
Pada saat Iksan mendengar nama Nadia ia terkejut kenapa tidak, nama yang sudah lama ia kubur dan tidak ingin ia dengar lagi tiba-tiba muncul. Apa ini secara kebetulan pas tadi dia sempat berpikir tentang kehidupan rumah tangganya dengan Nadia. Mendengar itu Iksan berlari dan menerobos masuk kedalam rumah, dan benar saja.
Iksan menyaksikan sendiri Nadia masih tersungkur di lantai, Iksan binggung siapa yang melakukan itu karena selama ini Iksan tahu orang tua dan kaknya sangat menyayangi Nadia, jadi jikalau ini adalah perbuatan orang tua dan kaknya itu artinya mereka sudah sangat membenci mantan istrinya itu.
Saat Nadia melihat kedatangan Iksan ia terkejut tapi juga senang karena Nadia yakin Iksan akan membelahnya, dengan begitu Nadia mulai bersandiwara kesakitan dan meminta tolong kepada Iksan.
"Aduh....mas Ikasan akhirnya kamu datang juga, tolongin aku mas, masa aku di siramin air garam oleh mbak Alana, terus aku di tampar terus di dorong oleh ayah mas. Tolong bantu aku mas berdiri.
Nadia pikir sandiwaranya akan berhasil karena Iksan berjalan mendekatinya jadi pikirnya Iksan mendekat untuk menolongnya, sedangkan mbak Alana dan ibu Manda berusaha untuk mencegah Iksan tapi Iksan dengan lembut berikan isyarat kalau mereka diam saja tidak perlu kuwatir.
Setelah Iksan berdiri tepat di depan Nadia ia berjongkok dan bertanya.
"Siapa kamu ha...berani sekali kamu masuk ke kediama saya tanpa ijin , siapa yang berani menyuruhmu masuk wanita ******, jangan kamu panggil aku dengan kata itu karena aku sangat jijik dengan panggilan itu, aku sudah menguburkan namamu dari hatiku semenjak kamu keluar dari pintu rumahku dan tidak pernah kembali"
__ADS_1
"Deg......" kata-kata Iksan sangat menyakiti hati Nadia.
"Mas kamau bicara apa ingat kita masih suami istri yang sah, masa aku datang kesini kamu memperlakukan aku seperti ini mas. Dimana letak cinta dan kasih sayang kamu yang dulu terhadap aku mas, aku tahu mas sangat mencintaiku aku minta maaf mas karena sudah membuat kamu dan anak kita kecewa karena aku pergi dari rumah, aku punya alasan mas, mas mana anak kita mas mana putry kita, ingat mas dosa loh memisahkan anak dan ibunya."
"Aku tidak butuh ceramah busuk kamu wanita hina jijik, apakah seperti ini didikan dari orang tua kamu, aku rasa tidak, karena orang tua kamu adalah orang tua terhormat. Untuk apa kamu kembali kesini lagi ha, karena sudah dicampakan oleh suami orang atau karena kamu sudah tidak mendapatkan mangsa baru, sehingga kamu datang meminta bantuan agar aku carikan begitukah, hahaha kamu tenang aja perempuan murahan, banyak temanku. Kamu mau mereka bayar kamu berapa satu malam biar aku kasih tahu mereka, perempuan seperti mu palingan di hargai seribu rupia. Itupun aku rasa sangat mahal"
Mendengar kata-kata hina dari mulut Iksan Nadia lantas ingin menampar wajah Iksan karena tidak terimah dengan perkataan hina dari Iksan, namun lagi-lagi Nadia yang kena hajar dengan kencang mbak Alana menendang Nadia dari belakang sampai kesakitan tidak sampai disitu Iksan berikan hadia berupa dua tamparan mengenai tepat ?di pipi Nadia.
"Berenai sekali kamu ya mas merendahkan istri kamu sendiri, memang kamu mau aku tidur dengan teman-teman kamu dimana hati nurani kamu sebagai laki-laki dan suamiku ha...." bentak Nadia membuat Iksan tersulut emosi.
