
Ara menjerit histeris, membuat Ilham kebingungan sendiri dengan sikap Ara yang tidak terkendali itu.
"Kenapa sih semua harus terjadi sama aku? Kenapa?" teriak Ara dengan kondisi yang sudah sangat kacau.
Ilham tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa memberikannya sebuah pelukan hangat, yang bisa sedikit membantunya memberikan ketenangan.
"Kenapa?!" teriak Ara sembari memukul-mukul dada bidang Ilham, membuat Ilham berusaha untuk menahan rasa sesak di dadanya yang sangat terasa akibat pukulan Ara yang terlalu keras.
Ilham hanya bisa diam, tanpa berkata sedikit pun.
'Apa ada yang salah dengan laki-laki itu?' batin Ilham, yang masih belum mengerti dengan keadaan.
Ara masih saja memukuli dada bidang Ilham, membuat Ilham hampir saja tidak bisa menahan rasa sakit yang ia alami.
Pada akhirnya Ara pun lemas tak berdaya, dan akhirnya kehilangan kesadaran.
Ilham mendelik ke arahnya, "Ara!" pekik Ilham, namun Ara sudah kehilangan kesadarannya.
Ilham yang sudah bingung dengan keadaan Ara, segera menggendong Ara untuk menuju ke dalam mobilnya, untuk segera ia antarkan pulang ke rumahnya.
Morgan yang melihat kejadian itu, merasa sangat kesal dengan laki-laki bernama Ilham itu. Morgan memandang dirinya dengan penuh kebencian, sehingga membuat hatinya menjadi sakit sendiri karena perasaannya yang tertahan.
...***...
Saat ini, Arash sedang bersama dengan Fla di ruang tamu rumahnya. Hari sudah semakin larut, dan Ara pun belum kunjung pulang.
Arash hanya diam menatap ke arah televisi. Ia menonton televisi, namun pandangannya terasa sangat kosong. Hatinya sangat hampa saat ini. Permasalahan dirinya menyangkut perusahaannya yang hampir gulung tikar itu, sama sekali belum ia ceritakan pada Ara ataupun Fla, membuatnya menjadi tertekan, karena harus menahannya sendirian.
Fla menoleh ke arah Arash, dan mendapati Arash yang sedang melamun saja sembari memandangi televisi yang ada di hadapannya.
Fla mengerenyitkan dahinya, "Kakak kenapa?" tanya Fla, membuat Arash tersadar dari lamunannya.
Arash pun seketika menoleh ke arah Fla, "Hah? Kakak gak kenapa-napa, kok," jawab Arash, dengan nada yang sedikit ragu, membuat Fla menjadi penasaran dengan yang terjadi dengan kekasihnya itu.
__ADS_1
Fla meletakkan tangannya di pipi kiri Arash, "Ada apa? Cerita aja," gumam Fla dengan nada yang sangat lembut, membuat pupil mata Arash melebar mendengarnya.
Ucapan Fla yang sangat lembut, ternyata mampu menyentuh kalbu Arash.
Arash menunduk sendu, "Ya, Kakak sedang tidak baik-baik saja saat ini," gumam Arash, membuat Fla memandangnya dengan sendu.
Fla sesekali mengusap lembut pipi Arash yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, dengan jemarinya. Entah kenapa, Fla selalu merasakan setiap permasalahan yang Arash rasakan. Seperti ada kontak batin antara dirinya dengan Arash.
"Kenapa, Kak? Siapa tahu, aku bisa dengerin Kakak," ucap Fla, membuat Arash memegangi kedua tangan Fla, yang berada di pipinya.
Fla masih saja malu dengan perlakuan manis Arash padanya. Padahal, mereka sudah menjalin hubungan yang resmi. Namun, rasanya masih saja seperti saat Fla mengejar cinta Arash waktu itu.
"Cukup ada kamu di sisi Kakak, masalah itu gak akan jadi berarti, kok," gumam Arash, yang membuat Fla tersenyum manis padanya.
"Gombal," gumam Fla, membuat Arash tersenyum tipis.
Walaupun Arash selalu melontarkan kata-kata manis padanya, tapi perasaan Arash saat ini sedang mengalami kehampaan. Ia sampai bingung, bagaimana harus bersikap dengan dirinya sendiri.
