
Ucapan Ara terhenti, karena yang ada di hadapannya bukanlah suaminya, melainkan Morgan.
Ya! Morgan yang sudah mengintai Ara sejak pagi tadi, karena ia sudah lama tidak melihat Arasha.
“Morgan!” pekik Ara terkejut dengan keberadaan Morgan yang ada di hadapannya.
“Apa kabar, Arasha?” tanya Morgan yang semakin lama semakin mendekati Ara saja, membuat Ara menjadi takut dibuatnya.
“Heh, mau apa loe? Jangan ke sini!” bentak Ara, tetapi tidak membuat Morgan gentar karenanya.
Morgan duduk di pinggir ranjang, dan memandang ke arah perut Ara yang sudah terlihat sangat membuncit, membuat Ara bertambah takut karenanya.
Morgan kembali memandang ke arah Ara, “Sekian lama tidak bertemu, ternyata kamu sedang hamil?” tanya Morgan, membuat Ara memandangnya dengan sangat tajam.
“Jangan macam-macam loe!” ancam Ara, tetapi tak dihiraukan oleh Morgan.
Ara memandangnya dengan sangat sinis, membuat Morgan menatapnya dengan sendu.
“Saya rindu kamu, Ra. Beberapa bulan ini saya berusaha untuk melupakan kamu dalam hidup saya, tapi gak bisa,” ujar Morgan, membuat Ara sedikit banyaknya tersentuh karena ucapannya itu.
“Gak bisa gitu, dong! Gue ini udah nikah, Gan! Gak bisa loe terus menyimpan perasaan buat gue!” bentak Ara, membuat Morgan mendekat ke arah wajahnya.
“Saya meragukan anak yang ada di dalam kandungan kamu. Apa ... itu bukan anak Ilham, melainkan anak saya?” tanya Morgan membuat Ara mendelik kaget karena ucapannya.
“Plakk!!”
Ilham yang baru saja datang, tiba-tiba mendengar percakapan mereka dari luar kamar, membuat dirinya sejenak menghentikan langkahnya dan mendengar lebih banyak percakapan yang tidak ia ketahui itu.
Ara menunjuk kasar ke arah Morgan, yang masih terfokus dengan wajahnya yang baru saja Ara tampar tadi.
"Jangan sembarangan bicara ya, Gan! Kalau loe gak tahu kebenarannya, loe gak usah ikut campur sama urusan rumah tangga gue!" bentak Ara, membuat Morgan memandangnya dengan sangat sinis.
"Memangnya, kamu pernah nerima Ilham dengan cinta?" tanya Morgan, semakin tidak dimengerti oleh Ara.
__ADS_1
"Gue cinta sama Ilham. Lantas kenapa? Kenapa loe meragukan setiap apa yang gue ucapin? Apa loe masih gak terima dengan semuanya, kalau gue udah jadi milik Ilham seutuhnya?" sinis Ara, membuat Morgan memandang dengan datar.
"Sudahlah Arasha, jangan terus berputar-putar seperti ini. Saya tahu, kamu masih belum bisa melupakan saya, kan? Kenapa kamu malah menikah dengan Ilham? Harusnya kamu tunggu saya kembali," ucap Morgan, membuat Ara mendelik.
"Kalau gue masih belum bisa lupa sama loe, memangnya kenapa? Kalaupun iya, gue juga gak akan melepas Ilham, cuma buat cowok brengsek kayak loe!" bentak Ara, membuat Morgan semakin menatapnya dengan sinis.
"Sebegitu cintanya kamu sama Ilham, dibandingkan dengan saya?" lirih Morgan, membuat Ara tak habis pikir dengan ucapan Morgan yang sangat asal baginya.
"Gue juga pernah cinta sama loe, sama seperti gue mencintai Ilham saat ini. Tapi gak nyangka, loe bahkan ninggalin gue, cuma karena masalah yang belum jelas. Loe pergi dan merebut kebahagiaan gue saat itu. Terus sekarang, loe tiba-tiba datang dan mau rebut kebahagiaan gue lagi?" ujar Ara, membuat Morgan dan Ilham terdiam mendengarnya.