"Diam...mulut busuk kamu itu bajingan...ke kenapa sekarang disaat aku bahagia baru kamu muncul ha...apa kamu lupa pada saat kamu pergi meninggalkan aku dan anak aku seperti apa ha....apakah kamu masih bisa disebut sebagai istri dan seorang ibu, hey....wanita ****** dulu aku sangat menghormatimu dan sangat menyayangimu tapi sekarang jangankan menerima kamu kembali sebagai istri atau ibu dari anakku, cium bauh kamu aja aku jijik bahkan tidak sudih."
"Satu hal yang perlu kamu tahu aku sudah mengungat cerai kamu di pengadilan agama delapan bulan yang lalu, jadi kalau kamu mau aktanya biar aku berikan, tapi aku rasa kamu juga tidak butuh hal itu, sekarang aku minta kamu pergi dari rumahku dan janhan perna unjuk mukamu disini lagi. Karena aku sudah tidak sudih melihat mukamu lagi disini, dan satu lagi jangan harap aku membiarkan anakku bertemu denganmu karena dia saja sangat membencimu apalagi aku."
__ADS_1
"Kembali la ke rumah suami simpanan kamu karena demi dia kan kamu berani pergi meninggalkan aku dan anakku, kamu masih ingat berapa bulan kamu meninggalkan Anakku,....delapan bulang Nadia.....pas masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu, apakah kamu pantas, kamu sama sekali tidak pantas." bentak Iksan.
"Mas...maafkan aku maafkan aku mas aku khilaf aku salah mas tolong jangan usir aku mas, lagian kita bisa perbaiki lagi hubungan kita aku tahu kamu masih mencintaiku mas tapi karena kamu lagi emosikan makanya kamu bicara seperti itu, mas tolong...mana anak kita aku mau ketemu dengannya dan meminta maaf aku kangen mas sama kamu dan anak kita tolong mas"
"Hahaa....kamu tidak perlu pura-pura menangis sehingga aku kasian sama kamu, mendingan kamu cepat pergi dari hidupku jujur aku muak melihat kamu, pergilah kembali ke habitat kamu laki-laki simpanan kamu yang juga suami orang, Nadia selama kamu menikah denganku pernah gak aku memarahi dan membentakmu".
Tidak pernah sekalipun aku melakukan hal itu. Semua yang kamu inginkan aku berikan untukmu, tapi kamu tahu cinta itu seirang berjalannya waktu...makin lama makin terkikis dan hilang begitu saja, sekarang tidak ada lagi cinta untuk wanita sepertimu, jangan kamu datang dengan alasan demi sebuah cinta, padahal kamu datang karena dalam kondisi terdesak meminta bantuan bukan begitu kah Nadia.
Bu Manda yang dari tadi hanya diam menyaksikan anak dan suami bertengkar hebat dengan mantan menantunya buka suara, padahal dari tadi perempuan paru pabaya itu seperti tidak ingin berkomentar tapi kali ini ia ikut berkomentar.
"Nadia....dari semenjak kamu dibawah kerumah oleh Iksan dan mengatakan jika kamu adalah pacar dari anakku, sebenarnya aku sedikit tidak menyukaimu, bukan karena kamu tidak cantik tapi karena aku melihat kamu bukan wanita yang baik."
"Tapi demi kebahagiaan anakku yang aku lihat dia sangat mencintamu aku, memendam rasa itu didalam hati. Aku tidak ingin merebut kebahagiaan anakku dan tidak mau egos, tapi setelah kalian menikah dan seiring berjalannya waktu disitu aku menyesal karena sudah salah menilaimu, namun penyesalan itu tidak menunggu lama ternyata kamu pergi disaat cucuku masih sangat kecil dan membutuhkan kasih sayang dari ibunya. Semenjak saat itu penyesalan itu beruba menjadi kebencian di hatiku, saat ini aku minta kamu pergilah dari hidup anakku atau nanti kamu menyesal seumur hidupmu.
__ADS_1