"Kenapa?" tanya Fla dengan lembut, membuat hati Arash seketika meleleh karena mendengar ucapannya yang selalu lembut di telinga Arash.
Arash menghela napasnya, "Apa kamu sayang sama Kakak?" tanya Arash, membuat Fla mengerenyitkan dahinya.
"Kenapa Kakak nanyanya begitu?" tanya Fla kembali, membuat Arash tak henti-hentinya menghela napas.
"Jawab aja," pinta Arash, membuat Fla tersenyum hangat padanya.
"Sayang, banget," gumam Fla, membuat hati Arash sedikit tenang mendengarnya.
"Apa ... ada rencana untuk menikah sama Kakak?" tanya Arash, seketika membuat Fla mendelik kaget mendengarnya.
Fla tidak bisa berkata-kata lagi, mendengar perkataan Arash yang menurutnya sudah sangat serius itu.
Fla menghela napasnya panjang, "Aku ... masih belum tahu," jawab Fla dengan nada yang sangat bingung, membuat keraguan di hati Arash menjadi seketika bermunculan.
__ADS_1
Dengan keadaan Arash yang sudah sangat terpuruk ini, membuat dirinya sangat mudah terkena mental lagi. Mendengar jawaban Fla yang seperti itu, sangat membuat Arash menjadi bertambah terpuruk.
Hatinya sudah lelah menghadapi pekerjaan, ditambah harus mendengar jawaban Fla yang sepertinya membuat Arash semakin terpuruk saja.
"Jadi, kamu gak benar-benar sayang sama Kakak? Kamu cuma mau main-main aja sama hubungan ini?" tanya Arash, membuat Fla mendelik tak percaya dengan apa yang Arash katakan padanya.
"Bu-bukan begitu maksudnya," tepis Fla, membuat Arash melepaskan kedua tangannya dari tangan Fla.
Fla mendelik bingung dengan ucapan Arash, yang sepertinya mengandung nada kecewa yang teramat dalam. Permasalahannya, Fla sendiri tidak mengetahui, jalan kehidupannya setelah ini harus seperti apa.
"Memangnya, Kakak sangat serius sama aku?" tanya Fla, membuat Arash menafikan pandangannya.
"Kakak sadar diri," gumam Arash, membuat Fla sangat sedih mendengarnya.
"Lho, Kakak kenapa ngomong begitu?" tanya Fla dengan sangat sendu, membuat Arash menunduk, tak ingin Fla melihat dirinya yang sedang menahan air matanya untuk tidak keluar dari pelupuk matanya.
"Kondisi keuangan Kakak yang gak memungkinkan. Perusahaan hampir bangkrut, karena mega proyek yang gagal sebelum masa kontrak. Padahal, semua itu sudah Kakak persiapin matang-matang. Hasilnya? Nihil," gumam Arash, yang sudah mulai terbuka dengan Fla, membuat Fla kaget, dan seketika mendelik karenanya.
'Jadi ini yang membuat Arash terganggu?' batin Fla yang mulai paham dengan permasalahan yang sedang Arash hadapi saat ini.
Fla memeluk lembut Arash, berusaha menyalurkan energi positif pada Arash.
"Aku akan selalu nunggu Kakak. Aku berdiri di belakang Kakak, untuk selalu dukung Kakak. Aku janji, gak akan ninggalin Kakak, seburuk apa pun keadaan Kakak nantinya," gumam Fla, yang membuat Arash menjadi terpacu kembali.
Arash tersenyum tipis mendengarnya, "Terima kasih, Fla," gumam Arash, membuat Fla tersenyum dan mengangguk mendengarnya.
Keterpurukan Arash, hampir saja membuat dirinya kehilangan akal sehatnya. Beruntung Fla sangat dewasa dalam menyikapi permasalahan seperti ini. Meskipun Fla pernah dididik seperti anak bungsu, tetapi hal itu tidak membuatnya kekanak-kanakan, seperti halnya Ara dalam menyikapi segala sesuatunya.
Ara dan Fla, bagaikan langit dan bumi.
Arash merenggangkan pelukan Fla, dan tanpa basa-basi segera mendaratkan kecupan mesranya di bibir Fla, membuat Fla menerimanya dengan senang hati.
Mereka saling menumpahkan perasaan, hingga Arash merasa begitu sangat mencintai Fla.
__ADS_1