pas mendengar anak cucunya datang ia pasti bahagia, Sinta heran deh lihat mama, gak ada satupun yang benar dimata mama, ingat mah, mama itu sudah tua jangan sampai sifat jelek mama ini membaut kami malas urus mama pada saat mama sudah gak bisa ngapa-ngapain lagi."
"He Sinta kamu mau ikut-ikutan durhaka sama mama kayak mbak kamu itu, yang selalu menentang mama, kamu masih ingatkan waktu masih di rumah perempuan itu, gak sekalipun mbak kamu itu mau mendengar perkataan mama, tapi mala membelah perempuan itu, dan menentang mama"
__ADS_1
"Tapi ya pada akhirnya mama menang juga sih memisahkan Surya dengan perempuan jahat itu, buktinya sekarang meraka sudah mau sidang cerai kedua. Tinggal menunggu aja."
Kali ini Sinta benar-benar emosi mendengar perkataan mamanya yang masih juga menyalahkan Cessie, padahal sudah dengan kondisi seperti ini juga bukannya sadar tapi mala bu Ayu makin menjadi.
"Haahha...mama....mama.....Sinta gak tahu lagi bagaimana caranya untuk memberikan kesadaran kemama, suapaya mama berhenti mengikuti keegoisan mama, Sinta pikir dengan adanya kecelakaan yang terjadi pada mbak Nadia dan mas Surya masuk penjara itu membuat mama sedikit sadar atas keegoisan dan keserakahan mama, tapi ternyata Sinta salah, sampai kapanpun mama gak akan sadar kalau bukan mama yang kena karma itu."
"Sinta yakin nasib yang menimpah mbak Nadia dan mas Surya saat ini bukan karena semata-mata, namun karena perbuatan mereka ini adalah karma, tapi Sinta tahu keegois mbak Nadia dan mas Surya begitupun mama jadi kalian gak akan sadar sampai disini aja mungkin kalian menderita parah baru memohon ampun."
Pesan aku sama mama, jangan harap Sinta mau di peralat seperti dulu lagi mah, Sinta sudah sadar jadi maaf apapun yang mama katakan sinta gak akan mau lagi mengikutinya."
Sinta langsung bagun dan beranjak keluar ia malas lama-lama duduk disamping mamanya, yang terlihat sangat egois.
Sedangkan di ruangan lain pak Yanto, duduk disamping tempat tidur istrinya yang masih terlihat lemas namun sudah bisa di ajak ngobrol, bu Sari teringat kembali semua yang ia lihat sebelum ia jatuh pingsan dan bu Sari meneteskan air mata, ia benar-benar gak percaya kalau, Nadia anaknya serendah itu.
Apalagi, berani selingkuh dengan mantan suami dari Cessie anak dari pemilik perusahaan Arya grup, membuat bu Sari benar-benar syok. Bu Sari juga ingin meminta maaf kepada suaminya, karena sudah terlanjur berlaku tak sopan pada suaminya sendiri hanya membelah anak yang ia pikir baik dan bisa menjaga harga dirinya.
"Pah, maafin mama, selama ini mama gak sekalipun percaya dengan setiap perkataan papa, mama egois pah, maafin mama pah. Tapi mau bagaimanapun hanya Nadia anak kita satu-satunya pah. Jadi kita harus cari dia dan bahwa kerumah."
__ADS_1
Sebenarnya pak Yanto mau mengatakan kepada istrinya soal perihal Nadia sudah di tangkap polisi tapi, pak Yanto gak tega melihat istrinya masih lemah, jadi ia urunkan nantinya nanti kalau sudah mendingan baru kasih tahu pikir pak Yanto, karena ia gak mau mengambil resiko kalau istrinya kenapa-kenapa.
"Mah, mama masih sangat lemah jadi jangan mikirin yang ane-ane dulu ya mendingan mama istirahat agar cepat pulih, supaya kita pulang mah, memangnya mama mau lama-lama disini, gak bosan"?
"Bosan dong pah, baru satu hari disini aja rasanya sudah gak betah tinggal disini, pengen cepat pulang kerumah. Oh ya pah, apakah tuan Arya dengan jeng Intan tahu kalau yang berselingkuh dengan mantan mantu nya itu adalah anak kita Nadia pah?"
"Pasti mereka tahu lah mah, papa gak percaya kalau mereka gak cari tahu siapa Nadia sebenarnya, anak itu memang gak berguna yang ada ngusain."
"Terus kalau seandainya mereka menarik kembali saham dari perusahaan kita bagaimana pah, bisa bangkrut kita mama gak mau."
"Sejauh ini belum ada tanda-tanda untuk memutuskan kontrak kerja sama sih mah, tapi gak tahu nanti kalau memang mereka mau narik kembali saham mereka, papa yakin penanam saham yang lain juga akan ikut jadi kita siap aja, karena semua ini terjadi karena anak itu."
Bu Sari memalingkan wajahnya dari pak Yanto, karena ia gak tega melihat kesediham suaminya, kalau benar perusahaan Arya grup narik kembali saham itu artinya selama ini perjuangan suaminya akan sia-sia, sekarang bu Sari serbah salah, di satu sisi ia Sangat menyayangi Nadia tapi geram juga dengan semua sifat buruknya. Di satu sisi lagi ia kasian dengan suaminya.
"Nadia mama dan papa sudah membesarkan kamu dengan baik, bahkan kami juga sudah menikahkan kamu dengan laki-laki baik. Tapi kamu pergi meninggal mereka dan kamu yang memilih jalan hidup kamu yang sekarang karena kelakuan buruk kamu orang tuamu lah yang kena imbas, mungkin mama harus belajar egois sama kamu gak perlu lagi mencarimu, karena semua itu adalah pilihanmu."
"Silakan kamu menikmatinya maafkan mama kamu Nadia mama gak tahu harus apa sekarang, kamu sendiri yang memilih jalan itu jadi teruskanlah bila perlu gak usa pulang kerumah lagi, mama marah sama kamu Nadia, mama sangat marah."
__ADS_1
Bulir bening lolos begitu saja keluar dari mata bu Sari.