
Ara mengerenyitkan dahinya, “lho terus ... dia kalau makan gimana tuh?” tanya Ara yang masih penasaran dengan keadaan Morgan saat itu.
“Kadang kakak kasian sama dia. Bukan karena gak punya uang, justru tabungan dia banyak banget buat seusia muda kayak kita di zaman itu. Kadang kakak bawain makanan dari kantin. Kalau dia gak mau makan, kadang kakak suruh Gemi buat nyuapin dia,” ucap Arash menjelaskan, membuat Ara agak sakit hati mendengarnya.
Ara mendelik, “jadi … Gemi nyuapin Morgan?” tanya Ara yang kaget dengan ucapan kakaknya.
Arash hanya menggeleng kecil, membuat Ara bisa sedikit menghela napasnya.
“Karena kakak gak mungkin nyuapin dia, jadi saking kakak kasiannya, kakak nyuruh Gemi buat nyuapin Morgan. Tapi, Morgan nolak dan langsung makan sendiri. Kamu gak perlu khawatir. Morgan itu bukan tipe cowok yang tiba-tiba bisa berpaling dari wanita yang dia cinta,” ucap Arash yang berusaha membuat Ara tenang, tapi justru malah membuat Ara menjadi murung.
“It's means, dia juga gak akan lupain mantannya yang namanya Putri itu?” tanya Ara dengan nada memastikan.
Arash terkejut dengan pertanyaan Ara, sehingga menoleh sebentar ke arah Ara, kemudian menoleh kembali ke arah hadapannya.
Mereka pun sudah sampai di depan rumah. Arash mematikan mobilnya dan menoleh ke arah Ara.
“Mungkin … itu bisa aja terjadi,” lirih Arash yang menjawab pertanyaan Ara yang tidak sempat ia jawab tadi, membuat Ara mengerti akan hal itu.
Morgan bisa saja bersikap dingin dengan orang lain. Tapi, Morgan juga bisa saja belum melupakan wanita yang dulu ia cintai. Suatu hal yang berbeda, satu dengan yang lainnya. Aku harusnya sudah paham dengan konsekuensinya, pikir Ara yang sudah terlihat tidak bisa berbuat apa pun lagi.
Arash hanya memandang Ara dengan tatapan sendu.
‘Maafin kakak. Kakak gak mau kalau kamu sampai berpikir yang terlalu jauh. Biar pahit manisnya kamu tahu saat ini, dibandingkan nanti,’ pikir Arash yang sangat peduli dengan Ara, karena tidak ingin Ara merasa terbuai oleh kesenangan yang membuatnya tidak bisa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Ara masih saja memikirkan hal yang tidak bisa ia lepaskan begitu saja.
Sampai detik ini pun, aku yang sudah melewati hari-hari sendiri, masih saja memikirkan Reza yang mengkhianati perasaanku. Aku masih belum bisa melupakan Reza yang mungkin masih hidup sampai saat ini. Bagaimana dengan Morgan? Yang wanitanya sudah tidak ada lagi di dunia ini? Mungkin perasaannya sama seperti perasaanku saat kehilangan ibuku dulu. Ibu mengalami KDRT selama ini. Ayahku sangat tempramental. Membuat aku, ibu, dan kakakku menjadi takut dengannya. Tak jarang aku melihat ibuku dipukuli hingga memar, dan mengeluarkan darah. Aku jadi rindu ibu. Sejak saat itu, aku jadi trauma saat melihat orang lain berbuat kasar kepadaku, kepada orang-orang terdekatku, atau bahkan kepada dirinya sendiri, pikir Ara.
Sepertinya Ara sudah kalut dalam emosinya saat ini.
Semua permasalah sudah bercampur menjadi satu, membuatnya selalu menghubung-hubungkan semua tentang kejadian yang terjadi di kehidupannya.
Tiba-tiba, datanglah sebuah mobil yang tak asing bagi Ara.
Ya! Mobilnya Morgan.
Ara melihatnya dari ujung jalan sampai masuk ke area halaman rumahnya. Begitu pun Arash.
__ADS_1
Arash melirik ke arah Ara, “tuh ... orangnya dateng,” ucap Arash.
Ara hanya diam, tak bisa berkata apa pun.
