
"Makasih ya nak, kamu baik sekali, pasti orang tua kamu sangat bahagia memiliki kamu, tetap jadi anak yang rendah hati ya nak, dan jangan membuat orang tua kamu memikul beban atau jangan membuat orang tua kamu pikiran karena kesalahan yang kamu lakukan. Pasti orang tua kamu sangat bangga sama kamu nak."
Sinta yang mendengar penuturan pak tua itu tersenyum kecut." bapak gak tahu dimana menderitanya aku di buat oleh ibuku sendiri, kami di setir kayak anak yang gak punya kehidupan sendiri, bahkan mas Surya aja biduk rumah tanggahnya hancur karena mama, cobak masih ada papa, mungkin aku bahagia" gumam Sinta dalam hati, gak terasa bulir bening lolos keluar begitu saja, membuat pak Yanto, kaget.
Ya, jadi orang tua yang sekarang bersama dengan Sinta adalah pak Yanto, ayahnya Nadia, pak Yanto yang sedari tadi menunggu di luar karena istrinya lagi dalam ruangan operasi sama seperti anaknya Nadia. Mereka berada dalam sesuatu yang sulit antara hidup dan mati, tapi mereka sama-sama gak tahu kalau mereka berada di rumah sakit yang sama.
"Nak maaf kalau saya salah bicara, tapi kenapa kamu menangis apa yang membuat kamu sedih."
"Sinta mengangkat kepalanya dan menatap pak Yanto sembari berkata" maaf pak saya kebawa suasana, ayah saya sudah meninggal pak. Sekarang tinggal ibu tapi rasanya gak sanggup dengan menghadapi ibuku. Dan Anak bapak yang sangat beruntung memiliki orang tua seperti bapak."
Sekarang giliran pak Yanto yang merasa sakit hati mendengar perkataan Sinta," Maaf nak bapak gak punya anak."
"Memangnya bapak belum punya anak?"
"Ada tapi sudah meninggal dua-duanya" ujar pak Yanti sambil senyum tapi, itu senyum pahit.
"Ya Tuhan pak maaf, saya gak tahu maaf pak." ujar Sinta sambil mengatupkan kedua tangannya Sinta benar-benar gak enak hati karena sudah membuat pak Yanto sedih.
"Gapapa nak, gak usa minta maaf karena itu bukan salah kamu."
Mereka melanjutkan makan sampai habis, tak lama kemudia pintu ruangan bu Sari terbuka, keluarlah dokter dari dalam dengan keringat bercucuran. Sontak pak Yanto langsung bagun dan menghampiri dokter tersebut.
__ADS_1
"Dokter bagaimana dengan istri saya dok, apa baik-baik saja." tanya pak yanto.
"Syukur pak, operasi pemasangan ringnya berjalan dengan baik, sebentar lagi pasien akan di pindakan ke ruang rawat inap, sementara waktu bapak belum boleh masuk tunggu sampai pasien di pindahkan dulu." ujar sang dokter langsung berlalu pergi.
Sedangkan pak Yanto agak sedikit bernapas legah, karena istrinya bisa melewati masa yang sangat sulit itu" Syukurlah ya Allah, akhirnya mama sudah melewati masa kritis"
Kalau pak Yanto sudah merasa lega karena istrinya sudah melewati masa kritis, namun berbedah dengan Sinta yang masih was-was karena sudah tiga jam ia menunggu tapi pintu ruangan operasi gak kunjung terbuka terbuka juga. Hatinya sudah gunda gulana semoga gak terjadi apa-apa sama kak iparnya itu.
"Ya Tuhan kenapa sampai sekarang mama juga belum nyampe, padahal sudah jam berapa ini, semoga mbak Nadia gak kenapa-napa."
Sinta menunggu di ruang tunggu dengan cemas, tak lama bu Ayu datang dengan muka panik dan juga ada sedikit berantakan membuat Sinta ikut panik.
"Mah, maksud mama apa sih, Sinta sama sekali gak mengerti. Mas Surya kenapa memangnya mah, dari tadi mama bilang ke kantor polisi memangnya mas Surya ngapain kesana mah. Dan kenapa mbak Nadia bisa jadi gini bukannya tadi pagi kalian pergi kerumah mbak Cessie."
"Mas kamu di bawa sama....."
Krek.....baru juga bu Ayu mau bilang ke Sinta kalau Surya dengan Nadia di tangkap polisi, pintu ruang operasi Nadia terbuka, muncul lah seorang dokter dari dalam ruangan, sontak Sinta dan bu Ayu segera bangkit dari duduk mereka dan langsung menghampiri dokter.
"Dok bagaimana dengan kondisi kak ipar saya dok, dia baik-baik ajakan." tanya Sinta
"Iya dok, dimana kondisi menantu saya, kandungannya masih amankan dok" tanya bu Ayu.
__ADS_1
"Bu, mbak boleh kita bicara sebentar, yuk ikut saya, ada hal penting yang harus saya sampaikan."
Sinta dan bu Ayu hanya nurut saja, mereka mengikuti langkah kaki dokter dengan berat hati mereka masuk kedalam ruangan dokter."Silakan duduk mbak, bu."
Setelah sampai di dalam ruangan dokter Sinta dan bu Ayu di persilakan duduk oleh dokter, ternyata yang operasi mengeluarkan janin dan pengangkatan rahim, dokter julio yanh menagani hal itu.
Dokter Julio menarik napas dalam-dalam baru ia bicara karena dokter Julio tahu ini sangat berat untuk kekuarga pasien. "jadi begini bu, mbak sebenarnya ini sangat berat untuk saya sampaikan, tapi menang seperti itulah kenyataannya. Bahwa janin pasien gak bisa di selamatkan, ia keguguran dan bukan hanya itu dengan terpaksa kami mengangkat harim pasie karena jika gak diangkat itu akan mengakibatkan fatal untuk pasien."
"Sekarang kondisi pasie sudah melewati masa kritisnya dan sebentar lagi pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap."
Awalnya bu Ayu mendengar penjelasan dokter dengan saksama, namun setelah dokter mengatakan kalau Nadia keguguran bahkan kandungannya juga harus di angkat, bu Ayu benar-benar syok dan gak percaya bu Ayu membuka mulut lebar dan menutup dengan tangan gak terasa bulir bening keluar begitu saja, ia sampai mengelengkan kepalanya. Tiba-tiba bu Ayu berteriak..
"Tidak.....dokter pasti bohong gak munggu cucu saya gak bisa diselamatkan dok, pasti dokter sengajakan untuk mengugurkan kandungan mantu saya. Kalau rahim Nadia di angkat berarti Surya gak punya anak lagi dong."
"Gak......gak dok jangan lakukan itu, saya pengen punya cucu." ujar bu Ayu sambil teriak dan benar-benar syok. Walaupun Sinta tadi sudah tahu dari awal tapi pada saat ia mendengar penjelasan dokter, Sinta juga merasa sakit dihatinya.
"Ya Tuhan semoga mbak Nadia bisa menerima semua ini, dan juga mas Surya harus kuat ini sudah takdir, mungkin karena ini karma juga untuk mbak Nadia dan mas Surya karena berani selingkuh dan menghianati mbak Cessie."
" Saya harus hubungi mbak Eva semoga mbak Eva bisa datang, tapi kemana mas Surya ya, humm mau nanya sama mama juga gak mungkin, mama masih syok dengan semua ini"
Tak lama kemudia pintu ruangan terbuka dan keluarlah dua suster yang lagi mendorong Nadia di atas brankar, menuju ke ruang rawat inap biarpun kondisi Nadia sudah stabil tapi belum siuman.
__ADS_1