Ara mendelik, "Gan, tau gak? Yang nyembuhin luka gue itu Ilham! Yang ada saat gue sakit itu dia, yang selalu kasih semangat gue juga dia. Loe apa? Cuma bisa kasih luka terdalam yang bahkan sampai saat ini belum sembuh! Loe masih waras gak sih, Gan?" bentak Ara, membuat Ilham tersentuh mendengarnya.
Walaupun berat bagi Ilham yang mendengar percakapan mereka dari luar, tetapi ia juga ingin mendengar lebih banyak mengenai perasaan Ara yang sebenarnya.
Air mata Ara berlinang seketika, tak kuasa menahan emosi yang meledak akibat kehadiran Morgan.
Morgan menatap sendu Ara yang menangis, membuatnya merasa tidak tega dengannya.
"Stop!" potong Ara yang berusaha agar Morgan tidak menyentuhnya, "jangan sentuh gue!" bentak Ara, membuat Ilham mendelik kaget mendengarnya.
Dengan sangat kesal mendengar Morgan yang ingin menyentuh Ara, Ilham dengan emosi yang ia miliki, segera menerobos pintu kamar mereka.
"Brakk!!"
Morgan dan Ara terkejut mendengar suara pintu yang terbuka. Terlihat Ilham yang sangat dipenuhi amarah, yang tiba-tiba menarik kerah kemeja Morgan dengan kasar.
"Ikut saya!" ujar Ilham, sembari menarik kasar Morgan.
Ara melihat dengan kaget pemandangan yang ada, membuat dirinya merasa resah.
"Ilham!" pekik Ara, tetapi Ilham sama sekali tidak memedulikan Ara, dan hanya berfokus pada Morgan saja.
Ia membawa Morgan keluar dari rumahnya, karena dirinya yang sangat marah mendengar Morgan menyentuh Ara seperti tadi. Ilham tidak mempermasalahkan hal lain, yang ia permasalahkan adalah kontak fisik Morgan dan Ara.
__ADS_1
Ilham melempar Morgan dengan kasar, membuat Morgan berhasil terusir dari dalam rumahnya.
"Pergi kamu dari sini!" bentak Ilham, membuat Morgan terdiam sesaat.
Morgan memandangnya dengan sengit, membuat Ilham tersenyum formalitas menatap Morgan.
Dengan berat hati, Morgan pun pergi dari sana, meninggalkan Ilham yang kini berdiri di depan pintu.
Sedikit banyaknya, Ilham sangat kesal dengan ucapan Morgan yang meragukan kalau yang ada di dalam kandungan Ara adalah anaknya. Ilham tak habis pikir, kenapa permasalahan dalam hidup mereka, tidak ada habisnya?
'Apa ... saya harus kasih tahu yang sebenarnya ke Morgan?' batin Ilham, yang masih menjaga rapat-rapat tentang alasan pernikahan dirinya dan juga Ara.
Ilham menjadi sangat dilema. Ia kesal, sampai tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa mengusap kasar wajahnya, dengan pikiran yang sangat berantakan saat ini.
Ilham kembali ke ruangan kamarnya, dan melihat Ara yang sedang duduk di atas ranjang, sembari memandang sendu ke arahnya. Ilham pun menghampiri Ara, dan langsung membaringkan miring tubuhnya, membelakangi Ara. Saat ini, Ilham benar-benar tidak mood dengan keadaan.
Melihat sikap Ilham yang berubah, Ara pun tercengang tetapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Kamu marah sama aku?" tanya Ara dengan sendu, membuat Ilham tak kuasa mendengarnya.
Ilham hanya diam, tak ingin mengatakan apa-apa. Hal itu membuat Ara semakin sesak melihatnya.
"Maafin aku," gumam Ara sendu, hingga air matanya keluar dari pelupuk matanya.
Ilham tidak marah dengannya. Ia hanya tidak mood, mendengar ucapan Morgan yang asal seperti tadi. Ilham yang masih sangat kesal, memilih untuk diam dan tak menjawab pertanyaan Ara.
"Sayang ...," panggil Ara dengan sendu, tetapi tak mengubah ketetapan hati Ilham yang sudah terlanjur sakit mendengar penuturan Morgan tadi.
"Saya capek. Mau tidur," ucap Ilham, membuat tangis Ara pecah mendengarnya.
Ara hanya bisa memandangi Ilham dari belakang, tanpa bisa berbuat apa-apa pada Ilham yang sedang marah.
...***...
__ADS_1