Terlihat Morgan yang baru saja ke luar dari mobilnya, dengan membawa sesuatu di tangannya.
Morgan menghampiri ke dekat pintu mobil Arash, membuat Arash membuka kaca jendela mobilnya.
“Kenapa pulang?” tanya Morgan dengan nada yang dingin.
Ara hanya diam, sembari melihat ke arah bunga yang sedang ia pegang itu.
Melihat suasana yang romantis seperti ini, membuat Arash mengerti dengan yang Morgan maksudkan.
“Emm … gue cabut dulu ya, Bro. Ada meeting siang ini. Gue cuma gak sengaja ketemu Ara di kafe tadi,” ucap Arash.
Morgan mengangguk sembari menunjukkan telapak tangannya.
Ara menoleh ke arah Arash, kemudian langsung turun dari mobilnya.
“Hati-hati,” ucap Ara pada Arash, membuat Arash mengangguk.
Ara yang sudah tidak ingin menjadi canggung, langsung pergi meninggalkan Morgan di sana.
“Greppppp ....”
Morgan menahan lengan Ara, membuat Ara berhenti tepat di hadapannya.
“Ada apa?” tanya Ara dengan sendu, tanpa melihat ke arah Morgan.
Morgan menyodorkan seikat bunga ke arah Ara, membuat Ara menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
“Untuk kamu,” ucap Morgan masih dengan sikap yang dingin.
Ara menjadi kesal karenanya, dan memandangnya dengan tatapan sinis.
“Gak usah sok paling romantis, kalo loe gak bisa memperlakuin gue dengan benar!” bentak Ara kemudian berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Morgan.
__ADS_1
Namun, tangan Morgan kuat sekali, sehingga membuat Ara merasa kesakitan karena cengkeramannya.
Ara merintih sakit, sehingga membuat Morgan melonggarkan cengkeramannya dari tangan Ara.
Ara pun menghempaskan tangannya itu.
“Ish! Gak usah ngasarin gue gitu! Gue gak suka!” bentak Ara kemudian pergi dari sana.
Morgan melihat kepergian Ara dengan sendu.
‘Semuanya karena Gemi,’ batin Morgan yang kesal dengan kehadiran Gemi yang tidak tepat waktu.
Ara berlarian menuju kamarnya. Ara sengaja tidak menguncinya, agar Morgan bisa dengan mudah masuk untuk meminta maaf padanya. Hanya itu yang ia inginkan saat ini.
Mungkin beberapa dekapan dan kecupan kecil Morgan, mampu membuat Ara luluh kembali.
“Brukk ....”
Ara menghempaskan dirinya ke atas ranjang empuk berwarna Biru. Ara memejamkan matanya karena ia merasa, matanya sudah menjadi panas.
Ara tidak memiliki tenaga sedikit pun, dan perut Ara sudah terasa seperti terbakar perih.
Apa aku salah makan? Pikirnya yang berusaha mengingat.
Oh tidak! Aku telat makan! Aku mempunyai penyakit Magh yang sudah lama tidak kambuh lagi. Sekarang mungkin penyakit itu kambuh kembali setelah aku berusaha menjaga pola makanku, dan akhirnya sekarang aku harus merasakan sakit itu lagi, pikir Ara.
Ara memegang perutnya yang terasa panas, sembari memejamkan matanya. Air matanya bercucuran, tanpa bisa mengerintih, saking sakitnya perutnya membuat Ara kehilangan tenaganya.
Ara menunggu Morgan datang. Namun, sudah beberapa saat berlalu, Morgan tak kunjung datang juga ke kamar Ara.
Ara berusaha membuka matanya, “kemana sih Morgan? Kenapa dia gak romantis sih? Gak minta maaf dan nyamperin ke kamar!” teriak Ara sekuat tenaga yang tersisa.
Ara bingung dan penasaran dengan keadaan Morgan yang ada di luar sana.
Ara mungkin saja membentaknya terlalu keras tadi, sehingga membuat Morgan merasa tersakiti.
“Apa aku terlalu keras tadi?” lirih Ara bertanya-tanya.
__ADS_1
Ara yang penasaran langsung saja pergi mencari keberadaan Morgan.