Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Fitnah Lucknut 2


__ADS_3

Ara sampai terkesima mendengar ucapan Morgan itu. Morgan memeluk Ara dari arah belakangnya.


Ara merasa aneh dengan sikapnya yang mendadak dingin, kemudian berubah menjadi hangat kembali.


Ara berusaha menoleh ke arah Morgan yang sedang memeluknya dari arah belakang, tapi Ara tidak bisa melihatnya dengan sempurna.


Ara merasa agak risih, karena Morgan yang sembarang memeluknya di area kampus seperti ini. Ia berusaha melepaskan diri dari Morgan, namun Morgan sengaja mempererat pelukannya, membuat Ara tidak bisa lagi berbuat apa pun.


“Kenapa sih? Kok aku disuruh ke ruangan kamu?” tanya Ara bingung.


Morgan hanya diam, dengan keadaan yang masih saja memeluk Ara dengan erat.


‘Kan … dia begitu lagi,’ batin Ara yang merasa sedikit kesal karena Morgan yang masih belum bisa sepenuhnya menghilangkan sikap dinginnya itu.


“Tinggg ....”


Lift sudah sampai pada lantai tujuan. Morgan dengan segera melepaskan pelukannya itu, dan berjalan di hadapan Ara.


Rupanya, Morgan juga tidak mau sampai orang lain mengetahui hubungan dirinya dan juga Ara.


Mereka pun tiba di ruangan Morgan.


Ara berjalan ke arah ruangan Morgan, dan tak sengaja melihat Dicky yang sedang duduk di kursi, yang berada di hadapan kursi Morgan.


Ara hanya memandang sinis dirinya. Morgan duduk di hadapan Dicky, yang sedang asyik bermain game online.


Ara duduk di sebelah Dicky, sehingga membuyarkan konsentrasinya dalam bermain game.


Dicky menoleh ke arah Ara, “eh ... ada tamu. Duduk,” ucap Dicky.


Ara memandangnya sejenak dengan tatapan sinis, kemudian Ara menghempaskan tasnya di atas meja yang ada di kursi sebelah Dicky.


“Kenapa si, ada Pak Dicky lagi?” ucap Ara dengan nada yang sangat kesal.


Dicky memandang Ara dengan tatapan bingung, karena memang Dicky sangat bingung dengan Ara yang tiba-tiba saja ketus .


Dicky menggeleng, lalu melihat ke arah ponselnya, “lho, kenapa dengan saya?” tanya Dicky asal, namun fokusnya masih tetap kepada ponselnya.

__ADS_1


Ara mendengus kesal karena mendengar Dicky yang tidak merasa bersalah, setelah kejadian di koridor tadi.


‘Gara-gara dia tadi, jadi bikin gue malu,’ batin Ara.


“Coba kamu jelasin,” ucap Morgan, yang tiba-tiba mengalihkan perhatian Ara.


Ara mendadak menjadi linglung, setelah mendengar ucapan Morgan.


“Jelasin apanya?” tanya Ara yang tak mengerti dengan ucapan Morgan, yang secara tiba-tiba hingga membuat Ara terkejut.


Morgan menatap Ara dengan pandangan yang dingin.


“Jangan malah bertanya balik. Coba berpikir, kejadian apa yang baru saja terjadi antara kamu dan orang yang tidak kamu kenal,” ucap Morgan, membuat Ara semakin berpikir dengan kejadian yang Morgan maksudkan.


Ara mengerenyitkan dahinya, “Kejadian apa sih?” tanya Ara dengan sinis, saking ia tidak mengerti dengan pertanyaan Morgan.


“Kejadian di koridor tadi,” jawab Morgan dengan tatapan yang seakan mengatakan kecemburuannya pada Ara.


Ara akhirnya tahu, kenapa sikapnya aneh sejak tadi.


Ara menepuk keras keningnya, dan berusaha membuat Morgan percaya padanya.


Ara langsung teringat sesuatu.


Ara pun langsung menoleh ke arah Dicky.


“Pak, maksudnya apa sih ngadu begitu ke Morgan? Bapak seneng, nyebarin fitnah dan isu gak jelas begitu?” tanya Ara dengan sinis, membuat Dicky nampak terkejut dengan ucapan Ara yang sedang menyalahkan dirinya.


“Lho, saya nggak tahu apa-apa tentang itu. Saya memang tahu dan ada di lokasi kejadian, tapi saya nggak ngomong apa-apa kok ke Morgan,” sanggah Dicky.


Ara merasa sangat bersalah, karena sudah menyalakannya secara sepihak. Ara hanya tidak ingin Morgan sampai salah paham dengan dirinya.


Ara menoleh ke arah Morgan, yang sedang menyedekapkan tangannya di dadanya.


Ara menoleh ke arah Dicky kembali, “kalau bukan dari pak Dicky, terus Morgan tau dari mana soal kejadian saya di koridor?” tanya Ara, yang masih bersikeras, karena hanya ada Dicky di sana, pada saat kejadian.


Dicky tersenyum jahil, “ya mana saya tahu?” sanggahnya, Dicky mendekatkan wajahnya ke arah Ara, “lagian ya, ngapain kamu harus takut sama Morgan? Emang Morgan siapanya kamu? Itu kan cuma salah paham aja,” ucap Dicky yang membidik ke dalam inti permasalahan.

__ADS_1


Ara mendelik, karena bidikkan Dicky yang membuatnya tidak bisa berbicara, hanya menunduk takut kalau saja Dicky mengetahui tentang hubungannya dengan Morgan.


‘Aduh ... itu kenapa sih Pak Dicky nanya begitu? Bikin gue nggak bisa jawab aja! Gue harus gimana nih sekarang?' batin Ara yang bingung, khawatir Dicky mengetahui hubungan Ara dengan Morgan.


“Salah paham gimana?” sambar Morgan, membuat Ara bisa bernapas dengan lega.


‘Untung Morgan motong pembicaraan,’ batin Ara, yang sudah merasa tertolong dengan pembicaraan Morgan.


Dicky mendelik, “ya salah paham! Ceritanya gue nabrak Ara, dan dia ditolongin sama orang lain supaya dia nggak jatuh. Mungkin orang yang ngasih tahu informasi ini ke loe, cuma dengar candaan gue aja kali yang terakhir kali gue ngomong ke Ara,” jelas Dicky, membuat Morgan mengernyitkan dahinya.


“Candaan yang terakhir kali gimana, yang loe omongin ke Ara?” tanya Morgan lagi, dengan nada yang lebih serius daripada sebelumnya.


“Ya gue tadi bercanda. Gue sih niatnya pengen ngejailin aja. Gue bilang aja kayak begini ‘di kampus ini di larang mesum.’ Nah … mungkin orang itu cuma denger terakhirnya aja kali. Jadi, dia kira memang Ara beneran berbuat mesum di kampus,” jelas Dicky dengan lebih spesifik lagi.


Ara menyipitkan matanya ke arah Dicky.


“Harusnya bapak kalau mau bercanda tuh liat sikon! Saya gak mau ya, kejadian semacam ini terulang lagi!” bentak Ara dengan geram.


Dicky terlihat hanya cengengesan dan berusaha mencairkan suasana.


“Hehe ... maaf ya. Habisan, kalian berdua tadi romantis banget sih. Udah kayak di film-film gitu deh ...,” Dicky mulai mengoceh yang tidak-tidak.


Ara melihat ke arah Morgan yang sepertinya sedang menahan emosi, akibat mendengar perkataan Dicky yang tidak-tidak.


“Pake segala dirangkul gitu lagi ... ah pokoknya ... so sweet banget dah,” jelas Dicky yang masih nyaman dengan dramanya itu.


Menyadari tidak ada tanggapan yang Morgan lontarkan, membuat Dicky menghentikan ucapannya.


Dicky kemudian melihat ke arah Morgan, yang sudah siap untuk memukulnya dengan memegang tongkat base ball di tangannya.


Dicky seketika berubah sikap menjadi takut, ketika Morgan memainkan tongkat base ball di tangannya.


Dicky mendelik, “eh Gan, maksudnya apa nih?” tanya Dicky yang sudah mulai takut, sembari bangkit dari tempat duduknya.


Morgan memandangnya sinis, “udah kelar bicaranya?” tanya Morgan dengan tetap memainkan tongkat itu.


Dicky pun perlahan mundur dari posisinya.

__ADS_1


“Peace!” Dicky menunjukkan ke dua tangannya membentuk lambang peace, kemudian ia langsung lari ke luar ruangan Morgan.


__ADS_2